Cukup

Kadang kala kita selalu merasa kurang, merasa apa yang dimiliki tidaklah cukup, maka kita terus menerus mencari sehingga mendapat kepuasan. Kita terus mau mencari apa yang membuat kita senang dan bahagia, tapi merasa lelah karena tidak mencapai titik kepuasan itu. Tidak ada kata selesai dan ‘cukup’ karena semua keinginan selalu berubah. Kita sulit merasa puas dengan satu hal yang sudah dimiliki atau dicapai. Dalam arti kata lain, kita sulit bersyukur dengan apa yang sudah ada.

Umat Israel dalam Bacaan Pertama, Rabu 23 Juli 2020 (Yer 2:1-3,7-8,12-13) digambarkan seperti itu. Allah sudah mendampingi dan menemani sehingga sampai di tanah yang dijanjikan-Nya, tetapi orang-orang Israel bukan bersyukur tapi menyalahgunakan apa yang Tuhan Allah berikan. Mereka kurang bersyukur dan melupakan kebaikan yang Tuhan lakukan kepada mereka. Cocok pepatah yang mengatakan “habis manis sepah dibuang.” Kadang kita hanya mau enaknya, tidak mau sulit, hanya mau zona nyaman. Ketika ada kesulitan dan merasa ini tidak sesuai dengan yang kita mau, kita mulai mencari cara lain untuk memuaskan diri. Kita tidak bisa mengatakan ‘cukup’ karena tidak bisa ‘bersyukur’ dengan apa yang dimiliki. Kita tidak bisa ‘puas’ karena tidak melihat diri sendiri tetapi selalu melihat sesuatu yang di luar diri.

Hari ini sebenarnya kita diajak bersyukur dengan apa yang kita miliki, dengan apa yang kita alami. Terkadang kita lupa bahwa hidup yang dijalani ini adalah sebuah rahmat yang Allah berikan. Memang kita berusaha mencukupinya, tetapi Allah di sisi lain, yang memberikan secara cuma-cuma. Kitalah yang terkadang lupa bahwa hidup ini adalah anugerah kasih. Kalau Allah sudah memberikan yang terbaik, sekarang tinggal bagaimana kita mensyukuri dan memaknai hidup serta mampu mengatakan ‘cukup’ untuk semua yang ada. Terus bersyukur!

FRAY. EL. OP

Tinggalkan Pesan