Soegita 9
Uskup Agung Semarang bersama para imam dan keluarga besar menyanyikan lagu nDrek Dewi Maria sebelum peni jenazah Pastor Michael Soegita Pr ditutup dan dimakamkan (PEN@ Katolik/pcp/screenshot Youtube Komsos KAS)

“Ketika saya masih bertugas di Seminari Tinggi Kentungan. Pagi-pagi, saya didatangi oleh Romo Michael Soegita untuk minta pelayanan pengakuan dosa. Dalam keraguan dan setengah kaget saya mencoba meyakinkan diri dan bertanya ‘Betulkah Romo mau melakukan pengakuan dosa melalui saya?’ Imam itu dengan mantap menjawab ‘Iya, Romo.’ Saya kaget. Meskipun dia pribadi yang sangat senior yang saya hormati, namun dia berkenan datang kepada saya yang masih muda untuk menerima pelayanan Sakramen Pengakuan Dosa. Ini luar biasa mengesankan.”

Uskup Keuskupan Agung Semarang (KAS) Mgr Robertus Rubiyatmoko memberi kesaksian itu dalam Misa Requiem dan Pemberkatan Jenazah Pastor Michael Soegita Pr di Rumah Duka Ruang Michael RS Panti Rapih, 19 Juli 2020. Pastor Michael Soegita Pr yang lahir 19 September 1932 dan meninggal dunia di Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta, 18 Juli 2020, pukul 16.30 WIB, dimakamkan setelah Misa Requeim itu di Kompleks Makam Para Imam Diosesan KAS di Seminari Tinggi Santo Paulus Yogyakarta.

Dan ternyata, kata Mgr Rubi, kebiasaan mengaku dosa sudah merupakan kebiasaan Pastor Michael Soegita sejak kecil. “Ketika hidup bersama di Paroki Pugeran tahun 1995, beberapa bulan sekali dia juga meminta kepada Romo Willem Pau Pr yang masih sangat muda untuk mengaku dosa, padahal dia sudah sangat senior. Itu suatu yang sangat luar biasa. Dan, itu terulang lagi ketika kedua imam itu bertemu di Paroki Bintaran.”

Mgr Rubi juga mencatat, upaya menyucikan diri diwujudkan oleh almarhum dalam doa-doa harian yang tak kunjung berhenti. “Dari waktu ke waktu dia rajin berdoa. Bahkan ketika sudah tidak mampu membaca sendiri, dia minta tolong romo lain membacakan doa brevir setiap pagi dan sore, dan dia mengikutinya dengan penuh kesungguhan,” kata uskup.

Cara lain untuk mengupayakan kesucian hidupnya juga lewat devosi tak kunjung berhenti kepada Kerahiman Ilahi dan kepada Santa Brigita untuk mendoakan jiwa-jiwa di Api Pencucian. “Hasil olah rohani yang tekun dan serius ini telah membentuknya menjadi pribadi yang prasojo (sederhana). Sampai kematiannya romo kita ini adalah pribadi yang sangat sederhana, sangat sederhana, tidak aneh-aneh, tidak neko-neko, pribadi yang sumeleh (saleh), tidak banyak menuntut dan mengeluh,” lanjut Mgr Rubi.

Bahkan menurut Mgr Rubi, selama sakit imam itu “lebih banyak menikmatinya dan pasrah kepada kehendak Allah,” tekun menghadapi situasi di kamar sambil berdiam diri dengan tenang.” Melihat ketenangan hatinya, Mgr Rubi mengatakan, “dia siap menghadap Tuhan setiap waktu, karena dia sudah mempersiapkan diri sepenuhnya dengan sebaik mungkin.”

Karena usia lanjut, mulai 17 Januari 2017, Pastor Michael Soegita (Romo Gito) bergabung sebagai warga baru Domus Pacis (Rumah Damai) di Puren, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Di rumah itu ini sedang dikembangkan pastoral ketuaan. “Tua tak mungkin terlambat datangnya, namun renta bisa ditunda hadirnya”

Ketika jarum jam melewati angka 15.30 tanggal 18 Juli, tulis blogspot Domus Pacis Puren itu, Mbak Tri, Mas Abas, Mas Siswanto, dan Mas Hari datang di kamar Pastor Bambang. “Rama, nadhinipun Rama Gito mboten wonten dhetakipun. Pancen taksih anget lan driji taksih obah-obah. Nanging napas sampun mboten wonten” (Rama, nadi Rama Gito sudah tak ada detaknya. Memang masih hangat dan jari bergerak-gerak. Tetapi nafas sudah tidak ada), kata Mbak Tri. Mereka adalah tenaga-tenaga Domus Pacis. Pastor Bambang langsung berkata ‘Diundang ke ambulans Panti Rapih’ (Panggilkan ambulans dari Panti Rapih) dan Mas Abas berkata ‘Pun kula telponke’ (Saya sudah menelpon). Pastor Bambang pun pergi ke kamar Pastor Gito dan beliau memang sudah tampak menghadap Tuhan.

Para karyawan tidak mengira Pastor Michael Soegita akan wafat hari itu karena sekitar pukul 12.00 hari itu home care RS Panti Rapih datang mengontrol kesehatan para imam di Domus Pacis dan tensi dan gula darah Pastor Michael Soegita bagus. Hari itu, perawat home care mengganti sonde untuk alat bantu memasukkan asupan.

Setelah mendengar ucapan terima kasih dari keluarga dan Unio KAS dan sebelum peti jenazah imam “teladan” itu ditutup dan dibawa ke pemakaman, wakil-wakil para imam bersama keluarga menyanyikan lagu “nDrek Dewi Maria”.

Pastor Michael Soegita yang lahir di Suralangon, Jambi, 19 September 1932, sebagai putra kedelapan dari pasangan Yusup Sukarjan Mangkuwijana dan Maria Sukirah, menerima Sakramen Baptis 15 September 1955 di Gereja Antonius Muntilan. Setelah menyelesaikan Sekolah Rakyat di Klaten (1944), SMP di Bruderan FIC Boro (1950), SMA Johanes de Britto (1953), dia masuk seminari jalur KPA tahun 1954, dan ditahbiskan imam dari tangan Mgr Justinus Darmojuwono di Gereja Maria Regina Purbowardayan Solo, 2 Juli 1965, dengan semboyan “Omnia possum in Eo qui me comfortat” (aku mampu melaksanakan segala sesuatu di dalam Dia).

Sebagai imam, Pastor Michael Soegita Pr pernah berkarya di Paroki Boro (1965-1969 sebagai kapelan), Paroki Promasan (1969-1974), Paroki Wates (1974-1976), Paroki Boro (1976-1978), Paroki Klaten (1979-1985), Paroki Delanggu (1985-1993), Paroki Kalasan (1993-1995), Paroki Pugeran (1995-2004), dan Paroki Bintaran (2004-2016).

Pastor Michael Soegita sudah berkarya di sembilan paroki, dan semua itu “dijalani dengan penuh kesungguhan, ketekunan dan keseriusan,” tegas Mgr Robertus Rubiyatmoko. (PEN@ Katolik/paul c pati/aop)

Soegita 2
Ist
Soegita 5
Ist

Soegita 13

Pemberkatan. (PEN@ Katolik/pcp/screenshot video Youtube dari Komsos KAS)
Pemberkatan. (PEN@ Katolik/pcp/screenshot video Youtube dari Komsos KAS)
Suasana Misa requiem (PEN@ Katolik/pcp/screenshot Youtube Komsos KAS)
Suasana Misa requiem (PEN@ Katolik/pcp/screenshot Youtube Komsos KAS)

Tinggalkan Pesan