Paus Fransiskus rayakan Misa untuk memperingati ulang tahun ke-7 kunjungannya ke Pulau Lampedusa Italia (Media Vatikan)
Paus Fransiskus rayakan Misa untuk memperingati ulang tahun ke-7 kunjungannya ke Pulau Lampedusa Italia (Media Vatikan)

Paus Fransiskus mendesak umat Kristen untuk menemukan wajah Yesus pada kaum migran, pengungsi dan orang-orang yang dipindahkan yang terpaksa mengungsi karena masih banyak ketidakadilan menimpa dunia kita saat ini.

Ketika merayakan Misa di kapel Casa Santa Marta, Vatikan, 8 Juli 2020, untuk memperingati ulang tahun ke-7 kunjungannya kepada kaum migran di Pulau Lampedusa, Italia, Paus mengingat kata-kata Yesus, “Segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.”

Kunjungan Paus 8 Juli 2013 ke pulau di Laut Mediterania itu adalah kunjungan pertama di masa kepausannya setelah terpilih 13 Maret di tahun yang sama. Dalam kunjungan itu, Paus melemparkan karangan bunga di laut untuk mengenang sekitar 20.000 orang migran yang meninggal saat mencoba menyeberangi Laut Mediterania. Paus bertemu sebentar dan berbicara dengan beberapa kaum migran muda Afrika sebelum merayakan Misa di udara terbuka.

Kunjungan itu sangat simbolis bagi kepausan Paus asal Argentina itu. Paus itu ingin agar Gereja menjadi inklusif, yang datang ke pinggiran, guna mencakup semua orang tanpa meninggalkan seorang pun.

Memperhatikan bahwa mazmur hari itu berbicara tentang mencari wajah Tuhan, Paus mengatakan sikap mendasar ini adalah tujuan akhir dari semua umat beriman.

Dalam hal ini, Nabi Hosea dalam bacaan pertama, berbicara tentang orang-orang Israel yang menjauh dari Tuhan karena kelimpahan, kemakmuran dan kekayaan yang mengisi hati mereka dengan kepalsuan dan ketidakadilan. “Kita pun, orang Kristen modern, tidak kebal akan dosa itu,” kata Paus.

Mengingat homilinya 7 tahun lalu di Lampedusa, Paus mengatakan “budaya kenyamanan, membuat kita hanya memikirkan diri sendiri, membuat kita tidak peka terhadap tangisan orang lain.” Ini menciptakan ilusi singkat dan kosong, yang mengarah kepada ketidakpedulian terhadap orang lain, bahkan globalisasi ketidakpedulian. “Kami sudah terbiasa dengan penderitaan orang lain: tidak ada pengaruh untuk saya; itu tidak mempengaruhi saya; itu bukan urusanku!” kata Paus.

Mencari wajah Tuhan, kata Bapa Suci, mengisyaratkan keinginan untuk perjumpaan pribadi dengan Tuhan, sama seperti yang terjadi dengan kedua belas rasul, sebagaimana diceritakan dalam Injil hari itu. Perjumpaan pribadi dengan Tuhan, yang merupakan masa rahmat dan keselamatan, jelas Paus, “segera memerlukan misi” – untuk mewartakan bahwa “kerajaan surga sudah dekat.” Paus menegaskan, “Perjumpaan dengan misi tidak bisa dipisahkan.”

Misi ini, kata Paus, juga untuk para murid milenium ketiga. “Saat kita berupaya mencari wajah Tuhan, kita dapat mengenali-Nya di wajah orang miskin, orang sakit, orang yang ditinggalkan, dan orang-orang asing yang Allah tempatkan di jalan kita.”

Mengingat kata-kata Yesus, “apa pun yang kamu lakukan untuk salah satu dari saudara saya yang paling hina ini, kamu lakukan untuk saya,” Paus mengatakan, “perjumpaan dengan orang lain adalah juga perjumpaan dengan Kristus.” Paus menjelaskan, “Dialah yang mengetuk pintu kita, yang lapar, yang haus, yang telanjang, yang sakit, para tahanan, yang berupaya berjumpa dengan kita dan meminta bantuan kita.”

Paus mendesak umat Kristen untuk menggunakan kata-kata Yesus itu sebagai elemen mendasar untuk memeriksa suara hati kita setiap hari. Dalam hal ini, Paus memikirkan tentang pusat-pusat penahanan kaum migran di Libya, “pelanggaran dan kekerasan yang dialami para migran, perjalanan harapan, operasi penyelamatan, dan penahanan.”

Bapa Suci mengenang pertemuan dengan seorang migran dalam kunjungannya ke Lampedusa. Orang itu menceritakan panjang lebar tentang ‘hal-hal buruk’ yang mereka derita untuk sampai di sana, tetapi penerjemahnya sangat singkat. Ketika Paus kembali ke rumah sore itu, resepsionis wanita, seorang putri dari orang tua warga Ethiopia yang mengikuti percakapan itu di televisi itu mengatakan, penerjemah orang Ethiopia itu bahkan tidak menyampaikan seperempat dari penyiksaan dan penderitaan yang dialami kaum migran. Apa yang diterjemahkan, kata Paus, adalah versi “yang sudah disaring” dari kisah nyata.

Itulah yang terjadi dengan Libya hari ini, kata Bapa Suci. “Mereka memberi versi “yang sudah disaring” kepada kita. Kita tahu perang itu buruk, tetapi kalian tak bisa membayangkan neraka yang mereka lalui di kamp-kamp tahanan itu.” Paus mengatakan, “orang-orang ini hanya berbekal harapan dan menyeberangi lautan.”

Paus mendesak Perawan Maria, “Penghiburan Para Migran” untuk membantu orang-orang Kristen “menemukan wajah Putranya dalam semua saudara dan saudari kita yang terpaksa mengungsi dari tanah air mereka karena banyaknya ketidakadilan yang masih menimpa dunia kita saat ini.”(PEN@ Katolik/paul c pati berdasarkan Vatican News)

Tinggalkan Pesan