Paus Fransiskus berdoa di Tugu Peringatan Perdamaian di Hirosima (vatican Media)
Paus Fransiskus berdoa di Tugu Peringatan Perdamaian di Hirosima (vatican Media)

Beberapa hari terakhir, Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyetujui resolusi yang menyerukan “penghentian segera permusuhan di semua situasi setidaknya 90 hari berturut-turut,” untuk menjamin tersebarnya bantuan kemanusiaan bagi penduduk yang terkena dampak Covid-19, dan untuk melawan konsekuensi penyebarannya yang menghancurkan.

Pada penutupan Doa Angelus, hari Minggu, 5 Juli 2020, Paus Fransiskus, ingin mendukung prakarsa itu dan berharap agar gencatan senjata global ditaati “secara efektif dan tepat waktu.” Prakarsa Paus itu menunjukkan langkah baru di jalan panjang. Langkah itu semakin mendesak akibat krisis yang disebabkan oleh pandemi itu. Konsekuensinya pun paling menghancurkan, setara dengan perang, menimpa yang termiskin.

Paus sudah mengajukan permintaan itu tanggal 29 Maret untuk mendukung seruan lima hari sebelumnya oleh Sekretaris Jenderal PBB. António Guterres menyerukan “gencatan senjata global dan segera di seluruh penjuru dunia,” mengingat keadaan darurat Covid-19, yang tidak mengenal batas. Paus Fransiskus menyatukan dirinya “dengan orang-orang yang menyambut baik permohonan ini” dan mengajak “semua orang untuk mengikutinya dengan menghentikan segala bentuk permusuhan, meningkatkan terciptanya rute bantuan kemanusiaan, keterbukaan terhadap diplomasi, dan perhatian bagi orang-orang yang berada dalam situasi yang sangat rentan.”

Paus berharap agar komitmen bersama melawan pandemi, “bisa membuat semua orang mengakui perlunya memperkuat ikatan saudara dan saudari sebagai anggota-anggota satu keluarga manusia.” Secara khusus, Paus berkata, “Semoga ini menginspirasi komitmen baru untuk mengatasi persaingan di antara para pemimpin negara-negara dan pihak-pihak terlibat. Konflik tidak dapat diselesaikan dengan perang! Antagonisme dan perbedaan-perbedaan harus diatasi melalui dialog dan pencarian bernilai konstruktif untuk perdamaian.”

Minggu-minggu berikutnya, dua kali lagi Paus menyesali biaya konflik. Dalam homili Vigili Paskah, yang dirayakan di Basilika Santo Petrus, Paus berkata, “Mari kita heningkan tangisan kematian, jangan ada lagi peperangan! Semoga kita menghentikan produksi dan perdagangan senjata, karena kita perlu makanan, bukan senjata.” Paus ingin mengingat kembali tema, yang menjadi tema konstan kepausannya ini. Dalam dua doa Maria sesudahnya, Paus menyarankan agar umat beriman berdoa di akhir Rosario di bulan Mei: “Dukunglah para pemimpin nasional, agar dengan kebijaksanaan, perhatian, dan kemurahan hati mereka membantu orang-orang yang tidak punya kebutuhan pokok, dan bisa merancang solusi sosial dan ekonomi yang terinspirasi oleh kemampuan merencanakan masa depan dan solidaritas. Santa Perawan Maria, gerakkanlah hati nurani kita, agar dana besar yang diinvestasikan untuk mengembangkan dan menimbun senjata sebaliknya digunakan untuk meningkatkan penelitian efektif tentang cara mencegah terjadinya tragedi serupa di masa depan.”

Beberapa kali dan pada kesempatan berbeda, di tahun-tahun sebelumnya, Paus Fransiskus mencela “kemunafikan” dan “dosa” para pemimpin negara-negara yang “berbicara tentang perdamaian dan menjual senjata untuk melakukan peperangan ini.” Kata-kata itu juga diulangi sekembalinya dari perjalanan internasional terakhir sebelum pecahnya pandemi, perjalanan ke Thailand dan Jepang. “Di Nagasaki dan Hiroshima saya berhenti untuk berdoa. Saya bertemu beberapa korban dan keluarga korban, dan saya mengulangi kecaman saya atas senjata nuklir dan atas kemunafikan orang yang berbicara tentang perdamaian sambil membuat dan menjual persenjataan.”

Menurut laporan Oxfam, pada 2019 pengeluaran militer sedunia mencapai dua triliun dolar, dan saat ini ada dua miliar manusia terperangkap di negara-negara yang berperang, kelelahan akibat kekerasan, penganiayaan, kelaparan – dan sekarang, darurat pandemi.

Andrea Tornielli
Diterjemahkan oleh PEN@ Katolik/pcp

Tinggalkan Pesan