Pastor Eduardus Didik Chahyono SJ membeli produk minuman secara online Penjual lalu mengirimnya ke alamat pastor (PEN@ Katolik/lat)
Pastor Eduardus Didik Chahyono SJ membeli produk minuman secara online Penjual lalu mengirimnya ke alamat pastor (PEN@ Katolik/lat)

Pandemi Covid-19 membuat banyak hal menjadi kacau, tak hanya kesehatan, dunia ekonomi pun dibuat hancur. Tak sedikit umat kehilangan pekerjaan. Ada yang sama sekali tidak mendapat order pekerjaan. Tak sedikit pula yang pendapatannya berkurang drastis. Padahal, mereka harus memberi nafkah keluarganya. Roda ekonomi harus dipulihkan.

Martinus Triyanto, Cyrilus Febrianto dan Frans Heri  memikirkan hal itu lalu menggagas Pasar Online Gereja Santa Theresia Bongsari Semarang. Di sana umat bisa menjajakan dagangannya dan umat lain bisa membelinya. Pasar online itu dibuat dalam grup Facebook.

“Semangat dasar dari pembentukan Pasar Online Gereja Santa Theresia Bongsari adalah kepedulian terhadap situasi berat yang dihadapi umat,” ujar Martinus. Mereka pun sepakat untuk bertemu kepala paroki guna membicarakan pemikiran dan gerakan batin ini.

“Prinsip kita learning by doing. Jalankan sambil belajar. Soalnya secara teknis dan kewenangan kami sadar kami bukan siapa-siapa. Maka digagaslah pembentukan wadah Pasar Online Santa Theresia Bongsari untuk memfasilitasi umat berjualan sebagai bentuk kehadiran Gereja di tengah kegalauan umat menghadapi pandemi Covid-19,” ungkap Frans.

Mendengar ide yang signifikan dan relevan dengan situasi pandemi Covid-19, Kepala Paroki Santa Theresia Bongsari Pastor Eduardus Didik Chahyono SJ langsung mendukung upaya itu. Bahkan, pastor mengusulkan upaya itu tak harus punya organisasi kaku dan kompleks.

Media sosial Facebook pun dipilih sebagai sarana perjumpaan antarpenjual dan pembeli. Grup Facebook pun dibuat tanggal 20 Mei 2020, dan sampai 30 Juni 2020 sudah memiliki 551 anggota.

Sejumlah umat merelakan diri menjadi admin media sosial itu. Umat gembira dengan kehadiran Pasar Online St Theresia Bongsari. “Kebingungan yang tadinya menyelimuti hati umat kini sedikit tersibak. Harapan dan antusiasme kembali menyala. Umat dimungkinkan untuk kembali menekuni dan menapaki kehidupannya. Mereka saling menawarkan dagangannya,” ungkap Pastor Didik. Setelah transaksi “deal”, lanjut imam itu, tak sedikit dari mereka yang menjadikan halaman gereja sebagai area COD (cash on delivery).

Sisilia Dewayani, anggota grup, menyatakan “wadahnya bagus dan sangat bermanfaat membantu perekonomian umat,” katanya. Agnes yang kerap berbelanja senang, “karena barang-barang yang ditawarkan menarik.” Dia merasa terbantu karena beberapa barang yang dibelinya diantar langsung oleh penjualnya. Ia pun tak harus ke pasar karena situasi pandemi Covid-19.

Sedangkan Cicilia Indra yang turut berjualan di pasar online itu mengaku banyak mendapat keuntungan. “Volume penjualan lebih banyak,” katanya. Ia pun merasakan, jarak pengiriman juga tidak jauh karena masih berada dalam area satu paroki.

Untuk menggairahkan transaksi, pasar itu mengadakan periode berhadiah bagi pembeli, 21-27 Juni 2020. Beberapa  sponsor mendukung kegiatan itu dengan menyediakan hadiah-hadiah.

“Sungguh sebuah gerakan  istimewa yang lahir dan hidup karena dasar cinta, perhatian dan kepedulian. Pandemi Covid-19 tak mematikan jiwa dan hati manusia,” ungkap Pastor Didik.(PEN@ Katolik/Lukas Awi Tristanto)

Penjual dan pembeli biasanya bertemu di kompleks gereja Bongsari untuk COD (PEN@ Katolik/lat)
Penjual dan pembeli biasanya bertemu di kompleks gereja Bongsari untuk COD (PEN@ Katolik/lat)

Tinggalkan Pesan