Suasana jumpa pers para pastor se-Regio Papua (Foto Yewen dari Ceposonline)

“Dengan mengakui kekerasan dalam hati saya sendiri dan mempercayakan diri kepada kebaikan dan belas kasih Allah, saya mengucapkan janji selama satu tahun untuk mempraktekkan sikap tanpa kekerasan kristus sebagaimana diajarkannya kepada kita dalam khotbah di bukit.”

Janji setia untuk “berbuat sesuatu demi keadilan dan kebijaksanaan kepada sesama di atas tanah leluhurnya itu” diucapkan oleh 57 imam diosesan (projo), OSA, OFM dan MSC di Papua seperti diutarakan dalam seruan para pastor Katolik pribumi dari lima keuskupan regio Papua berjudul “Kutuk Rasisme, Menolak Ketidakadilan & Segala bentuk Kekerasan kepada Umat Tuhan di Tanah Papua” yang disampaikan dalam jumpa pers di Rumah Imam Projo-Condios, Jayapura, 8 Juni 2020.

Di hadapan Allah Pencipta dan Roh yang menguduskan, mereka berjanji untuk “menjadi saksi hidup cinta kasih Kristus dan terutama untuk hidup damai dan menjadi pembawa damai dalam hidup sehari-hari, menerima penderitaan dan tidak menyebabkan penderitaan kepada sesama, menolak menanggapi provokasi dan kekerasan, berkanjang bersikap tanpa kekerasan dalam perkataan dan dalam pikiran, hidup dengan cermat dan sederhana agar tidak berbuat salah pada siapa pun, dan bekerja tanpa kekerasan agar dapat mengatasi sebab-sebab kekerasan di dalam diri saya dan di dunia.”

Mereka memohon kekuatan untuk melaksanakannya dengan berdoa, “Tuhan, saya mempercayakan kesetiaan-Mu dan karena Engkau telah memberi saya hasrat dan rahmat untuk mengucapkan janji ini, berilah saya kekuatan untuk melaksanakannya.”

Percaya bahwa “nyawa satu orang kulit hitam, rambut keriting, ras melanesia sangatlah mahal, di hadapan manusia, terutama dihadapan Sang Penciptanya,” para imam itu juga berdoa mohon keadilan dan kebijaksanaan dari Tuhan, bagi orang asli Papua di atas tanah leluhurnya.

“Allah Bapa, Maha pengasih dan penyayang, kami semua anak-Mu yang Kau bentuk se-citra-Mu dan Kau tempatkan kami di Tanah Papua, kami datang kepada-Mu membawa pergumulan hidup kami. Kami merasa ada ketidakadilan dan hidup bersama saudara-saudari kami dari ras Melayu ini. Allah Bapa yang Maha Pengasih dan penyayang, sejak kami bergabung dengan saudara-saudara ras Melayu dari tahun 1961 sampai dengan hari ini, kami mengalami banyak diskriminasi, kekerasan dan ketidakadilan dari sesama kami,” doa mereka.

Setiap orang Kristen yang diam saja dan tidak berbuat apa-apa menghadapi tragedi kemanusiaan dan kerusakan dahsyat di Tanah Papua, itu berarti ia mengingkari Injil, tegas para imam itu seraya menjelaskan peranan orang Kristen seperti tertulis dalam Lukas 4:18-19, “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.”

Dengan keyakinan dan harapan bahwa semua orang menjadi pembawa damai di seluruh tanah Papua, Indonesia dan dunia, siaran pers yang ditandatangani oleh Pastor Alberto John Bunay Pr, koordinator Jaringan Damai Papua, di Abepura, 08 Juni 2020, atas nama seluruh pastor Katolik pribumi dari lima keuskupan se-Regio Papua itu memanjatkan doa Santo Fransiskus Asisi, “Tuhan jadikanlah aku pembawa damai.”(PEN@ Katolik/abdon bisei)

Tinggalkan Pesan