Lilin dan bunga memperingati George Floyd  (AFP)
Lilin dan bunga memperingati George Floyd (AFP)

Kematian tragis George Floyd, seorang keturunan Afrika-Amerika berusia 46 tahun yang dibunuh oleh seorang perwira polisi Minneapolis, 25 Mei 2020, menimbulkan protes dan teriakan publik menentang diskriminasi dan kebrutalan polisi, tidak hanya di Amerika Serikat tetapi di beberapa negara lain.

Dalam sikap solidaritas, Youth for Peace, sebuah gerakan remaja dan orang muda yang berafiliasi dengan Komunitas Saint Egidio, mengorganisir flash mob melawan semua bentuk rasisme, diskriminasi sosial dan kekerasan, 9 Juni pukul 21:00 (waktu Italia) di Pulau Tiber.

Acara itu akan didahului dengan doa untuk hidup berdampingan secara damai di dunia. Orang-orang muda juga memajang spanduk di bagian depan Basilika San Bartolomeo yang terletak di Pulau Tiber, dan menerangi alun-alun dengan ratusan lilin.

“Kita harus belajar hidup bersama,” tulis pernyataan yang dirilis di situs web gerakan itu. Terinspirasi oleh kata-kata ini, orang-orang muda berharap mengulangi pesan gerakan Black Lives Matter.

Secara terpisah, para Uskup Kanada mengatakan bahwa kematian George Floyd “sangat menyusahkan dan sepenuhnya tidak dapat diterima.” Dalam pernyataan yang dirilis 8 Juni di situs web Konferensi Waligereja Kanada, para Uskup menyatakan sangat menolak “pengabaian hak asasi manusia dan martabat manusia” dan “kehadiran terus-menerus rasisme dan diskriminasi di masyarakat kita.”

“Penghinaan terhadap manusia, pengingkaran terhadap hak-hak yang diberikan Tuhan dan terhadap tanggung jawab manusia yang mengalir dari hak-hak itu, kurangnya cinta kepada sesama, dan kegagalan menunjukkan rasa hormat kepada sesama sepenuhnya tidak dapat ditoleransi; ini harus selalu dicela dengan sangar keras,” kata para uskup.

Mengulangi kata-kata Paus Fransiskus dalam Audiensi Umum minggu lalu, para uskup itu menyesalkan hilangnya nyawa yang disebabkan oleh “pengucilan, rasisme dan kekerasan yang bertentangan dengan Injil Yesus Kristus.” Para uskup menegaskan, “setiap manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah dan berharga di mata-Nya.”

Para uskup mendorong semua orang untuk berdoa bagi semua orang yang kehilangan nyawa akibat dosa rasisme, dan mengajak semua orang untuk mengupayakan rekonsiliasi dan penyembuhan, serta perdamaian dan keadilan di dunia.

George Floyd dimakamkan hari ini, 9 Juni 2020, pukul 11.00 waktu setempat di Houston Memorial Gardens Cemetery di Pearland, pinggiran kota Houston, di sebelah makam ibunya.

Menjelang pemakaman, ribuan pelayat berkumpul hari Senin, 8 Juni, untuk memberikan penghormatan kepada George Floyd di kota kelahirannya di Houston, Texas. Upacara yang sama dilakukan di Minneapolis hari Kamis, dan di Raeford, North Carolina, kota kelahiran George Floyd, pada hari Sabtu.

Ritual enam jam di malam sebelum pemakaman, yang berlangsung di Gereja Fountain of Praise di Houston, dihadiri lebih dari 6.000 orang. Karena kesempatan itu terbuka untuk umum, maka para pengunjung diharuskan mengenakan masker dan sarung tangan sesuai peraturan kesehatan untuk mencegah virus corona.(PEN@ Katolik/paul c pati berdasarkan Vatican News)

 

Tinggalkan Pesan