Para suster dari Kongregasi  Suster-Suster Santo Dominikus di Indonesia (OP) merayakan Pesta Pendirinya Pastor Dominicus van Zeeland OP di biara pusat, Pejaten, Jakarta (Dok Biara Pejaten)
Para suster dari Kongregasi Suster-Suster Santo Dominikus di Indonesia (OP) merayakan Pesta Pendirinya Pastor Dominicus van Zeeland OP di biara pusat, Pejaten, Jakarta (Dok Biara Pejaten)

Membaca, mendalami, dan meresapkan konteks dan sejarah hidup Pastor Dominicus van Zeeland OP, pendiri Kongregasi Suster-Suster Santo Dominikus di Indonesia merupakan hal biasa sebagai kegiatan hari pertama dalam triduum untuk memperingati wafatnya pendiri kongregasi itu di saat pandemi Covid-19 yang mewajibkan semua orang tinggal di rumah atau di biara saja.

Namun, dalam meditasi atau pendalaman di hari kedua, bahwa para suster OP di Indonesia dari berbagai komunitas di Indonesia (Flores, Surabaya, Yogyakarta, Magelang, Cirebon, Purwokerto, Cimahi, Wonosari, Rawaseneng, Ngabang, Jakarta) bisa saling menunjukkan kreasi dalam bentuk puisi, lagu, lukisan, dan video untuk mengungkapkan semangat bapa pendiri itu, bahkan kemudian di hari berikutnya bisa melakukan sharing bersama seluruh komunitas, tentu hal luar biasa saat ini.

Berkat program Zoom meeting, mereka bahkan seperti duduk bersama dalam satu ruangan sambil bersama-sama berdoa Rosario dan merayakan Misa dengan petugas liturgi dari berbagai komunitas, tanggal 25 Mei 2020, meski tetap dalam keprihatinan di tengah pandemi ini.

Keadaan menyedihkan seperti itu, menurut Superior Jenderal Kongregasi Suster-Suster Santo Dominikus di Indonesia Suster Maria Elisabeth OP, pernah terjadi saat Revolusi Perancis sekitar abad 18-19 yang sangat mempengaruhi pewartaan dan perkembangan kehidupan religius di Belanda. Dalam suasana itu, pada hari itu para suster OP di Indonesia memperingati wafatnya Bapa Pendiri mereka, 25 Mei 1892.

“Gerak lingkup hidup mereka mengalami tekanan, kekerasan dan bahkan komunitas-komunitas dibubarkan. Kiranya keprihatinan yang sama juga dialami dunia termasuk di Indonesia saat ini. Kesusahan yang dialami dalam berbagai aspek kehidupan membuat manusia semakin terpuruk termasuk dalam karya-karya hidup religius,” jelas suster itu.

Namun, menyimak berbagai penelitian yang mengatakan pandemi ini tidak akan hilang dari muka bumi, “maka kita harus beradaptasi, tidak ada pilihan lain, kita harus menyesuaikan diri dengan teknologi ini” untuk melakukan berbagai kegiatan bersama para suster, “untuk meneruskan masa depan kongregasi kita.”

Pastor Andreas Kurniawan OP yang memimpin Misa peringatan itu lalu mengisahkan perjalanan kongregasi dan pemimpin kongregasi itu sejak didirikan oleh Pastor Dominicus van Zeeland hingga masuk ke Indonesia dan berpindah dari pemimpin asal Belanda ke tangan pemimpin asal Indonesia, hingga saat ini di tangan Suster Elisabeth OP. Imam itu terkesan dengan hasil renungan yang buat para suster dari berbagai komunitas sebagai buah-buah triduum.

“Saya lihat tulisan, renungan, atau karya besar yang berkembang dan harus kita sambung lagi dari sosok Pastor Dominicus van Zeeland, yakni perhatian bagi orang miskin, perhatian bagi pendidikan, pastoral di dalam dan luar Gereja, upaya memulihkan keindahan Gereja, kepedulian terhadap iman anak-anak, kebijaksanaan dan daya juang tinggi, ketaatan kepada pemimpin, keberanian mengambil resiko, keterbukaan, persaudaraan, hidup religius, ketenangan dan kesetiaan sebagai pendengar dan pendamai,” kata imam itu mengutip renungan satu komunitas.

Sekarang, lanjut imam itu, kita semua harus menyambung apa yang dibuat oleh Pastor Dominicus supaya lengkap dan supaya “tidak berhenti di sini.”

Kongregasi itu dibawa oleh para suster dari Belanda ke Indonesia melalui Cilacap tahun 1931. Tahun depan akan dirayakan 90 tahun keberadaan kongregasi itu di Indonesia. Tapi dalam peringatan pendiri kongregasi itu, Suster Elisabeth terinspirasi dengan undangan para suster OP di Belanda tahun 1992 ketika mereka hendak memberkati biara mereka yang lebih kecil dan sederhana.

Diceritakan, para suster di Belanda baru merenovasi biaranya yang panjang, “karena para suster semakin sedikit, menjadi tua dan meninggal, sementara calon hampir tidak ada, bahkan tidak ada.” Dan, dalam undangan mereka menulis, “Yang tidak menghormati masa lalu tidak tepat diserahi masa depan.”

Ungkapan itu, jelas suster, “rasanya sungguh menohok kita semua!” Namun dia bersyukur untuk kapitel tentang konstitusi tahun ini, uskup moderator memberi tema “Menghidupi semangat pendiri dalam konstitusi,” yang mengajak para suster untuk kembali kepada semangat pendiri.(PEN@ Katolik/paul c pati)

Para suster OP dari seluruh komunitas di Indonesia men-sharing-kan hasil triduum lewat Zoom, tanggal 25 Mei pagi. (Dok Biara Pejaten)
Para suster OP dari seluruh komunitas di Indonesia men-sharing-kan hasil triduum lewat Zoom, tanggal 25 Mei pagi. Wakil imam, frater dan awam Dominikan juga ikut mendengarkan (Dok Biara Pejaten)
Para suster OP dari Komunitas Purwokerto Timur  menuliskan nilai-nilai hidup Dominicus van Zeeland (Dok Biara Pejaten)
Para suster OP dari Komunitas Purwokerto Timur menuliskan nilai-nilai hidup Dominicus van Zeeland (Dok Biara Pejaten)

Video karya para Suster OP Komunitas Surabaya

Tinggalkan Pesan