Ritus Pengudusan Perawan (Agenzia Romano Siciliani)
Ritus Pengudusan Perawan (Agenzia Romano Siciliani)

Dalam pesan pada peringatan ke-50 pengesahan Ritus Pengudusan Perawan yang direvisi, Paus Fransiskus mengingatkan para Perawan yang Dikuduskan bahwa melalui panggilan mereka tercermin kesatuan Gereja, Mempelai Kristus.

Paus membuka pesan itu dengan menggambarkan panggilan mereka sebagai “tanda harapan” yang menunjuk “kesetiaan Bapa.” Bahkan hari ini, kata Paus, Dia bangkitkan dalam hati beberapa perempuan “keinginan untuk dikuduskan bagi Tuhan dalam keperawanan.”

Bersama para uskup mereka, lanjut Paus, para Perawan yang Dikuduskan menjadi “semakin sadar akan sifat khas” hidup bakti mereka. “Karunia panggilan kalian terungkap dalam kesatuan simfonik Gereja, yang dibangun ketika dalam diri kalian Gereja bisa melihat para perempuan yang mampu menjalani karunia persaudaraan wanita,” kata Paus.

“Jangan memadamkan sifat profetis dari panggilanmu,” lanjut Paus. “Kalian telah dipanggil oleh belas kasihan Tuhan untuk menjadikan hidup kalian pantulan wajah Gereja, Mempelai Kristus.” Paus kemudian ingat bahwa homili yang diusulkan untuk Ritus Pengudusan itu “mendesak kalian untuk ‘Mencintai semua orang, terutama mereka yang membutuhkan’.”

“Pengudusan keperawanan kalian membantu Gereja untuk mengasihi orang miskin, untuk mencermati bentuk-bentuk kemiskinan materi dan rohani, untuk membantu mereka yang lemah dan rentan, mereka yang menderita penyakit fisik dan mental, yang muda dan tua, dan semua yang dalam bahaya terpinggirkan atau terbuang,” jelas Paus.

“Jadilah perempuan berbelaskasih, ahli dalam kemanusiaan,” desak Paus. “Perempuan-perempuan yang percaya akan ‘sifat revolusioner dari cinta dan kelembutan,” lanjut Paus.

Pandemi ini, jelas Paus, mengajarkan kita bahwa saatnya telah tiba untuk menghilangkan ketidaksetaraan. Paus mendesak para Perawan yang Dikuduskan agar tidak menutup mata terhadap yang terjadi sekitar kita, atau melarikan diri darinya, tetapi sebaliknya membiarkan diri diganggu olehnya. “Hadirlah dan pekalah terhadap kesakitan dan penderitaan,” kata Paus.

Paus mendesak para Perawan yang Dikuduskan untuk menjadi “tanda cinta berpasangan yang menyatukan Kristus dengan Gereja, perawan dan ibu, saudari dan teman dari semua.” Dengan kelemahlembutan kalian, ajak Paus, “jalinlah hubungan otentik yang bisa membantu membuat lingkungan-lingkungan di kota kita menjadi lebih sepi dan anonim. Bersikap jujur, yang mampu parrhesia, tetapi hindarilah godaan untuk mengobrol dan bergosip. Milikilah kearifan, akal, dan otoritas amal, guna melawan arogansi dan mencegah penyalahgunaan kekuasaan.”

Paus mengakhiri pesan itu dengan memberkati setiap Perawan yang Dikuduskan, serta “semua perempuan yang bersiap menerima pengudusan ini, dan semua orang yang akan menerimanya di masa depan.”

Perawan yang Dikuduskan adalah perempuan belum pernah menikah yang membaktikan keperawanannya yang abadi kepada Allah dan disisihkan sebagai orang suci yang menjadi milik Kristus dalam Gereja Katolik. Kongregasi Lembaga-Lembaga Hidup Bakti dan Serikat Kehidupan Apastolik memperkirakan ada lebih dari 5.000 perawan yang dikonsekrasi di lima benua “dalam wilayah geografis dan konteks budaya yang sangat beragam.”(PEN@ Katolik/pcp berdasarkan Francesca Merlo/Vatican News)

Tinggalkan Pesan