Via Crucis 6

Surat kepada Yesus*

Oleh Wilfrid Babun

Surat ini saya tulis ketika dunia yang Engkau ciptakan ini dilanda musibah besar dan kepanikan luar biasa, seperti beberapa teriakan WS Rendra dalam puisinya “Aku tulis pamflet ini”… karena ketakutan menjadi tabir pikiran … kekhawatiran telah mencemarkan kehidupan … ketegangan telah mengganti pergaulan pikiran merdeka …’ Engkau pasti tahu, entah ini surat cinta, atau pamflet protes. Jauh-jauh hari Engkau tahu apa yang terjadi di hidup kami, karena Engkau Alfa dan Omega. Hari-hari ini kami gelisah dan cemas, kenapa Engkau seakan cuek dengan kami? Entahkah Engkau mendengar setiap doa kami, jeritan minta tolong? Yang kami rasakan adalah Engkau terlalu jauh. Candi gereja-Mu, kami tatap dari kejauhan. Ingin mendekat ke pintu rumah-Mu yang suci, langkah kaki letih, tak sanggup. Lihatlah Tuhan, barisan bangku gereja-Mu. Kosong tidak ada orang. Di mimbar Sabda-Mu memang ada buku kudus-Mu yang tetap terbuka: in principio errat verbum. Dentang lonceng malah membikin hati kami terus menjerit dililit sunyi. Duka nestapa terus saja melebar. Dinginnya kota, menggigilkan juga nyala hati kami. Rindu kami terus menguras energi batin yang menggelinding, yang pecah, yang retak, yang berkeping. Tuhan, di pintu-Mu kami mengetuk sambil menggengam Rosario Koranka.

Sepi di rumah itu kudus? Tidak Tuhan! Sepi itu merisaukan. Satu kurungan jiwa dan raga yang membuncitkan kegelisahan kami di lorong sepi tak bertuan. Decit burung pipit membungkukkan signal gelora nyanyi suci: ‘Burung pipit serta layang-layang, kau berikan sarang. Betapa kurindu, tinggal di rumah-Mu …’ Kawanan burung gereja itu terbang bersama menggelisahkan jemari kami yang berjarak. Sesama berjarak, gerak yang tersendat, juga jarak dengan epicentrum kebaktian dan kerohanian kami. Mulut kami tidak lagi bisa bernyanyi koor bersama ‘Allah Maha Kuasa, pencipta alam semesta’. Kami juga batal melantunkan gegap gempita alleluya di hari penuh sukacita Paskah. Kami tidak bisa menyantap tubuh-Mu yang memberikan kekuatan jiwa raga kami. Dan darah-Mu yang suci membasahi jiwa kami yang kerdil.

Oh Tuhan, betapa rindu hati kami! Dekat dengan-Mu meneduhkan gemuruh hati kami yang diburu gelombang maut wabah pandemik ini. Sengatan bisa korona merenggut kehidupan banyak saudara kami di jagat fana ini. Saat suami kematian isteri; kala anak yang dipapah ketiadaan ayah; ketika jerit tangis keluarga karena sang anak dijemput paksa ke alam baka. Adakah saat ini, kami harus menepuk dada sekeras-kerasnya sambil berkata, “mea culpa, mea culpa” … dan membatin: ‘manusia, engkau berasal dari debu dan akan kembali ke debu?

Sungguh Tuhan, bumi kami gelisah! Dan Engkau sangat tahu apa yang sesungguhnya kami butuh, kini. Berilah kami kesehatan. Curahkanlah kami kekuatan. Berkat-Mu, kami minta dengan sangat sambil menjulurkan tangan yang letih dan jiwa yang lelah, dengan linangan air mata ke langit tahta-Mu yang kudus. Sabda-Mu yang perkasa itu mengental dalam batin: aku mau jadilah engkau sembuh! Engkau yang berjalan sambil berbuat baik, jamahlah setiap hati. Katakanlah sepatah kata: yang buta, melihatlah! Yang kusta, tahirkan. Yang mati, engkau bangkitkan! Nas kudus-Mu selalu memberikan kami harapan bahwa di ujung gelap hidup ini, ada cahaya. ‘Aku menyertai kamu’. Dan katamu itu, satu kepastian.

Ataukah kami harus membaca kembali dengan teliti setiap ayat kitab kudus-Mu, merenung berkali-kali untuk sanggup menemukan wajah-Mu yang kudus itu.’Berapa lama lagi ya Tuhan Engkau menyembunyikan wajah-Mu dari kami?’ Entahkah Engkau memalingkan wajah-Mu dari kami, karena kami tegar tengguk? Oh Tuhan janganlah berlambat. Datanglah segera menolong kami hamba-hamba-Mu yang tidak berguna ini. Pandanglah kami, walau sejenak. Karena tatapan-Mu itu menyembuhkan.

Pada setiap gagang pintu rumah kami, berkatilah dengan bilur-Mu yang kudus! Di dinding hati kami, urapilah tanda salib kemenangan itu, dan basuhlah dengan darah-Mu nun kudus tiap tubuh dan raga kami. Jenguklah pondok  kami. ‘Tuhanku, rumahku kecil. Pintunya selalu terbuka. Tak usah ketuk. Masuk saja ke dalam. Kedatangan-Mu selalu menyenangkan. Tuhan, tinggallah bersama aku’ (Angela Tigo: Doa-doa Seekor Tikus, Penerbit Nusa Indah Ende, 1989, halaman 8).

Saat Martha dan Maria bertemu, Engkau dengan sangat yakin bilang, “Penyakit ini tidak akan membawa kematian?” Oh, Tuhan, sudah banyak mati: di mana saja. Dan kami bisa regang nyawa, kapan saja. Engkau pasti tidak salah sangka menyaksikan memuncaknya eskalasi kepanikan kami dan seperti kepada Marta dan Maria Engkau menabur optimisme surga, “Oleh penyakit ini Anak Manusia akan dimuliakan.” Intensitas kepanikan kami sangat memuncak. Lihatlah, jalanan kota kami lengang. Kami harus work at home, stay at home, everything at home (Maaf: Sedikit menghalau getir dengan istilah zaman now Tuhan Yesus!) Kami tidak bisa keluar rumah, tidak bisa cipika cipiki. Bila bertemu kami hanya saling menundukkan kepala. Dan karena corona, kami pun mengambil social distance, phisycal distance, spiritual distance. Apakah kami juga harus jaga jarak dengan Engkau?

Ataukah kami harus menulis surat satu per satu kepadamu dengan tinta linangan air mata kami masing-masing? Bila engkau membutuhkan, yang pasti isinya tetap satu dan sama: kami mohon bantuan-Mu! Kalau iman kami kurang, tambahkanlah! Bila  putus asa, suburkan kesabaran kami. Tuhan, ini surat kami yang pertama. Kirimkan kami alamatmu yang lengkap supaya surat ini bisa sampai secepatnya. Dan engkau pasti membalasnya juga dengan segera. Karena jawabanmu, menggembirakan kami semua!

Salam hormat.
Ttd

*Satu percakapan imajiner saja (Bdk Injil Yoh 11:1-45)

Tinggalkan Pesan