Ason Sofian bersama istri dan anaknya. (Foto: Romi Chandra dari Batamtoday.com)
Ason Sofian bersama istri dan anaknya. (Foto: Romi Chandra dari Batamtoday.com)

Oleh Wilfrid Babun SVD

Pasti banyak dari kita tidak tahu, siapa dia. Tapi yang pasti Ason Sofian sedang viral saat ini karena sebagai seorang ayah yang sedang sakit dia rela pergi keluar rumah untuk menjual ponsel yang rusak seharga 10 ribu rupiah untuk membeli beras satu kilogram karena anak-anaknya belum makan, dan isterinya yang sedang pergi menjual tempe belum pulang.

Terlepas dari ponsel rusak atau harga murah dan siapa yang membelinya, perlakuan sang ayah yang sedang viral itu pasti punya makna! Saya melihat poin penting, bagaimana sang ayah sungguh mengasihi dan mencintai anak-anaknya. Justru di hadapan mata anak-anaknya itu seorang ayah dengan sangat serius menunjukkan apa itu cinta. Perhatiannya sungguh luar biasa. Bapak berusia 48 tahun ini seakan mau mengatakan cinta kasih itu bukanlah rangkaian kata-kata manis, bukanlah khotbah elok dari mimbar penerimaan sakramen nikah, bukanlah janji nikah di depan penghulu. Tetapi, cinta itu kerja. Cinta itu kerja nyata. Dan, banyak kali cinta harus dimulai dan dirawat di kedalaman hati.

Ason seakan mengingatkan kita bahwa anak adalah masa depan. Masa depan ditentukan saat kini. Sekarang. Yang dikerjakan sekarang dengan baik, pasti kemudian akan memetik hasilnya juga dengan baik. Tidak ada satu kebaikan yang jatuh dengan sendirinya dari langit. Tetapi kualitas kebaikan dan kualitas hidup selalu harus dikerjakan, mulai kini. ‘Orang yang menabur dengan mencucurkan airmata, akan menuai dengan bersorak-sorai. Orang yang berjalan dengan menangis sambil menabur benih, pasti pulang dengan sorak sorai sambil membawa berkas-berkasnya” (Maz.126: 5-6). Memang itulah hidup.

Dan, itu jugalah yang bisa kita saksikan, kerja dari seorang Ason. Tidak tahu, ponsel itu milik siapa. Entah isterinya, atau anak-anaknya, atau dia beli di loak? Dan ‘transaksi ekonomi yang belum jelas itu’ terjadi di saat kritis dan krisis. Saya kira ada linangan air mata yang sangat disembunyikan Ason di pelupuk matanya. Dia tidak mau anak-anaknya melihatnya dengan nyata. Dan, ini cerita dari banyak orangtua kita.

Orangtua berkorban mati-matian untuk anak. Saat duduk bersama di tungku api, anak bertanya, “Ma, kenapa menangis?” Sang mama menyahut sambil menghindar dari pandangan anaknya, “Ada asap api yang merangsang kelopak mata mama!” Sang anak tetap curiga. Tetapi itulah. Orangtua kita selalu cerdas menyembunyikan air mata. Kalau ada susah, itu biasa mereka bawa serta dalam rona-rona mimpi malam nan lelap. Terkadang juga mengelayut dalam igauan tengah malam.

Banyak media sedang memang menulis tentang Ason dengan sangat bijaksana, imaginatif dan juga emosional: ’Jual hp untuk anaknya yang belum makan’. Bukan untuk dirinya. Yang butuh itu anaknya. Untuk satu yang sangat eksistensial yakni untuk hidup satu generasi. Jumlahnya tidak seberapa, hanya satu kilogram beras. Tidak banyak. Pas-pas. Ason mengingatkan saya penggalan doa berkekuatan dasyat dari Sang Guru. ‘ … berilah kami rejeki secukupnya pada hari ini’. Secukupnya adalah satu protes untuk dunia yang glamour, hedonis, materialistis dan kapitalis. Ason dan aksinya adalah satu potret telanjang wajah dunia. Tetapi satu protes, suara profetis paling menyalak tentang kita. “Masyarakat dunia saat ini diperhadapkan dengan pelbagai masalah utama yang hanya bisa diatasi dengan solidaritas global: kerusakan alam, migrasi, HIV/AIDs dan kemiskinan” (Daven: ”Gereja sebagai Global Players dan Solidaritas Global dengan Kaum Miskin”, dalam Dr Max Regus dkk. Lakukanlah Semua Dalam Kasih, hlm. 127). Dan makan, soal perut adalah salah satu hal penting. Itu juga menentukan eksistensi kehidupan manusia. Juga Ason sekeluarga.

Dan, kenapa Ason berbuat demikian? Lima tahun terakhir Ason yang pernah kerja di bengkel tidak lagi bekerja karena mengidap penyakit serius. Isterinya minta dia tinggal di rumah saja. Wabah Covid-19 yang menyebar di mana-mana, mengakibatkan istri yang biasanya berjualan bakso tusuk dan es ke sekolah, kini tidak bisa juga berjualan lagi karena sekolah diliburkan. Istrinya lalu memutuskan menjual tempe yang sudah diolah agar kebutuhan rumah tercukupi.

Ason telah keluar rumah menjual ponselnya yang rusak. Saya membayangkan, jangankan ada yang beli, bertanya saja, mungkin tidak. Tapi dia pergi untuk membeli beras untuk anak-anaknya. Anaknya tujuh orang. Dua anak sudah menikah. Kini Ason di Batam bersama lima anaknya yang tidak bersekolah karena alasan tak punya. Salah satu anaknya penyandang disabilitas. Beban Ason memang luar biasa. Dia harus bertarung nyawa sendiri untuk menafkahi tujuh orang: isteri, lima anak dan dia sendiri. Beban fisik dan psikis.

Ason sangat mengalami faktual, apa artinya kegetiran hidup. Di depan ke lima anaknya itu dia sementara memberikan satu kuliah nyata tentang filsafat esksitensial, tentang apa itu hidup, tentang hak-hak dasar manusia, yakni sandang, pangan, papan. Di hadapan ruang lingkup hak-hak asasi itulah kemanusiaan seorang Ason terkepung. Tatapan \nya hanya sejangkau bayang-bayang.

Ason kini viral dan orang-orang mulai datang ke rumahnya, Kavling Siap Bangun (KSB) Kamboja Blok B nomor 87 RT04/RW15 Kecamatan Sagulung, Batam, membawa bantuan dan makanan. Namun, kisah Ason tiba-tiba menyeruak alam sadar saya. Saya teringat cerita teman saya di Brasil tentang Favela, penampungan informal tak beraturan dari masyarakat berpenghasilan rendah dan terlupakan. Satu tumpukan rumah dan himpitan manusia yang disusun berderet-deret disertai bayangan luka fisik, dan psikis, terpapar dari kegelisahan aneka wajah. Ohhh, janganlah Ason dan kawan-kawan juga ditinggalkan!

Orang-orang miskin di jalan
yang tinggal di dalam selokan
yang kalah di dalam pergulatan
yang diledek dalam impian
janganlah mereka ditinggalkan.
(Rendra: Potret Pembangunan dalam Puisi, ‘Orang-Orang Miskin’, hlm.82-83).***

Kodim 0316/Batam beri bantuan kepada Ason (foto dari Indonesia Parlemen)
Kodim 0316/Batam beri bantuan kepada Ason (foto dari Indonesia Parlemen)

Tinggalkan Pesan