Maria M

Dulu, ketika membaca kisah atau menonton film peperangan, rasanya sulit untuk bertahan hidup. Kini, walaupun kondisinya mungkin masih jauh lebih baik daripada perang, namun saya sungguh merindukan saat-saat sebelum pandemi Covid-19 ini merebak.

Akan tetapi, terlepas dari semuanya itu, seharusnya saya bersyukur tidak mengalami kesusahan seperti yang mungkin sedang dialami oleh orang-orang kecil, karena segalanya masih tercukupi di sini. Kami masih bisa merayakan Ekaristi dan menerima Komuni Kudus setiap hari serta melakukan Adorasi Sakramen Maha Kudus, sementara banyak umat hanya dapat mengikuti Ekaristi secara online atau live streaming.

Sahabat terkasih. Saya yakin, kita semua sangat merindukan untuk kembali merayakan Ekaristi bersama-sama di dalam gereja dan menyambut Komuni Kudus secara langsung. Teman-teman saya bercerita, mereka sedih melihat gereja menjadi kosong dan tidak bisa adorasi. Tidak sedikit yang menangis karena tidak bisa merayakan Ekaristi di gereja dan menyambut Komuni Kudus.

Kerinduan dan kesedihan inilah yang juga pernah dialami oleh Maria Magdalena seperti yang dikisahkan dalam bacaan Injil 14 April 2020 atau hari Selasa dalam Masa Paskah ini (Yohanes 20:11-18). Kata Yesus kepadanya, “Ibu, mengapa engkau menangis? Siapakah yang engkau cari?” Maria menyangka orang itu adalah penunggu taman, lalu ia berkata kepada-Nya, “Tuan, jikalau tuan yang mengambil Dia, katakanlah kepadaku, di mana tuan meletakkan Dia, supaya aku dapat mengambil-Nya.”

Selanjutnya, dapat kita bayangkan reaksi Maria Magdalena yang begitu terkejut dan gembira ketika ia menyadari bahwa Tuhan Yesus kini ada di hadapannya. Ia pasti akan memegang atau bahkan memeluk-Nya. Sehingga, kata Yesus kepadanya, “Janganlah engkau memegang Aku, sebab Aku belum pergi kepada Bapa.”

Dalam terjemahan bahasa Yunani, kata ‘menyentuh’ yang digunakan dalam ayat ini adalah ‘haptomai yang artinya menyentuh dengan maksud untuk memegangnya secara kuat agar tidak terlepas. Dalam versi bahasa Inggris, ada dua terjemahan yang digunakan untuk kata ‘haptomai, yaitu, ‘do not touch’ dan ‘stop holding on to me. Maka, terjemahan kedua yang dirasa lebih pas, yang artinya kurang lebih: ‘berhentilah untuk terus memegangi-Ku’.

Dan, Tuhan Yesus pun berpesan pada Maria Magdalena, “tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu.”

Dalam hal ini, ahli Kitab Suci pun berpendapat, tidak ada yang salah dengan menyentuh Yesus sekalipun Ia belum kembali kepada Bapa. Sebab, tidak lama setelah kejadian itu, Tuhan Yesus kembali menampakkan diri kepada para rasul, dan Ia membiarkan Thomas menyentuh dan memasukkan jarinya ke dalam bekas luka-Nya. Tuhan Yesus berbuat demikian agar Thomas dan murid-murid-Nya yang lain dapat menjadi percaya.

Semoga, setiap kerinduan akan kehadiran Allah dalam Perayaan Ekaristi menginspirasi agar kita dapat menjadi orang-orang yang sabar dan setia seperti Maria Magdalena. Dalam kesedihannya, ia tetap bertahan di dekat makam Yesus hingga akhirnya Yesus menampakkan diri dan menyapanya secara pribadi. Sapaan dan perjumpaan secara pribadi dengan Tuhan inilah yang perlu untuk terus kita ingat dan renungan, sebab Ia telah menyapa hidup kita bukan tanpa tujuan, melainkan karena ada ‘misi besar’ yang harus kita emban dalam hidup ini.

“Apakah misi yang sedang Tuhan percayakan kepada kita?”

Frater Agustinus Hermawan OP

Tinggalkan Pesan