Pastor Markus Solo SVD (Foto arsip pribadi)
Pastor Markus Solo SVD (Foto arsip pribadi)

(Refleksi Paskah 2020)

Padre Marco SVD*

Seperti diceritakan Injil Yohanes, Maria dari Magdala atau disebut juga Maria Magdalena keluar dari rumah menuju kubur Yesus ketika masih gelap: gelap di langit dan gelap di hatinya (Yoh 20:1-). Dia tidak memikirkan bahaya kalau dia akan dihadang oleh orang-orang Yahudi yang masih menyimpan kebencian terhadap orang-orang dekat Yesus. Apalagi dia berjalan sendirian sebagai seorang perempuan.

Maria dari Magdala tidak membawa apa-apa di tangan seperti layaknya orang berziarah ke kuburan. Minyak nerwastu yang mahal miliknya sudah dia gunakan untuk membasuh kaki Yesus beberapa saat sebelumnya (Yoh 12:3). Tetapi mungkinkah ini keputusan yang dia ambil secara sadar? Entah apa yang terlintas di dalam pikirannya di pagi hari itu? Ataukah ini hanya sebuah kebetulan?

Yang dia bawa adalah dirinya sendiri dengan segala rasa cintanya kepada Yesus dan tentu saja hidupnya sendiri yang selalu dia syukuri, setelah Yesus mengusir tujuh jenis setan darinya (Lukas 8:2). Maria yang hidup dengan penuh syukur pergi untuk bertemu dengan pemberi kehidupan. Dengan kata lain: Kehidupan berpapasan dengan kehidupan.

Baru dua hari Maria sudah merasakan kehilangan Yesus luar biasa. Kesedihannya perlahan berubah menuju rasa kesal, mengapa semua itu harus terjadi. Dia yang sangat dikasihi itu masih sangat dibutuhkan di dalam hidup. Agaknya Maria nekad mendatangi kubur di pagi buta karena naluri kemanusiaannya memberontak melawan ketidakhadiran Yesus di antara mereka seperti sediakala. Ada kekurangan eksistensial, dan tempat itu tidak bisa diisi oleh siapapun. Hanya kenangan yang hidup dan penuh cinta akan dia yang sudah tidak ada, mampu kembali menghadirkan dia di ruang hampa itu, sekalipun di dalam roh semata.

Kira-kira itulah yang dimaksudkan oleh filsuf eksistensial ternama Perancis awal abad 20, Gabriel Marcel ketika dia berkata, “Mencintai seseorang berarti mengatakan kepadanya bahwa dia tidak akan mati!” Cinta Maria yang utuh akan Yesus menghantarnya kepada mujizat dan pengalaman adikodrati bahwa di tempat Yesus dibaringkan itu sudah terjadi perubahan. Malah dia melihat dan mengalami mujizat teragung: Kubur kosong, makam terbuka lebar seakan memancarkan sinar putih benderang dalam kesejukan fajar, terkuak seperti benih yang menggeliatkan tumbuhan baru dengan irama slow motion. Di sekitar pekuburan waktu itu sedang musim semi.

Yesus tidak ada lagi di sana. Maria memulai tahap pemahaman sebuah realitas baru dengan menggunakan pendekatan kemanusiaannya ketika melaporkannya kepada Petrus dan Yohanes, “Tuhan telah diambil orang dari kubur-Nya dan kami tidak tahu di mana Ia diletakkan”  (Yoh 20:2). Maria tahu, kubur kosong belum bisa menjadi bukti valid untuk sebuah kesimpulan final. Dia memulai dengan klaim yang paling mungkin terhadap sebuah kebenaran: Tuhan telah diambil orang. Maria Magdalena sepertinya menggunakan logika bahwa orang mati tidak akan bisa bergerak dengan sendirinya keluar dari kuburnya, kecuali ada orang yang memindahkannya. Dia juga tidak serta merta menggunakan kata “mencuri,” tetapi secara santun dan dalam rumusan pasif “diambil,” artinya bebas dari tuduhan ad hominem atau tuduhan langsung kepada pelaku-pelaku berwajah dan bernama.

Beda dengan penginjil-penginjil lain, misalnya Matius 28:1-20, Yohanes tidak menyinggung saksi Malaikat yang mengkonfirmasi kebangkitan Kristus. Dia sebagai penulis Injil ingin menekankan di sini validitas atau keabsahan kesaksiannya sendiri yang melihat langsung peristiwa kubur kosong; malah sebagai orang pertama yang berlari lebih cepat sehingga menjadi yang pertama melihat semuanya.

Yohanes juga ingin menekankan di sini kebenaran kata-kata Yesus sendiri selama masih hidup bahwa Dia akan dihukum, menderita sengsara dan wafat tetapi akan bangkit pada hari ke-tiga. Yohanes kembali menegaskan kebenaran Sabda Tuhan. Hal ini berbeda dari pengalaman kedua murid ke Emmaus yang baru mengenal Yesus setelah Dia sendiri yang menjelaskan semuanya kepada mereka akan peristiwa besar yang terjadi di Yerusalem, merekapitulasi ajaran-Nya ketika bersama-sama di Galilea, Samaria dan Yudea hingga berpuncak pada “Ekaristi” yang mengembalikan memori mereka akan Dia yang telah bangkit dan hadir bersama-sama dengan mereka (Lukas 24:13-35).

Apa pesan utama Paskah untuk kita kali ini?

Pertama: Paskah adalah sebuah perayaan yang sangat indah karena ia adalah perayaan kehidupan. Diceritakan dengan penuh makna: Bermula pada pagi hari. Mujizat kebangkitan menanti manusia pada awal sebuah hari baru. Ketika kegelapan malam telah berlalu dan dinamika kehidupan kembali kita miliki, perlulah kita ingat bahwa kita tidak sendirian. Tuhan sudah lebih dahulu berkarya dan mengatur segala sesuatu untuk kita.

Oleh karena itu, setiap pagi ketika kita sadar, kita wajib bersyukur kepada Tuhan bahwa Dia yang empunya kehidupan sudah lebih dahulu berkarya dan menanti kita dengan rahmat dan berkat-Nya. Ketika kita berjalan tapak demi tapak sepanjang hari bersama Tuhan, mujizat akan selalu mungkin. Tidak harus yang besar dan luar biasa. Tuhan bisa berkarya melalui pengalaman-pengalaman kecil dan sederhana yang mungkin tidak serta merta kita paham sebagai penyelenggaraan-Nya. Maria dari Magdala membutuhkan murid-murid yang lain hingga dia percaya akan campur tangan Tuhan di dalam apa yang dia alami.

Kedua: Mencintai seseorang artinya mengatakan kepadanya bahwa dia tidak akan mati (Gabriel Marcel). Tentu bukan berarti bahwa manusia mengambil hak prerogatif Tuhan yang menentukan hidup dan mati manusia. Mencintai seseorang sama halnya menghendaki segala yang baik terjadi padanya: Kesehatan yang baik, kesuksesan di dalam semua usahanya, tidak pernah didiskriminasi, tidak pernah diperlakukan secara tidak adil, tidak pernah dipermalukan, tidak pernah dicaci maki, tidak pernah ditolak, tidak pernah merasa sakit dan menderita. Singkat kata, menginginkan kebahagiaan yang sempurna untuknya. Itulah wujud cinta sejati.

Maria dari Magdala tidak membawa apa-apa ke kubur Yesus untuk diletakkan di atasnya. Sepertinya dia tahu bahwa dia bukan pergi untuk berurusan dengan Yesus yang telah wafat, melainkan dengan Yesus yang hidup. Untuk Yesus yang hidup, tidak pantas membawa sesuatu yang diperuntukkan untuk orang mati. Teringat kata-kata Dia yang sudah bangkit menurut narasi Penginjil lain: “Mengapa kamu mencari Dia yang hidup, di antara orang mati?” (Lukas 24:5). Cinta Maria dari Magdala adalah cinta yang mengarah kepada positive thinking, kepada kehidupan dan hasrat akan perjumpaan kembali setiap waktu.

Ketika hidup kita terasa rapuh di hadapan ancaman wabah pandemi Covid-19, kita sadar, bahwa kehidupan ini bukan sebuah kebetulan. Hidup ini sangat berharga. Orang-orang di sekeliling kita dilihat dengan sebuah kacamata baru. Entah kawan atau lawan, mereka jauh lebih disayangi dan dicintai dari sebelumnya. Dan kita senantiasa menginginkan yang terbaik untuk mereka. Cinta kita satu sama lain mendapat definisi dan karakter baru. Di level itu kita mengalami dan menghidupi, entah sadar atau tidak, apa yang dikatakan filsuf eksistensialis di atas: Menghendaki agar mereka yang kita sayangi tidak akan mati.

Di dalam terang pengharapan dan sukacita Paskah yang dibawa oleh Tuhan kita Yesus Kristus, marilah kita mensyukuri kehidupan ini, saat demi saat, hari demi hari, terutama setiap pagi ketika kesadaran kita menggapai terang hari baru. Kita tidak sendirian. Tuhan sudah menggeser batu rintangan, membuka jalan dan menerangi jalan hidup kita ke puncak hari baru. Di dalam kebangkitan-Nya, kita pun turut bangkit.

Selamat Pesta Paskah 2020.

Roma, Minggu Paskah, 12 April 2020

*Padre Marco (Pastor Markus Solo) adalah seorang imam SVD asal Indonesia yang sudah 12 tahun bertugas di Dewan Kepausan untuk Dialog Antarumat Beragama di Vatikan

Tinggalkan Pesan