betrayal

Pernahkah Anda menjumpai atau bertemu seseorang yang bernama Yudas? Saya sendiri belum pernah. Memang, orang tua yang mengerti atau pernah membaca Alkitab, pasti tidak akan memberi nama “Yudas” kepada anaknya, apalagi memilih nama itu sebagai nama baptis anaknya. Mengapa? Jawabannya tentu sangat sederhana, karena nama Yudas mengingatkan kita dengan sosok Yudas Iskariot, rasul yang mengkhianati Tuhan Yesus.

Padahal, Yudas berasal dari bahasa Ibrani ‘Yehuda’ yang artinya ‘dia bersyukur atau dia memuji’. Maka, nama Yudas atau Yehuda merupakan nama yang umum dipakai oleh orang Yahudi. Dalam Alkitab, selain nama Yudas Iskariot, kita bisa menjumpai tokoh-tokoh yang bernama Yudas atau Yehuda, di antaranya, Yehuda putra Yakub, Yudas Makabe seorang pahlawan Yahudi, Yudas saudara Yesus dan Yudas yang disebut juga Tadeus salah satu dari rasul Yesus.

Sahabat terkasih, tanpa terasa hari ini kita sudah memasuki hari Rabu dalam Pekan Suci, yang dikenal juga dengan ‘Spy Wednesday‘. Artinya, pada hari rabu ini kita kembali diingatkan dengan pengkhianatan yang dilakukan oleh Yudas Iskariot yang telah menjadi mata-mata (spy) di antara para rasul.

Dalam bacaan Injil hari ini, 8 April 2020, yakni Matius 26:14-25, Yesus berkata, “Anak Manusia memang akan pergi sesuai dengan yang ada tertulis tentang Dia, akan tetapi celakalah orang yang olehnya Anak Manusia itu diserahkan. Adalah lebih baik bagi orang itu sekiranya ia tidak dilahirkan.” Yudas yang hendak menyerahkan Dia itu menjawab, “Bukan aku, ya Rabi?” Kata Yesus kepadanya, “Engkau telah mengatakannya.”

Dengan berkata demikian, Yesus ingin menunjukkan bahwa Ia masih memberi kesempatan kepada Yudas untuk berubah dan mengurungkan niat jahatnya. Namun sayangnya, sekalipun Yudas berkata jika bukan dirinya yang akan berkhianat, tetapi hatinya berkata sebaliknya. Hal ini terjadi, karena hatinya sudah terikat oleh uang dan nafsu jahat.

Apabila kita bandingkan dengan kondisi saat ini, di tengah-tengah situasi sulit akibat pandemic Covid-19, ternyata masih ada orang-orang seperti Yudas yang begitu manis di mulut, seolah-olah berbuat baik dan menjanjikan bantuan kepada rakyat kecil, tetapi ada maksud terselubung di balik semuanya itu, seperti pencitraan, korupsi, hingga penipuan. Kenyataan pahit ini menunjukkan pengkhianatan terhadap nilai kemanusiaan.

Baiklah kita merenung sejenak, “adakah pengkhianatan yang secara tidak langsung telah kita lakukan, entah itu terhadap Allah, sesama maupun diri kita sendiri?” Semoga, Pekan Suci ini dapat menginspirasi bahwa ‘God loves the sinners, but hates sin‘ (Tuhan mengasihi pendosa, tetapi Ia membenci dosa). Hendaknya kita pun mau belajar untuk terus memperbaiki diri, dan mengasihi semua orang, termasuk para pendosa.

Dan, kabar gembira bagi kita ialah Tuhan Yesus rela menderita hingga wafat di salib, agar melalui kebangkitan-Nya, kita semua dapat memperoleh kesempatan memperbaharui hidup, sehingga pada akhirnya nama kita pun dapat terukir dengan indah di dalam buku kehidupan baik di dalam Surga maupun di dunia ini.

Frater Agustinus Chen OP

Tinggalkan Pesan