Pastor Aloys Budi Purnomo Pr dalam Misa Jumat Pertama dan Adorasi Sakramen Mahakudus di Gua Maria Regina Mojosongo, Solo, 5 Maret 2020
Pastor Aloys Budi Purnomo Pr dalam Misa Jumat Pertama dan Adorasi Sakramen Mahakudus di Gua Maria Regina Mojosongo, Solo, 5 Maret 2020

Ibu Maria menjadi Ratu Perdamaian bagi umat beriman karena selain hidupnya dihembusi oleh nafas yang adalah sumber kehidupan yakni Roh Kudus, Ibu Maria dengan tabah dan setia juga menyambut Roh yang menghidupkan itu di dalam rahimnya, tumbuhlah kehidupan baru yakni Yesus.”

Maka, lanjut Pastor Aloys Budi Purnomo Pr dalam Misa Jumat Pertama dan Adorasi Sakramen Mahakudus di Gua Maria Regina Mojosongo, Solo, 5 Maret 2020, yang dhadiri sekitar 400 umat, “setiap kali kita merayakan Ekaristi, Ibu Maria hadir di tengah-tengah kita, meneguhkan doa-doa kita, harapan kita, cita-cita kita, kerinduan kita untuk semakin serupa dengan Puteranya yang kita kenang, yang kita rayakan.”

Kepala Campus Ministry Unika Soegijapranata itu menegaskan, untuk menjadi pembawa perdamaian, bagi saya, “contoh yang paling indah, tidak ada lain kecuali Ibu Maria, yang dengan taat dan setia menyambut Roh Kudus yang memberi daya kehidupan baru untuk Putra Allah yang Mahatinggi di dalam rahimnya.”

Dan, lebih daripada itu, Ibu Maria mengandung dan melahirkan Kristus, sebagai Sang Raja Damai, tegas Pastor Budi seraya mengajak umat menyanyikan lagu “Nderek Dewi Maria”.

Umat Katolik, lanjut imam itu hendaknya juga bersyukur karena diberi ruang-ruang penuh berkah untuk berziarah. “Kata ziarah membawa kita bukan hanya ke satu tempat yang kita kunjungi saat berziarah di dunia ini, tetapi menjadi bingkai dan lambang perjalanan panjang kita menuju keabadian.”

Ketika berziarah ke tempat-tempat yang didedikasikan untuk Ibu Maria, lanjut Pastor Budi, “bersama Ibu Maria kita menuju kepada Bapa, Putera, dan Roh Kudus, dan dengan demikian, iman, harapan dan kasih kita diteguhkan. Kita sedang berjalan bersama Ibu Maria menuju keabadian.”

Peziarahan, tegas imam itu, tidak pernah berakhir di bumi ini, karena peziarahan kita adalah perjalanan menuju surga. “Saya menempatkan diri, aku sedang berjalan bersama Ibu Maria menuju keabadian. Dan bersama Ibu Maria Sang Ratu Perdamaian, moga-moga hidupku pun menjadi tanda damai sejahtera bagi orang lain,” kata Pastor Budi.

Pastor Budi pun mengajak umat, sesuai tugas perutusannya masing-masing, di mana berada, mulai di dalam keluarga, bersama Ibu Maria, supaya menjadi pembawa perdamaian bagi siapapun. “Oleh karena itu bersama Ibu Maria, mari kita memohon, agar tumbuh Roh perdamaian mulai dari diri kita, di dalam keluarga kita, di lingkungan kita, dan di manapun kita berada, menjadi tanda damai sejahtera, kini dan sepanjang segala masa.”

Namun, tegas imam itu, umat Katolik diajak bukan hanya mencita-citakan surga penuh kedamaian, tetapi menjadi wujud, tanda kehadiran kehidupan surgawi  itu, yang ditandai perdamaian, kerukunan, persaudaraan, dan kehidupan harmonis, kalau meminjam bahasa Arah Dasar dan Rencana Induk Keuskupan Agung Semarang, “mewujudkan peradaban kasih bagi masyarakat yang sejahtera, bermartabat, dan semakin beriman, apapun agama dan kepercayaannya.”(PEN@ Katolik/Lukas Awi Tristanto)

Ibu Maria 1

Tinggalkan Pesan