Pastor Benedictus Cahyo Christanto SJ (PEN@ Katolik/km)
Pastor Benedictus Cahyo Christanto SJ (PEN@ Katolik/krm)

Hidup sederhana merupakan salah satu keutamaan hidup yang dimiliki Santo Ignatius Loyola yang berasal dari keluarga berada (bangsawan). Dia menampilkan keberadaan itu dengan melepas segala kemewahan dan memilih menjadi abdi Kristus. Namun, kesederhanaan bukan berarti tidak memiliki apa-apa dan bukan juga berkelimpahan, tapi cukup.

Pastor Benedictus Cahyo Christanto SJ mengatakan hal itu dalam seminar sehari di lantai 3 aula Santa Maria Paroki Hati Santa Perawan Maria Tak Bernoda (HSPMTB) Tangerang, 22 Februari 2020, yang diikuti 148 peserta dari lima paroki lain di Tangerang yakni Paroki Karawaci, Paroki Kutabumi, Paroki Curug dan Paroki Villa Melati.

Seminar itu diselenggarakan oleh Komunitas Mitra Ignatian Paroki HSPMTB Tangerang. Mitra Ignatian sebagai kelompok kategorial paroki itu menghimpun umat untuk mendalami semangat atau spiritualitas hidup Santo Ignatius Loyola. Mitra Ignatian ini dibentuk tahun 2012 oleh Pastor Yohanes Wataya SJ, pastor rekan di Paroki HSPMTB saat itu.

Pastor Cahyo berharap agar dalam kehidupan iman di tengah modernitas sekarang ini umat tetap menunjukkan kesederhanaan, tidak ekstrim, bertanggungjawab dan tidak memiliki kelekatan dalam segi materi. “Tetaplah hidup sederhana, lepas bebas, gunakanlah sesuai konteks perkembangan zaman dan buatlah orang lebih bijak,” kata Pastor Cahyo.

Contoh hidup sederhana, lanjut Pastor Cahyo, bisa dijabarkan dalam kepemilikan alat komunikasi. Idealnya setiap orang memiliki satu handphone, tetapi akan menjadi ekstrim kalau di tengah teknologi maju ini demi kesederhanaan orang tidak punya handphone sama sekali. “Tapi akan menjadi ekstrim juga kalau orang punya 4-5 jenis handphone keluaran yang paling lama sampai produk terbaru.”

Sesungguhnya prinsip lepas bebas berarti, jelas imam itu, setiap orang memutuskan suatu secara sederhana, “tidak terbelit-belit, tidak ekstrim, menjadi pribadi ugahari, tidak berlebihan materi, secukupnya” atau “menggunakan semua sesuai perkembangan, selalu berubah, berkembang dan membuat orang lebih bijak,” kata imam itu.

Ketika masih hidup, cerita imam itu, Ignatius Loyola rajin berkorespondensi dengan Santo Fransiskus Xaverius. “Surat yang dikirim diterima oleh Fransiskus Xaverius setelah empat bulan sesudahnya. Meski demikian ia melakukan kebiasaan itu dan mengumpulkan 5000-an surat yang sangat penting dalam kehidupannya. Bahkan, tradisi menulis dilakukan saat ia mengalami sakit karena perang.”

Dalam kondisi sakit, Santo Ignatius Loyola juga rajin membaca buku santo-santa termasuk Santo Fransiskus Xaverius. Poin-poin penting dari kisah hidup santo-santa ditulisnya sehingga jadi bahan permenungan harian selagi sakit dan hanya terbaring di tempat tidur.

Dan di zaman ini, di tengah majunya alat komunikasi, Pastor Cahyo minta peserta, untuk sama seperti orang kudus itu “tidak menyerah terhadap kondisi yang ada, tetapi tetap menumbuhkan iman sehingga yang awalnya abdi kerajaan menjadi abdi Kristus.”

Menurut Pastor Cahyo, perkembangan ilmu teknologi khususnya internet, sesungguhnya adalah hadiah dari Tuhan. “Karena merupakan hadiah dari Tuhan, maka sejatinya internet dipakai untuk pertumbuhan iman setiap orang, bukan untuk mencari kesenangan duniawi,” lanjut imam itu.(PEN@ Katolik/Konradus Mangu)

Peserta seminar (PEN@ Katolik/krm)
Peserta seminar (PEN@ Katolik/krm)

Tinggalkan Pesan