Siswa-siswi SMP Pangudi Luhur Wedi Klaten bersama-sama menanam delapan tanaman dalam pot sebagai pertobatan ekologis di Hari Rabu Abu (PEN@ Katolik/lat)
Siswa-siswi SMP Pangudi Luhur Wedi Klaten bersama-sama menanam delapan tanaman dalam pot sebagai pertobatan ekologis di Hari Rabu Abu (PEN@ Katolik/lat)

Usai beribadat Rabu Abu dan menerima abu di dahi, siswa-siswi SMP Pangudi Luhur Wedi Klaten, Jawa Tengah, bersama-sama menanam delapan tanaman dalam pot untuk masing-masing kelas yang kemudian diletakkan di sekitar sekolah.

Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaaan SMP Pangudi Luhur Wedi, Teresia Sandra Maria, mengatakan, kegiatan Rabu Abu 26 Februari 2020 yang bernuansa ekologis itu sebenarnya sudah dimulai sebulan yang lalu “dengan mewajibkan anak-anak membawa tempat makan dan minuman sendiri di sekolah” dengan tujuan untuk mengurangi sampah plastik.

Berbagai kegiatan bernuansa ekologis itu, menurut Teresia, dilakukan untuk menyambut perayaan 100 Tahun Kehadiran Kongregasi Bruder FIC di Indonesia, yang salah satunya karyanya adalah di bidang pendidikan di bawah naungan Yayasan Pangudi Luhur.

Tanaman yang ditanam para siswa terdiri dari dua jenis bunga, dua jenis tanaman buah, dua jenis tanaman obat, dan dua jenis tanaman hias. 10 pot besar sebagai penangkaran bibit sudah disiapkan pihak sekolah dan semua guru dan siswa terlibat dalam kegiatan itu.

Kegiatan ekologis sangat selaras dengan ensiklik Paus Fransiskus Laudato Si’ (LS) tentang “Perawatan Rumah Kita Bersama”. Melalui dokumen yang tidak hanya ditujukan bagi umat Katolik itu, Paus menunjukkan keprihatinan akan bumi yang rusak dan memanggil umat Kristiani untuk melakukan pertobatan ekologis.

“Saudari ini sekarang menjerit karena segala kerusakan yang telah kita timpakan padanya, karena tanpa tanggung jawab kita menggunakan dan menyalahgunakan kekayaan yang telah diletakkan Allah di dalamnya. Kita bahkan berpikir bahwa kitalah pemilik dan penguasanya yang berhak untuk menjarahnya. Kekerasan yang ada dalam hati kita yang terluka oleh dosa, tercermin dalam gejala-gejala penyakit yang kita lihat pada tanah, air, udara dan pada semua bentuk kehidupan. Oleh karena itu bumi, terbebani dan hancur, termasuk kaum miskin yang paling ditinggalkan dan dilecehkan oleh kita. (LS 2).

Gereja Katolik di Indonesia sudah berusaha melakukan animasi dan gerakan nyata terkait perawatan bumi. Salah satunya adalah Keuskupan Bogor yang sejak masa Adven 2019 mengusung tema seputar sampah. Aksi Puasa Pembangunan (APP) 2020 Keuskupan Bogor secara lebih khusus mengangkat permasalahan sampah plastik.

Permasalahan lingkungan memang sudah sangat mengkhawatirkan. Gereja sudah tepat memberi perhatian serius, tinggal Gereja sebagai Umat Allah bahu membahu bersama masyarakat luas untuk berjuang merawat bumi ini secara nyata, termasuk mengatasi persoalan sampah plastik.

“Kita sebagai orang beriman menghadapi kemendesakan untuk segera bertindak sesuatu, memberikan sumbangan paling cerdas dan penyelesaian yang paling mudah diterapkan. Landasannya, kita harus melihat penggunaan plastik dan sampah plastik bukan lagi sebagai sesuatu yang di luar iman atau tidak ada kaitannya dengan iman. Perbuatan manusia harus menyiratkan iman,” tulis APP 2020 Keuskupan Bogor dengan judul “Umat Keuskupan Bogor Berkiprah Menyelamatkan Bumi dari Sampah Plastik.”

Pendidikan ekologis, tulis Paus, “dapat terjadi dalam berbagai konteks: sekolah, keluarga, media komunikasi, katekese.” (LS 213). Paus juga berharap, “Pendidikan lingkungan harus mempersiapkan kita melakukan lompatan ke “Misteri” yang memberi makna terdalam pada etika lingkungan. Pendidik harus juga mampu mengembangkan jalur-jalur pedagogis bagi etika ekologis, sehingga membantu orang secara efektif bertumbuh dalam solidaritas, dalam tanggung jawab, dan dalam perawatan penuh kasih.” (LS 210).(PEN@ Katolik/ Lukas Awi Tristanto)

Pertobatan Ekologis 2Pertobatan Ekolohis 3

Tinggalkan Pesan