Suasana Misa Konvenda VI (PEN@ Katoliki/vb)
Suasana Misa Konvenda VI (PEN@ Katoliki/vb)

Pembaruan bukan dari kita, tapi dari rahmat. Kita berusaha diperbarui oleh Roh Kudus. Pengalaman pembaruan atau diperbarui itu harus dan perlu kita bagikan kepada orang lain. Rahmat pembaruan, seperti gerakan pembaruan Roh Kudus, bisa termasuk karisma atau anugerah khusus dari Roh Kudus yang diberikan pada orang tertentu, rahmat khusus yang diberikan untuk kepentingan dunia dan Gereja.

Uskup Jayapura Mgr Leo Laba Ladjar OFM berbicara dalam homili Misa Pembukaan Konvensi Daerah (Konvenda) VI Persekutuan Doa Karismatik Katolik (PDKK) se-Tanah Papua yang tergabung dalam Badan Pelayanan Provinsi Gerejawi (BPPG) dengan tema “Bagikan Rahmat Pembaruan” dan sub-tema “Kobarkan Api Evangelisasi di Tanah Papua,” di sebuah hotel di Jayapura, 21-23 Februari 2020.

Dalam konvenda yang diikuti sekitar 300 peserta dari lima keuskupan, Merauke, Agats, Timika, Manokwari-Sorong, dan Jayapura itu, Mgr Laba Ladjar menegaskan perkataan Rasul Paulus bahwa karisma harus diikuti dengan kasih. “Karisma dibagikan bagi sesama seperti mutiara.  Anugerah pembaruan, sebagai karisma, perlu dibagikan dan disimpan untuk diri sendiri,” kata uskup.

Menurut uskup, di awal milenium, terdapat gerakan pembaruan dan semangat kembali ke Injil yang berkobar-kobar. Namun, lanjut uskup, gerakan itu cepat lenyap, karena semangat berkobar-kobar dari Roh Kudus tidak diberikan dasar tepat yang tidak melawan (hirarki). Mereka merasa mendapat karunia Roh Kudus dan tidak perlu memerlukan hirarki, seperti slogan beberapa waktu lalu, ‘Yesus Kristus Yes, Gereja No’.”

Dikatakan, ada juga gerakan melebih-lebihi Roh Kudus dan menyingkirkan peranan Allah Bapa dan Allah Putra, namun berbagai kesesatan dalam pembaruan itu cepat hilang dan lenyap karena salah jalan. Di tengah ramainya gerakan Injili di awal milenium, kata uskup, muncul Santo Fransiskus Asisi.

Mgr Laba Ladjar berharap peserta gerakan Karismatik Katolik bisa ikuti cara tepat gerakan pembaruan Santo Fransiskus Asisi dalam Gereja dengan penuh ketaatan pada hirarki. “Gerakan pembaruan Gereja oleh Santo Fransiskus Asisi bertahan sampai sekarang, karena mengambil cara tepat (tidak melawan hirarki), tapi taat kepada pimpinan Gereja.

Misalnya, saat Fransiskus mendapat pesan untuk memperbaiki gereja yang mau roboh, dia tak langsung merasa mendapatkan karisma untuk mengerjakannya tapi menghadap uskup setempat dan meminta ijin. Dengan ijin itu dia memperbarui gereja itu dengan semangat Injili dalam persaudaraan hina dina.

Mgr Leo berpesan agar peserta bekerja sama dalam Roh Kudus, “yang bukan roh pemecah belah.” Para anggota PKK, tegas uskup, bisa bekerja sama dan aktif dalam berbagai kegiatan paroki dan komunitas basis. Bahkan, menurut uskup, membangun kerukunan dan persekutuan bisa diawali dari kelompok karismatik. “Dan, persatuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus menjadi konkret di masyarakat, kalau peserta konvenda ini membawa Roh Persatuan itu ke berbagai pelosok Tanah Papua.”

Selain Mgr Laba Ladjar, menurut Ketua Panitia Konverda VI Theresia Lydia Rita Arfayan, peserta, termasuk Wakapolda Papua Yacobus Marjuki dan istri serta Wakil Bupati Kerom Piter Gusbager dan istri, mendengarkan masukan dari Badan Pelayanan Nasional (BPN) BPK Endie Rahardja, Krismanto, dan Pastor Stevie Winarto Pr dari Jakarta, juga Uskup Agats Mgr Aloysius Murwito OFM, Pastor John Bunay Pr, Pastor Marianus SVD, dan Pastor Hubertus Magai Pr.

Rangkaian pembukaan konvenda ditutup dengan berbagai penampilan setiap keuskupan. Dua hari sebelum konvenda, pengurus BPK bersama para pastor moderator se-Papua mengadakan kegiatan di tempat yang sama untuk berbagi pengetahuan dan mendapatkan perbekalan agar menyatu dan membimbing domba-dombanya seturut ajaran Kristus dan iman Katolik.

Selain mendengarkan masukan dari Advisor Episkopal Karismatik Mgr Hendrikus Pidyarto OCarm dan Endei Raharja tentang “Pemimpin Kristiani Yang Berkarakter Kristus,” rapat pengurus BPPG yang dihadiri oleh 18 orang mewakili BPK lima keuskupan di Tanah Papua memilih pengurus BPPG yang lama untuk melanjutkan karyanya, Yohanes Budiman. “Salah satu kegiatan ke depan adalah mendorong setiap BPK untuk membentuk Persekutuan Doa Karismatik Orang Muda,” kata Yohanes.

PKK, menurut Yohanes, diperkenalkan ke Tanah Papua oleh Ibu Ganadi dari Keuskupan Manokwari-Sorong setelah dia mengikuti kegiatan itu di Jakarta tahun 1996. Tahun itu, tim dari Jakarta mengadakan seminar PKK di Keuskupan Manokwari Sorong dan terbentuklah PD pertama di Tanah Papua yaitu PDKK Bunga Bakung. Dari keuskupan itu diperkenalkan ke Keuskupan Jayapura dengan seminar dan Misa tahun 1996 dan terbentuklah PDKK pertama di Katedral Jayapura. Tahun 1997, PKK masuk ke Keuskupan Agung Merauke.

Konvenda VI ditutup dengan Misa di Gereja Kristus Juru Selamat, Kota Raja, yang dipimpin Mgr Aloysius Murwito OFM dengan beberapa imam konselebran. “Pembukaan konvenda diadakan di hotel dan penutupan diadakan di gereja menandakan bahwa peserta konvenda harus kembali ke gereja setempat dan bergabung dengan umat paroki,” kata Uskup Agats itu seraya berharap, “api pelita konvenda tetap menyala dalam setiap peserta, menerangi tempat-tempat peserta tinggal dan memberikan kesaksian Injil kepada yang lain.”(PEN@ Katolik/Frater Vincent Budi)

Konvenda 3
Ketua BPPG Merauke Budiman (kiri) bersama Endie Raharja dari BPN BPK

Konvenda 2Konvenda

Tinggalkan Pesan