Pimpinan Seminari BSB Pastor Deodatus Du'u menerima anggota DPRD Sikka antara lain Ketua DPRD Sikka Donatus David, (tengah) dan Ketua Komisi 3 Alfridus Aeng (kanan), (Foto berdasarkan SuaraSikka.com)
Pimpinan Seminari BSB Pastor Deodatus Du’u menerima anggota DPRD Sikka antara lain Ketua DPRD Sikka Donatus David, (tengah) dan Ketua Komisi 3 Alfridus Aeng (kanan), (Foto berdasarkan SuaraSikka.com)

Hari Rabu Abu, 26 Pebruari 2020, Ketua DPRD Sikka Donatus David, Ketua Komisi 3 Alfridus Aeng, Wakil Ketua Komisi 3 Wens Wege dan beberapa anggota DPRD Sikka, Philips Fransiskus, Alfonsius Ambrosius, Filario Charles Betrandi, Yosef Nong Soni, Petrus Woda, Florensia Klowe, dan Linda da Rato mendatangi Seminari Bunda Segala Bangsa (BSB) Maumere. Kedatangan mereka diterima oleh Pimpinan Seminari BSB Pastor Deodatus Du’u dan kepala SMP Seminari BSB Pastor Felix Dari dan pertemuannya berlangsung tertutup.

Usai pertemuan, Donatus David mengatakan kepada awak media termasuk PEN@ Katolik bahwa “kehadiran kami di lembaga ini untuk mengetahui duduk persoalan kasus ini yang sudah viral di medsos.” Menurut Donatus, Seminari BSB mengakui kejadian itu, namun “pemberitaan media yang menyebutkan makan feses itu yang dipersoalkan, pemahaman tentang makan berbeda sehingga pimpinan Seminari itu mengklarifikasi.”

Rilis itu menegaskan dalam huruf kapital bahwa “terminologi ‘makan’ yang dipakai oleh beberapa media saat memberitakan peristiwa ini, agaknya kurang tepat sebab yang sebenarnya terjadi adalah salah seorang kakak kelas ‘menyentuhkan’ senduk yang ada feses pada bibir atau lidah siswa kelas VII.”

Peristiwa ini, tegasnya, “terjadi di kamar tidur unit SMP kelas VII dan bukan di ruang kelas sebagaimana diberitakan media kumparan.com.” Dan, “peristiwa ini tidak dilakukan oleh pembina atau pendamping (Romo dan Frater) sebagaimana diberitakan beberapa media, tetapi oleh salah seorang siswa kelas XII.”

Pihak Seminari Bunda Segala Bangsa, tulis rilis itu, “bukan tidak mau diwawancarai sebagaimana diungkapkan dalam pemberitaan kompas.com, melainkan ingin terlebih dahulu melakukan pertemuan integral untuk kemudian disampaikan kepada media pada waktunya.” Ditambahkan, “Pihak Seminari Bunda Segala Bangsa tidak pernah melakukan pembiaran terhadap segala bentuk kekerasan dan bullying dalam bentuk apapun, dan selalu bertindak tegas apabila terjadi hal-hal demikian.”

Menurut Donatus, persoalan itu adalah persoalan kebersihan dan kejadiannya di asrama, antara kakak kelas dengan adik-adiknya, bukan dengan pembina. Juga diakui, apa yang dibuat oleh kedua kakak kelas itu bukan aturan yang ditetapkan di seminari itu.

Meski demikian, DPRD Sikka menyayangkan apa yang telah  terjadi di lembaga pendidikan calon imam itu. Solusinya, menurut para wakil rakyat itu, “pihak penyelenggara sekolah ini harus terbuka dan koordinasi dengan pemerintah harus jalan.”

DPRD Sikka juga mengapresiasi kebijakan sekolah “merumahkan” kedua pelaku. Tetapi Donatus berharap pihak sekolah “jangan menghilangkan hak mereka untuk mendapatkan pendidikan, karena keduanya sedang berada di kelas XII SMA, yang sebentar lagi akan mengikuti Ujian Nasional.”

Pastor Deodatus mengakui, pihak sekolah telah memanggil orang tua kedua pelaku dan membawa keduanya tinggal di rumah orang tuanya berdasarkan kesepakatan rapat bersama orang tua. Tetapi mereka tetap berhak untuk belajar di Seminari BSB seperti mengikuti pelajaran tiap hari, try out hingga ujian nanti.

“Semua yang telah terjadi di luar kontrol kami. Kami mohon maaf kepada orang tua dan semua pihak. Kejadian ini menjadi pembelajaran untuk kami berbenah. Di lembaga pendidikan ini kami tidak mengajarkan kekerasan atau mem-bully,” lanjut mantan Praeses Seminari Mataloko itu.

Edel, yang anaknya menjadi korban, mengatakan kepada PEN@ Katolik bahwa awalnya dia dan suaminya sangat marah. “Tetapi bertepatan dengan masa puasa, sebagai orang yang beriman, kami maafkan.”(PEN@ Katolik/Yuven Fernandez)

Siaran pers atau rilis Seminari Menengah Santa Maria Bunda Segala Bangsa tertanggal 25 Februari 2020, yang ditandatangani oleh Pastor Deodatus Du’u untuk menanggapi informasi yang berkembang dengan variasi judul tentang 77 anak yang Dihukum Makan Kotoran, 19 Februari 2020, itu bisa dibaca secara lengkap di bawah ini:

Rilis 1Rilis 2

(Foto PEN@ Katolik/yf)
(Foto PEN@ Katolik/yf)

Tinggalkan Pesan