Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus bersama Pimpinan Umum Bruder MTB se-Indonesia Bruder Rafael Donatus MTB (PEN@ Katolik/semz)
Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus bersama Pimpinan Umum Bruder MTB se-Indonesia Bruder Rafael Donatus MTB (PEN@ Katolik/semz)

Dengan iringan tarian tradisional Dayak, para Bruder MTB berarak bersama Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus memasuki Gereja Santo Fransiskus Assisi Singkawang, Kalimantan Barat. Di pagi hari 23 Februari 2020 itu, dirayakan Misa untuk Pencanangan 100 Tahun Karya Bruder MTB di Indonesia dengan tema “Mendidik Tanpa Batas.”

Atas undangan Vikaris Apostolik Pontianak Mgr Pacificus Bosch OFMCap, lima bruder dari Huijbergen, Belanda, mendarat di Pontianak, 9 Maret 1921. Mereka adalah Bruder Canisius, Bruder Maternus, Bruder Serafinus, Bruder Longinus dan Bruder Leo Geers. Perjalanan mereka diteruskan dengan kapal ke Singkawang, dan tiba di Kota Seribu Kelenteng itu, 11 Maret 1921. Di sana mereka dinamakan ‘bruder putih’ yang melayani pendidikan.

Menurut pimpinan umum Bruder MTB se-Indonesia, Bruder Rafael Donatus MTB, tanggal 11 Maret 2021 Kongregasi Bruder MTB akan mengenang 100 tahun kehadiran mereka di Indonesia, dan “kami ingin melihat kembali apa yang mendorong para bruder itu datang ke kota kecil Singkawang.”

Kongregasi Bruder MTB didirikan tanggal 25 September 1854 di Desa Huijbergen oleh Uskup Breda Mgr Johanes van Hooydonk dengan nama lengkap Bruder-Bruder Kristiani Santa Maria Perawan Tersuci dan Bunda Allah yang Dikandung Tanpa Noda.

Situasi perang saat itu mengakibatkan banyak anak di Belanda bagian Selatan menderita, bahkan jadi yatim piatu yang terlantar pendidikannya karena keadaan sosial ekonomi merosot. Pendidikan anak dalam keluarga asuh pun sering tidak memberi harapan memuaskan. Kenyataan itu mendorong Mgr van Hooydonk mengumpulkan anak-anak yatim piatu di sebuah biara tua di Huijbergen. Di sana ada tiga pemuda siap membimbing dan mendampingi anak-anak yang menjadi bibit pertama para bruder MTB.

Karya pertama para bruder itu adalah mengajar di Hollands Chinese School (HCS) dan mengelola asrama untuk anak-anak miskin yang ditemukan oleh pastor atau bruder, sebagian besar anak-anak pekerja tambang emas yang berasal dari Tiongkok.

Hidup dan karya untuk HCS merambat ke Pontianak tahun 1924. Tahun 1935 mereka mulai bekerja sama dengan para Misionaris MSF di Banjarmasin. Tahun 1939 mencapai Blitar, Jawa Timur. Di sana, tiga bruder mengajar di Hollands Indische School (HIS) dan menangani asrama. Akhir Juli 1940, Bruder Gaudentius berangkat ke Kudus bersama biarawan MSF dan kemudian ke Pati, Jawa Tengah.

Kini para bruder MTB berkarya di bidang pendidikan dan pembinaan generasi muda di Keuskupan Agung Pontianak, Keuskupan Sanggau, Keuskupan Sintang, Keuskupan Agung Semarang dan Keuskupan Agung Merauke.

Dalam homili Misa dengan konselebran Kepala Paroki Santo Fransiskus Assisi Singkawang Pastor Stephanus Gathot Purnomo OFMCap dan Pastor Jack Dambe CJD, Mgr Agus yang pernah dididik oleh para Bruder MTB mengaku, “Saya bisa sampai sekarang juga berkat peranan dari Bruder MTB yang mendidik baik di asrama, dalam musik, maupun di dunia pendidikan.”(PEN@ Katolik/semz)

MTB 2MTB

Tinggalkan Pesan