Mgr Agus memotong tumpeng dalam perayaan 20 tahun Tahbisan Uskup di Singkawang (PEN@ Katolik/semz)
Mgr Agus memotong tumpeng dalam perayaan 20 tahun Tahbisan Uskup di Singkawang (PEN@ Katolik/semz)

Dalam setiap peristiwa ada cerita, dan dari cerita itu saya bersaksi. Sewaktu saya masih pastor muda, setelah menyelesaikan pendidikan di New York, saya ke Roma. Singkat cerita, saya bertemu Paus Yohanes Paulus II tahun 1985, berjabat tangan dan makan satu meja dengan beliau.  Saya rasakan, pertemuan-pertemuan dengan Paus Yohanes Paulus II, Paus Benediktus ke XVI dan Paus Fransiskus adalah salah satu jalan yang menguatkan panggilan saya sebagai gembala.

Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus mengungkapkan hal itu dalam Pesta Tahbisan Episkopat ke-20 di Paroki Santo Fransiskus Assisi Singkawang, Kalimantan Barat, 15 Februari 2020, yang dihadiri Kepala Paroki Singkawang Pastor Gatot Purtomo OFMCap, Staf Ahli Bidang Hukum, Politik dan Pemerintahan Singkawang Libertus, Ketua DPRD Bengkayang Fransiskus, Anggota DPRD Provinsi Kalbar Bong Cin Nen, Kominfo Singkawang Ahyadi, dan ratusan umat.

Mgr Agus ditahbiskan sebagai Uskup Sintang oleh penahbis utama Uskup Agung Jakarta waktu itu Julius Kardinal Darmaatmadja, 6 Februari 2000. Tahta Suci kemudian mengangkat Mgr Agus sebagai Uskup Agung Pontianak 3 Juni 2014. Perayaan 20 Tahun Tahbisan Uskup Mgr Agus dirayakan dengan Misa di Katedral Pontianak dan peluncuran buku tentang rekam jejak pastoral Mgr Agus berjudul “Dengarkanlah Uskupmu.”

Menurut Mgr Agus, tugasnya adalah menggembalakan umat, “bukan hanya dari Katolik, sebab sebagai tokoh saya harus memberikan contoh untuk setiap masyarakat yang saya temui.” Juga diakui, semua hal bisa dia lalui “karena campur tangan dan kebaikan Tuhan,” sebab “saya dari kampung, menjadi uskup agung bukanlah perjalanan singkat, dan itu merupakan momen yang saya pikir sudah Tuhan rencanakan.”

Wakil Ketua Panitia Ambrosius Kingking berterima kasih karena Mgr Agus memilih Paroki Singkawang sebagai tempat perayaan bersama umat yang pembiayaannya ditanggung oleh paroki, donator dan umat “yang juga berterima kasih untuk teladan, semangat, pelayanan luar biasa, serta motivasi” yang Mgr Agus berikan. “Teladan itu membangkitkan semangat keberagaman di Paaroki Singkawang,” katanya.

Menurut Libertus setiap orang berhak menjalankan kewajiban agama dan pemerintah berkewajiban membimbing dan merukunkan umat beragama di tengah masyarakat. “Mari kita sama-sama bersatu menjaga keindahan keberagaman dalam hidup bermasyarakat dan hidup beragama,” mintanya.

Sebelumnya dalam Misa, Mgr Agus menjelaskan moto tahbisannya “Instaurare Omnia In Christo” (mempersatukan semua dalam Kristus, Ef 1:10). Moto itu dipilih karena “ketika pertama bertugas menjadi Uskup Sintang, saya dihadapkan oleh berbagai macam perpecahan yang terjadi antara umat Katolik di sana.” Dengan moto itu Mgr Agus berharap kehadirannya di mana pun, “dapat menjadi pemersatu, dan kehadiran saya mampu jadi pembawa kesatuan antara semua umat.”

Tanpa persaudaraan, lanjut uskup dalam homili, mustahil hidup di tengah masyarakat akan menjadi baik. Kita juga membutuhkan orang lain untuk hidup bersama. Moto itu, jelas uskup, juga berarti ‘semua dipersatukan dalam Kristus’. “Hanya dengan iman kepada Yesus kita bisa tetap satu, tanpa peduli latar belakang maupun derajat sosial dan budaya,” tegas Mgr Agus.(PEN@ Katolik/semz)

Artikel Terkait:

“Dengarkanlah Uskupmu” mewarnai 20 Tahun Tahbisan Uskup Mgr Agustinus Agus

20 tahun Uskup Mgr Agus 320 tahun Uskup Mgr Agus 420 tahun Uskup Mgr Agus 5

Tinggalkan Pesan