Sr Vianita 5
Suster Maria Vianita OP saat merayakan 25 tahun hidup membiara di Katedral Purwokerto 15 Oktober 2017. (PEN@ Katolik/pcp)

SUSTER MARIA VIANITA OP berkarya sejak 4 Juni 2012 sebagai perawat di Klinik Fatima Rawaseneng yang terletak di Kompleks Pertapaan Santa Maria Rawaseneng di Desa Ngemplak, Kandangan, di Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah.

Menurut Wikipedia, di awal berdirinya Pertapaan Santa Maria Rawaseneng, para rahib membuka poliklinik karena kebutuhan masyarakat sekitar. Poliklinik itu kemudian dibantu oleh relawan dokter dari Belanda. Pastor Nicasius, yang dikenal memiliki rasa humor tinggi, bertindak sebagai Pastor Dokter, yang sesuai laporan 1957 setiap hari menerima sekitar 60 pasien yang memberikan hasil bumi seperti pisang, gula, dan telur, sebagai imbalan sukarela. Lama kelamaan para rahib menyadari layanan seperti itu tidak sesuai cara hidup Ordo Trapis. Maka tahun 1962, mereka menyerahterimakan layanan itu kepada para suster dari Kongregasi Suster-Suster Santo Dominikus di Indonesia (OP).

Para Suster OP di Rawaseneng sudah merayakan Peringatan Hari Orang Sakit se-Dunia (HOSD), 11 Februari, setiap tahun sejak 2014, lewat Klinik Fatima yang mereka jalankan. Untuk mengetahui sejauh mana perayaan itu dilaksanakan, Paul C Pati dari PEN@ Katolik mewawancarai Suster Vianita OP.

Saat ini, suster yang merayakan 25 tahun hidup membiara di Katedral Kristus Raja Purwokerto 15 Oktober 2017, sedang mengejar S1 Keperawatan dan bertugas di Panti Asuhan Pondok Si Boncel Jakarta. Ketika berkarya di Rawaseneng, Suster Vaniata OP senang mengunjungi pasien, mengurus kebun, dan membantu memasak bila banyak tamu di Rumah Retret Santa Rosa Rawaseneng.

PEN@ Katolik: Apakah para suster di Klinik Fatima Rawaseneng setiap tahun merayakan HOSD?

SUSTER MARIA VIANITA OP: Betul. Kami para Suster OP merayakan HOSD yang pertama tahun 2014 dengan mengunjungi dan memeriksa sembilan warga masyarakat yang sakit, kemudian melaksanakan pengobatan gratis bagi 80 lansia. Bahkan sebelum saya bertugas di Rawaseneng Posyandu untuk lansia sudah dilaksanakan.

Sejak 2015, kami merayakan doa bersama umat Muslim, Misa, makan bersama, dan pengobatan gratis bagi lansia. Perayaan itu dilaksanakan bersama oleh Paroki Santo Petrus Paulus Temanggung, Pertapaan Santa Maria Rawaseneng dan Klinik Fatima Rawaseneng.

Sejak tahun 2015 hingga tahun 2020, jumlah lansia yang mendapat pengobatan gratis setiap tahun di Klinik Fatima Rawaseneng yang dikelola para suster OP sebanyak 100 orang. Sejak 2016, hari Kamis minggu ketika ditetapkan untuk pengobatan gratis, dan pada kegiatan HOSD ditambahkan dengan senam bersama sejak 2017.

Dengan bantuan Pertapaan Santa Maria Rawaseneng, HOSD 2016 khusus dilaksanakan di Candi Hati Kudus Yesus Ganjuran dengan kegiatan doa bersama umat Muslim dan dilanjutkan dengan Misa dan doa pribadi di depan candi. Rekreasi ke Pantai Depok dengan senam dan makan bersama diikuti 80 orang.

Setiap HOSD dimulai dengan doa bersama. Maksudnya, yang Katolik juga berdoa secara Muslim?

Ya, setiap perayaan HOSD selalu diawali dengan doa bersama secara Muslim kemudian Misa secara Katolik. Umat Katolik mengikuti doa secara Muslim dan kemudian umat Muslim juga mengikuti perayaan Ekaristi. Namanya juga bersama, dilaksanakan bersama-sama. Ternyata, seluruh rangkaian doa bersama terlaksana dengan hikmat dan baik. Dalam Perayaan Ekaristi, sesudah komuni, juga diberikan Sakramen Pengurapan Orang Sakit bagi umat Katolik yang sakit. Agar umat Katolik dan Muslim yang sakit bisa hadir, disediakan juga penjemputan.

Mengapa para suster melaksanakan HOSD setiap tahun?

Kegiatan tahunan itu kami lakukan untuk menanggapi ajakan Bapa Suci lewat Pesan Hari Orang Sakit se-Dunia untuk peduli kepada saudara-saudari yang sakit dengan mendoakan mereka dan mendoakan juga tenaga kesehatan. Selain itu, kegiatan itu sesuai visi kami, “Persaudaraan Suster-Suster Santo Dominikus yang kontemplatif aktif, hadir, dan terlibat dalam Gereja dan masyarakat Indonesia yang majemuk sebagai pewarta kebenaran, yang bersikap belarasa, sungguh-sungguh dan religius, penuh kegembiraan demi keselamatan jiwa-jiwa.” Tentunya, mengacu pada tujuan kesehatan nasional yakni “terwujudnya derajat kesehatan masyarakat setinggi-tingginya,” kami sebagai pelayan kesehatan ikut ambil bagian dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Rawaseneng dan sekitarnya.

Sepertinya HOSD jadi kesempatan menjalin persaudaraan lintas iman. Apa tanggapan suster?

Visi kongregasi kami diawali oleh persaudaraan. Kami mengajak masyarakat Rawaseneng untuk mewujudkan persaudaraan tanpa melihat dan membedakan agama. Kita semua bersatu, rukun dan bersaudara, dan di Rawaseneng kami merasakan jalinan persaudaraan, kerukunan dan persaudaraan. Kami saling menghargai dan menghormati sesama yang sedang beribadat.

Persaudaraan para lansia terwujud dalam kebersamaan HOSD yakni lewat doa bersama, memasak bersama untuk menjamu 300 undangan, dan bersama-sama dengan senang hati berbagi tenaga dan apa yang mereka miliki seperti sayuran dan lauk.

Lalu, apa peran para suster dalam peringatan itu?

Dalam HOSD, peran kami sebagai hamba seperti tertulis dalam Lukas 17:10 yakni “Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna, kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan.” Tepatnya, kami ingin melayani umat dan masyarakat, dengan pertama-tama berbicara bersama apa yang akan kami buat pada HOSD, siapa yang akan diundang, kegiatannya apa, dan siapa yang akan memasak. Kami pun berbagi tugas, siapa mencari dana, siapa menyiapkan liturgi, siapa menyiapkan souvenir. Kami pun mengajak, melibatkan dan menyemangati para lansia, misalnya dalam masak bersama untuk menjamu 300 orang.

Bagaimana para suster memahami dan menjalankan HOSD dalam semangat Santo Dominikus?

Kami menyadari bahwa kelompok lansia adalah suatu komunitas yang terdiri dari berbagai karakter, latar belakang, dan agama, maka kami melaksanakan senam bersama dan pemeriksaan kesehatan bagi mereka semua agar mereka menjalin persaudaraan.

Kami pun mengajak komunitas lansia ini untuk berbelarasa yakni mendoakan sesama yang sakit dan para tenaga kesehatan sesuai ajakan Paus Fransiskus dalam peringatan HOSD, dan menjadikan doa, yang selalu diberikan tempat pertama dalam setiap peringatan HOSD, sebagai sumber kekuatan dalam hidup dan kegiatan mereka.

Selain mengajak komunitas lansia untuk berbicara bersama atau berdialog, dalam HOSD kami berharap mereka bisa membentuk persaudaraan dengan semangat berbagi apa yang dimiliki, baik tenaga, pikiran, benda (sayur, lauk) yang mereka sumbangkan demi kebersamaan dalam komunitas itu.

Apakah suster senang melihat kebersamaan para lansia?

Ya, saya senang melihat mereka mengerjakan persiapan dan kegiatan HOSD dengan penuh kegembiraan dan penuh senyuman. Ternyata, mereka bisa diajak menjadi berkat bagi keluarga, umat dan masyarakat. Meskipun usia mereka sudah lanjut, tapi semangat mereka tetap muda. Inilah yel-yel Lansia Fatima Rawaseneng, “Aku sehat, aku bahagia, Yes ….Yes….Yes, Berkah Dalem!”***

#penakatolik

Sr Vianita 9
Suster Maria Vianita OP (kedua dari kiri) dalam rangkaian pesta Kaul Kebiaraan dan Hidup Membiara 50, 40 dan 24 tahun dalam Kongregasi Suster-Suster Santo Dominikus di Indonesia di Katedral Purwokerto 15 Oktober 2017 (PEN@ Katolik/pcp)

HOSD 2HOSD 3HOSD10HOSD 8HOSD 1HOSD 6HOSD

Tinggalkan Pesan