Nyonya  Philip Ataga dan Michael Nnadi yang dibunuh oleh penculik mereka.   (foto dari pmnewsnigeria.com)
Nyonya Philip Ataga dan Michael Nnadi yang dibunuh oleh penculik mereka.
(foto dari pmnewsnigeria.com)

Pius Kanwai (19), Peter Umenukor (23), Stephen Amos (23), dan Michael Nnadi (18) diculik dari Seminari Gembala Baik di Kaduna, Nigeria, sekitar pukul 10:30 tanggal 8 Januari 2020 oleh orang-orang bersenjata.

Salah seorang frater dibebaskan setelah sepuluh hari tetapi dengan luka-luka serius yang diderita di tangan para penculiknya. Tanggal 2 Februari, sehari setelah pembebasan dua frater lainnya, muncul berita mengejutkan bahwa frater keempat, Michael Nnandi, telah dibunuh oleh para penculiknya. Michael adalah yang termuda dari empat frater itu.

Dua frater dari Kolese Kepausan Urbanianum Roma, Peter Ameh dari Nigeria dan Lenin Mudzingwa dari Zimbabwe berbicara dengan Vatican News tentang reaksi mereka terhadap penculikan itu.

“Penculikan dan pembunuhan frater mengatakan kepada saya bahwa kami hidup dalam situasi sangat berbahaya. Kami tidak tahu apa yang akan terjadi nanti. Kehidupan manusia tidak lagi dihormati dan bisa diambil sesuka hati. Inilah situasi sangat menakutkan yang mengatakan kepada saya bahwa ya, saya bisa jadi frater, tetapi tidak berarti saya tidak harus siap memberikan hidup saya bahkan pada tahap ini demi Injil. Walau menakutkan, situasi itu menghibur saya karena saya pun tahu bahwa kalau saudara saya bisa menjadi korban, kalau saudara saya bisa menderita demi Injil, saya juga harus terbuka dengan setiap kemungkinan dalam kehidupan ini,” kata Peter Ameh, frater tahun kedua dari Keuskupan Jalingo di Nigeria.

Mahasiswa teologi tahun pertama dari Keuskupan Gweru di Zimbabwe, Lenin Mudzingwa mengatakan, “Ketika seorang frater terluka, setiap frater terluka.” Menurut Lenin, penculikan dan pembunuhan itu bukan hanya persoalan bagi para frater Nigeria saja. Peristiwa tragis itu, katanya, menyentuh semua orang di dalam bahkan di luar Gereja.

Merasakan situasi yang mereka alami, “Saya akan sangat takut. Saya akan takut. Jangan sampai saya hadapi situasi dan lingkungan mengancam seperti itu. Situasi itu mematahkan semangat. Tapi saya berdoa dan percaya bahwa di sisi lain, situasi itu lebih memberanikan saya, saya juga bisa menghadapinya karena orang lain telah melakukannya. (Menyerahkan hidup mereka untuk Injil),” kata Lenin.

Ketika berita tragis itu menyebar ke institusi mereka di Roma, para frater mahasiswa mengatakan mereka benar-benar berdoa bagi keempat korban itu, rekan Nigeria mereka dan keluarga terkait.

Dalam kampanye pemilu, politisi Nigeria menjanjikan keamanan lebih besar. Peter percaya, inilah waktunya bagi mereka untuk memenuhi janji itu.

“Banyak yang bisa dilakukan untuk melindungi para frater di Kaduna, khususnya seminari ini, yang terletak di jalan raya yang terkenal karena kegiatan kriminalnya (Jalan Ekspres Abuja-Kaduna).  Banyak yang bisa dilakukan untuk melindungi semua seminari di dunia, terutama di Nigeria. Ya, para frater dilatih untuk menjadi imam-imam Gereja, tetapi itu tidak menghilangkan fakta bahwa mereka juga warga negara. Negara harus melindungi setiap kehidupan tanpa mempertimbangkan afiliasi agama,” kata Peter.

Kedua frater mahasiswa itu mengatakan bahwa terlepas dari penculikan itu, keinginan mereka untuk melayani Tuhan dan Gereja tidak terhalang.

“Lebih banyak orang siap melayani Tuhan. Semakin banyak orang masuk seminari untuk menjadi imam dan bersiap memberitakan Injil sesuai perintah Kristus,” tegas Peter. Ada sekitar 270 frater di Seminari Tinggi Gembala Baik Kaduna.

Keamanan bagi para imam, suster, frater, dan pendeta dari denominasi Kristen lain adalah keprihatinan yang signifikan bagi umat Kristen di Nigeria. Namun, meskipun penculikan petugas religius selalu jadi berita besar, orang awam juga mengalaminya dan menderita.

Bersama Frater Michael Nnadi, geng penculikan Kaduna juga membunuh istri seorang dokter yang berbasis di Kaduna, Philip Ataga. Para penculik akhirnya membebaskan kedua anaknya yang diculik bersama dia.(PEN@ Katolik/pcp berdasarkan laporan Fortunate Nyambo/Vatican News/Kota Vatikan)

Tinggalkan Pesan