TRUK 1
Suster Eustochia Monika Nata SSpS (berjubah) dalam Konferensi Pers (PEN@ Katolik./yf)

Di Kabupaten Sikka dan Ende, kekerasan terhadap perempuan dan anak terus terjadi dan menelan banyak korban. Perempuan diperlakukan secara semena-mena demi memuaskan kebutuhan hasrat para oknum tertentu.

“Berdasarkan fakta itu, Divisi Perempuan dari Tim Relawan Untuk Kemanusiaan (TRUK), sebagai lembaga yang menyediakan layanan bagi korban, merasa sangat perlu untuk terus mengedukasi masyarakat dan menuntut tanggungjawab negara. Salah satu yang dilakukan TRUK adalah publikasi Catatan Akhir Tahun (Catahu) berupa data kekerasan terhadap perempuan dan anak,” kata Koordinator TRUK Suster Eustochia Monika Nata SSpS dalam Catahu 2019 yang dihadiri wartawan dari Aliansi Wartawan Sikka (AWAS) di kantor TRUK Maumere, 30 Januari 2020.

Menurut Suster Esto, Catahu dipublikasikan untuk memberi gambaran pada publik tentang besaran angka kasus dan korban, bentuk-bentuk kekerasan yang dialami perempuan dan anak-anak, pola kekerasan, trend kekerasan dan rekomendasi. “Data yang disajikan Catahu adalah kasus riil yang diadukan langsung oleh korban kepada TRUK,” jelas suster.

Sepanjang 2019, lanjut Suster Esto, TRUK menangani dan mendampingi 92 orang perempuan dan anak korban kekerasan, dengan rincian 51 anak (31 perempuan dan 20 laki-laki) dan 41 dewasa. “Dibandingkan tahun sebelumnya (2018), jumlah korban 2019 mengalami kenaikan 12%. Tahun 2018 tercatat 80 orang korban,” jelas suster.

Menyinggung locus terjadinya kekerasan, Suster Esto mengatakan, tahun 2019 TRUK menerima pengaduan 72 korban kekerasan dengan ranah personal atau rumah tangga. Di ranah itu, terjadi dua jenis kasus, Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) dan Kekerasan Dalam Pacaran (KDP).

KDRT, menurut Suster Esto masih menduduki urutan pertama dari segi jumlah korban. Tahun 2019 tercatat 61 korban dengan rincian 24 berstatus istri (14 istri sah dan 10 tidak sah). 61 korban itu mengalami kekerasan psikis, kekerasan ekonomi atau penelantaran rumah tangga, fisik, seksual. Sedangkan KDP mencatat 11 orang mengalami kekerasan dalam pacaran. 8 orang di antaranya mengalami kekerasan seksual (anak 3 orang dan 5 perempuan dewasa) dan 3 orang mengalami kekerasan psikis.

TRUK juga menerima pengaduan dari tiga kabupaten tetangga yakni Ende, Ngada dan Flores Timur. Suster Esto merincikan pengaduan 9 korban di Ende. Para korban berasal dari enam kecamatan antara lain Kecamatan Ende Selatan 4 korban, Kecamatan Maurole 1 korban, Wolojita 1 korban, Detusoko, Nangepanda dan Lio Selatan masing-masing 1 korban. Sementara dari Kabupaten Ngada, TRUK menerima pengaduan dari 3 korban dan dari Kabupaten Flores Timur 2 korban.

Menurut Suster Esto, tantangan yang dihadapi adalah belum adanya unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) di setiap Polsek, lemahnya komitmen penegakan hukum, minimnya kebijakan anggaran untuk lima layanan dasar. “Upaya pencegahan dan penanganan kasus KDRT, Kekerasan Seksual dan Trafficking belum optimal dilakukan oleh pemerintahan kecamatan, desa dan kelurahan,” tegas suster.

Sementara itu. Kadis Pengendalian Pendidikan KB, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Sikka Maria Bernadina Sada Nenu mengapresiasi TRUK yang selama 22 tahun mengadvokasi korban kekerasan perempuan dan anak dan juga telah berusaha menegakkan Hak Asasi Manusia. “Dulunya kiprahnya hanya di Flores dan sekarang sudah merambah hingga tingkat nasional dan internasional,” ujar Maria.

Maria juga menyadari instansinya belum bisa berbuat banyak dalam menangani korban kekerasan perempuan dan anak. “Setiap kali ada pengaduan kami langsung menghubungi TRUK untuk menangani,” jelas Maria.(PEN@ Katolik/Yuven Fernandez)

Artikel Terkait:

https://penakatolik.com/2014/11/07/suster-eustochia-ssps-lihat-wajah-allah-terpancar-dalam-diri-setiap-orang/

Tinggalkan Pesan