Foto-foto dalam tulisan ini adalah berbagai lomba  ODGJ di Maumere (PEN@ Katolik/yf)
Foto-foto dalam tulisan ini adalah berbagai lomba ODGJ di Maumere (PEN@ Katolik/yf)

Memperingati kematian pendiri tarekat laikal para suster yakni Congregartio Imitationis Jesu (Kongregasi Pengikut Yesus, CIJ) Mgr Hendrikus Leven SVD, sejak 30 Desember 2019 Panti Cacat Santa Dymphna milik Yayasan Bina Daya Cabang Sikka (Yasbida) mengadakan 17 lomba selama sebulan bagi orang dengan gangguan jiwa (ODGJ).

Selain lomba dalam ruangan, Trio Lagu “Rindu Hati,” yang diaransemen oleh Kanis Ceme berdasarkan puisi gubahan pemimpin Panti Dymphna Suster Lucia CIJ, diadakan juga lomba di luar ruangan berupa tarik tambang, estafet kaleng Fanta dengan pipet, bola kaki musik, terung estafet, bola voli, memindahkan gelas plastik dengan udara dalam balon, lari tempurung, lompat tali merdeka, lari koran, meniupkan bola pingpong melewati gelas-gelas berisi air, senam, minum susu dengan dot, junjung air estafet, lempar bola ke dalam keranjang, dan pindahkan bola pingpong menggunakan kepala.

Suster Lucia CIJ menilai, lomba yang dirancang panitia merupakan kesempatan bagi lembaga agar ODGJ memiliki ruang yang tepat dan benar dalam hati, pikiran, cara pandang. “Penyandang disabilitas termasuk ODGJ sesungguhnya memiliki kemampuan dan potensi diri yang tak kalah dengan manusia normal pada umumnya. Hanya dibutuhkan cara pandang positif dan perlakuan masyarakat atau komunitas,” kata suster.

Tarekat CIJ, lanjut suster, menghidupi dan menghayati 10 pilar yaitu hidup dan bertindak dalam kasih, pengampunan, persaudaraan, murah hati, lemah lembut, jujur, sabar, tidak mencari keuntungan diri, yang harus benar-benar dialami oleh ODGJ, dan dihayati serta dilaksanakan oleh semua yang bekerja di lembaga CIJ.

Staf Yasbida, Dion Ngeta, mengatakan kepada PEN@ Katolik, 29 Januari 2020, ODGJ Santa Dymphna mengikuti 17 lomba selama sebulan itu. ODGJ dengan jumlah 123 orang dibagi menjadi empat kelompok yakni Santo Vinsensius, Santa Dymphna, Hendrikus Leven dan Engerbertus Kuhne dengan mentor masing-masing.

“Sesungguhnya 17 perlombaan di tingkat klien dimaksudkan agar klien diberi ruang untuk berekspresi dan menunjukkan kemampuannya. Selain itu merupakan terapi dan kesempatan penilaian terhadap kondisi kesehatan mentalnya,” tegas Dion.

Mgr Heinrich Leven, yang lahir di Lank, Meerbusch, Neuss, Kekaisaran Jerman 13 Juni 1883 dan meninggal di Steyl, Belanda, 31 Januari 1953 pada usia 69 tahun, adalah Vikaris Apostolik Kepulauan Sunda Kecil. Dia terpilih 25 April 1933 dan mengundurkan diri 21 Juni 1950. Mgr Leven mendirikan CIJ, 25 Maret 1935, di Jopu, Ende, Flores, karena saat itu wanita diperlakukan sebagai barang yang bisa diperdagangkan demi kepentingan feodal dan golongan atas. Mgr Leven berharap melalui kongregasi ini martabat para wanita penderita serta kaum papa miskin dapat terangkat, sekaligus memberi pengajaran bagi mereka yang belum mengenal agama.(PEN@ Katolik/Yuven Fernandez)

OGDJ 1OGDJ 2OGDJ 4OGDJ 3

 

Tinggalkan Pesan