Sabda Tuhan 6

“Dia yang adalah Sabda Tuhan telah datang untuk berkhotbah kepada kita dengan kata-kata dan hidup-Nya sendiri. Mari masuk ke akar pewartaan-Nya, ke sumber Firman Kehidupan, yang membantu kita mengetahui bagaimana, di mana dan kepada siapa Yesus mulai berkhotbah.”

Paus Fransiskus berbicara dalam homili Misa ‘Minggu Sabda Tuhan’ 26 Januari 2020 dan mendesak umat Kristen memberikan ruang dalam kehidupan mereka untuk Kitab Suci. Minggu Sabda Tuhan yang didirikan oleh Paus Fransiskus lewat Motu Proprio “Aperuit illis” itu akan dirayakan setiap tahun di hari Minggu Ketiga Waktu Biasa, dan didedikasikan untuk perayaan, pembelajaran, dan penyebaran Sabda Tuhan.

Pelayanan Yesus dimulai dengan kalimat sangat sederhana, “Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat.” Kalimat itu, jelas Paus, adalah pesan utama semua khotbah Yesus. Dengan mengatakan bahwa Tuhan sudah dekat, kata Paus, Dia turun ke bumi dan menjadi manusia, Dia meruntuhkan tembok dan memperpendek jarak tanpa jasa kita.

Itu pesan menggembirakan, kata Paus. “Tuhan datang mengunjungi kita secara pribadi, dengan menjadi manusia,” dan dia melakukannya bukan karena tugas, tetapi karena cinta. “Tuhan mengambil sifat manusiawi karena Dia mengasihi kita dan berkeinginan memberikan kita keselamatan yang tidak bisa kita harap meraihnya sendirian atau tanpa bantuan. Dia ingin tinggal bersama kita dan memberi kita keindahan hidup, kedamaian hati, sukacita karena diampuni dan perasaan dicintai,” kata Paus.

Menurut Paus, itu membantu kita memahami tuntutan langsung yang Yesus buat: “Bertobatlah,” dengan kata lain, “Ubahlah hidupmu.” Itulah ajakan untuk hidup dengan cara baru, itulah saatnya hidup bersama dan untuk Tuhan, “dengan dan untuk sesama, dengan dan untuk cinta,” kata Paus.

Yesus, lanjut Paus, berbicara dan meminta kita mengizinkan Dia memasuki hidup kita. Paus menggambarkan kata-kata-Nya semacam “surat cinta” yang Dia tulis kepada kita masing-masing guna membantu kita memahami bahwa Dia ada di samping kita.

“Kata-kata-Nya menghibur dan menyemangati, juga menantang dan membebaskan kita dari ikatan keegoisan, serta memanggil kita untuk bertobat. Karena, firman-Nya memiliki kekuatan untuk mengubah hidup kita dan menuntun kita keluar dari kegelapan menuju terang,” kata Paus.

Paus lalu menunjukkan bahwa Yesus memulai khotbahnya di tempat-tempat yang pada saat itu dianggap “dalam kegelapan,” seperti Galilea saat itu. Di sini ada pesan untuk kita: Sabda Keselamatan tidak pergi mencari tempat-tempat yang tidak tersentuh, bersih dan aman. Sebaliknya, Sabda Keselamatan memasuki tempat-tempat ruwet dan tidak jelas dalam kehidupan kita,” kata Paus.

Tuhan, lanjut Paus, “ingin mengunjungi tempat-tempat yang kita pikir tidak akan pernah akan ia kunjungi. Namun betapa sering kita menjadi orang yang menutup pintu, lebih suka agar kebingungan kita, sisi gelap kita dan kebohongan kita tetap tersembunyi.”

Begitu sering kita mendekati Tuhan dengan “doa-doa hafalan, jangan sampai kebenaran-Nya menggerakkan hati kita,” kata Paus yang mengingatkan umat beriman bahwa “Yesus mendekati seluruh Galilea seraya mewartakan Injil tentang kerajaan itu serta menyembuhkan setiap penyakit dan setiap kelemahan.”

Yesus, tegas Paus, tidak takut “menjelajahi medan hati kita dan memasuki sudut-sudut paling sulit dan paling jelek dalam hidup kita.” Belas kasihan-Nya saja bisa menyembuhkan kita, kehadiran-Nya saja bisa mengubah kita dan firman-Nya saja bisa memperbarui kita.”

Kenyataannya, menurut Paus, Yesus memilih berbicara dengan orang-orang sederhana. “Orang pertama yang dipanggil adalah para nelayan: bukan orang yang dipilih dengan hati-hati karena kemampuan mereka atau orang saleh yang berdoa di bait suci, tetapi orang biasa yang bekerja,” kata Paus.

Yesus menggunakan bahasa yang mereka pahami dan kehidupan mereka “berubah saat itu juga,” jelas Paus seraya melanjutkan, “Dia memanggil mereka di tempat mereka berada dan sebagaimana adanya guna membuat mereka ikut merasakan misinya,” dan mereka mengikutinya, bukan karena mereka diperintah, tetapi “karena mereka tertarik oleh cinta.”

Untuk mengikuti Yesus, lanjut Paus, perbuatan baik saja tidak cukup. “Kita harus mendengarkan setiap hari panggilannya.” Maka, tegas Paus, kita perlu Sabda-Nya, “agar bisa mendengar di tengah ribuan perkataan lain dalam kehidupan sehari-hari ada satu kata yang berbicara kepada kita tentang kehidupan.”

Paus mendesak semua orang Kristen untuk memberikan ruang dalam kehidupan mereka untuk Firman Tuhan. “Setiap hari, mari kita baca satu atau dua ayat Alkitab. Mulailah dengan Injil. Buka terus di meja kita, bawa di saku kita, baca di ponsel kita, dan biarkan Injil menginspirasi kita setiap hari. Kita akan menemukan bahwa Tuhan dekat dengan kita, bahwa Dia mengusir kegelapan kita dan, dengan kasih yang besar, Dia memimpin hidup kita ke perairan yang dalam.”

Setelah Misa, masing-masing yang hadir mendapat Alkitab secara gratis sebagai tanda dorongan simbolis untuk memberi ruang, setiap hari, dalam kehidupan mereka untuk Firman Tuhan. (PEN@ Katolik/pcp berdasarkan Linda Bordoni/Vatican News)

Sabda Tuhan 4Sabda Tuhan 5

Tinggalkan Pesan