IRI 1

Sekitar 200 peserta dari 12 provinsi di Indonesia, PBB, Religions for Peace, Rainforest Foundation Norway, dan GreenFaith akan menghadiri lokakarya, dialog, serta peluncuran program Interfaith Rainforest Initiative (Prakarsa Lintas Agama untuk Hutan Tropis, IRI)  di Gedung Manggala Wanabakti Jakarta, 30-31 Januari 2020.

Menurut rencana, acara itu akan dihadiri Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia Siti Nurbaya Bakar dan dibuka oleh Wakil Presiden Republik Indonesia KH Ma’ruf Amin. Dan menurut  Sekretaris Eksekutif Komisi HAK KWI Pastor Agustinus Heri Wibowo yang bertindak sebagai Panitia Pengarah acara itu, peserta dari KWI sejumlah 24 orang akan dipimpin oleh Ketua Komisi HAK KWI Mgr Yohanes Harun Yuwono.

“Sesuai ketentuan panitia, peserta dari Katolik akan datang dari Keuskupan Jayapura, Keuskupan Timika, Keuskupan Amboina, Keuskupan Tanjung Selor, Keuskupan Palangka Raya, Keuskupan Padang, dan dari Jabodetabek,” jelas Pastor Wibowo.

Dijelaskan, United Nations Environment Programme (UNEP), organisasi lintas agama dunia, dan mitra lintas agama Indonesia, memilih Indonesia untuk melakukan lokakarya, dialog dan peluncuran IRI Indonesia, karena Indonesia memiliki kekayaan alam dengan hutan tropis yang sangat penting bagi seluruh makhluk hidup di bumi dan merupakan salah satu dari lima negara yang memiliki lebih dari 70 persen hutan tropis dunia yang tersisa.

Sebagai aliansi internasional lintas agama yang membawa urgensi moral dan kepemimpinan berbasis agama pada upaya global untuk menghentikan dan memperbaiki penggundulan hutan tropis, IRI merupakan wadah bersama bagi semua pemimpin agama dan komunitas agama untuk bekerja bersama bahu membahu dengan masyarakat adat, pemerintah, masyarakat sipil, dan dunia usaha dalam aksi melindungi hutan tropis dan melindungi masyarakat adat sebagai penjaga hutan.

Menurut informasi panitia, tujuan utama lokakarya dialog dan peluncuran IRI Indonesia itu adalah untuk “meningkatkan kesadaran, memobilisasi aksi nyata, dan mempengaruhi kebijakan.”

IRI merupakan prakarsa aliansi lintas agama dunia yang diluncurkan pada pertemuan di Nobel Peace Center di Oslo, Norwegia, 19-21 Juni 2017, yang diikuti pemimpin agama Islam, Kristen, Katolik, Yahudi, Buddha, Hindu, dan Tao, serta ilmuwan iklim, ahli hutan hujan (tropis), dan masyarakat adat dari 21 negara.

Pertemuan itu juga dihadiri Raja Harald V dari Norwegia, Menteri Lingkungan Hidup Norwegia, Wali Kota Oslo, dan tokoh-tokoh agama, ilmuwan, dan aktivis lingkungan hidup dari berbagai negara di dunia, antara lain wakil dari Takhta Suci Vatikan, Dewan Gereja-Gereja Sedunia, Sekjen Religions for Peace, Norwegian Rainforest, UNDP, Parliament of World Religions, Green Faiths, dan para tokoh LSM Lingkungan Hidup. Dari Indonesia hadir Din Syamsuddin, Zainal Bagir (UGM), Abdon Nababan (AMAN), dan Aziz Asman (Institut Naladwipa).

IRI membawa komitmen, pengaruh, dan otoritas moral keagamaan dalam upaya melindungi hutan hujan atau hutan tropis dunia, dan masyarakat adat yang berfungsi sebagai penjaganya, dari dampak buruk penggundulan hutan dan perubahan iklim. Aliansi internasional lintas agama yang berupaya membawa urgensi moral dan kepemimpinan berbasis agama pada upaya global untuk mengakhiri penggundulan hutan tropis itu juga menyediakan platform bagi pemimpin agama untuk bekerja bahu-membahu dengan masyarakat adat, pemerintah, organisasi masyarakat sipil, dan dunia usaha dalam aksi-aksi yang melindungi hutan tropis.

Menurut catatan KWI, selain sebagai paru-paru bumi yang menjaga kestabilan iklim, hutan merupakan salah satu ciptaan Tuhan yang menjadi sumber kehidupan makhluk hidup. Berbagai makhluk ciptaan Tuhan, tumbuhan dan hewan, menjadi penghuni hutan. Hutan menjaga keseimbangan alam, menyangga kehidupan berbagai makhluk hidup, dan penyokong kehidupan manusia. Ratusan juta manusia hidup dari hasil hutan tropis. Hutan juga merupakan satu-satunya solusi alami yang aman dan terbukti menangkal dan menyimpan karbon. Hutan tropis dunia merupakan ciptaan yang tak tergantikan dan penting bagi kehidupan di bumi.

Paus Fransiskus dalam ensiklik Laudato Si antara lain mengatakan, “Ekosistem hutan tropis memiliki keanekaragaman hayati yang sangat kompleks dan hampir mustahil dinilai sepenuhnya, namun ketika hutan tersebut terbakar atau ditebang untuk tujuan perkebunan, dalam waktu beberapa tahun spesies yang tak terhitung jumlahnya punah dan wilayah itu sering berubah menjadi lahan telantar dan gersang” (no. 38).

Penggundulan hutan tropis adalah krisis kehidupan manusia. Penggundulan hutan tropis menjadi sumber utama emisi gas rumah kaca yang menyebabkan perubahan iklim. Kita bisa bertindak mengatasinya sekarang, atau membiarkan generasi masa depan hidup dalam ekologi yang hancur. Hutan tropis yang sangat cepat punah akan menghambat upaya pengentasan kemiskinan, perubahan iklim, konservasi keanekaragaman hayati dan pembangunan berkelanjutan. (PEN@ Katolik/J Maxi Paat)

IRI

Tinggalkan Pesan