Administrator Apostolik Keuskupan Agung Merauke Mgr Petrus Canisius Mandagi MSC membuka muspas dengan menabuh di Rumah Bina Pankat Santo Fransiskus Xaverius Merauke (PEN@ Katolik/ym)
Administrator Apostolik Keuskupan Agung Merauke Mgr Petrus Canisius Mandagi MSC membuka muspas dengan menabuh di Rumah Bina Pankat Santo Fransiskus Xaverius Merauke (PEN@ Katolik/ym)

Melihat persaudaraan para imam di Keuskupan Agung Merauke (KAME) masih sangat kurang, Mgr Petrus Canisius Mandagi MSC mengatakan, “Saya datang ke KAME dengan tugas pertama membangun kembali persaudaraan di KAME. Kita tidak boleh sendiri-sendiri, tetapi bersama-sama. Harus ada persaudaraan, khususnya di antara para imam. Harus ada persaudaraan yang kuat dari para imam.”

Uskup Amboina Mgr Mandagi yang juga Administrator Apostolik KAME berbicara dalam sambutan pembukaan Musyawarah Pastoral Pastores (Muspaspas) KAME di Rumah Bina Pankat Santo Fransiskus Xaverius Merauke, 13 Januari 2020. Dalam Muspaspas bertema ‘Kemandirian dan Persaudaraan’ yang akan berlangsung hingga 17 Januari 2020 juga diinformasikan bahwa tahun ini KAME akan memiliki seminari baru.

Pembukaan Muspaspas, yang diawali Perayaan Ekaristi itu, juga dihadiri Sekretaris Daerah Kabupaten Merauke Daniel Pauta, Kapolres Merauke Agustinus Ary Purwanto, dan Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Merauke Gabriel Rettobjaan.

Menurut Mgr Mandagi, sumber dari persaudaraan adalah hidup rohani. “Apabila para imam lalai dalam doa, maka tidak akan dapat terbangun persaudaraan yang sejati. Membangun persaudaraan bertujuan agar umat dapat menjadi dewasa. Inilah sebuah kemandirian dalam arti kedewasaan.”

Kalau para pastor cuma sibuk dengan proyek dan urusan lain dan tidak berdoa pagi-pagi, tegas Mgr Mandagi, “para imam lemah, uskup juga lemah.” Uskup meminta agar mereka bersatu agar “kuat” dan mendasarkan persaudaraan pada Kristus.

Berbicara tentang tema ‘Kemandirian dan Persaudaraan’, Mgr Mandagi yakin mereka akan banyak berbicara tentang pendidikan dan kesehatan. “Kemandirian itu dalam arti kedewasaan, dewasa dalam lima segi gerejani, dewasa dalam komunia persaudaraan, dewasa dalam Perayaan Liturgi, dewasa dalam evangelisasi, dewasa dalam berkorban lahiriah, dan dewasa dalam berbagi, juga mandiri dalam tenaga,” kata Mgr Mandagi.

Dalam sambutan pembukaan, Mgr Mandagi juga menginformasikan bahwa tahun ini KAME akan menambah satu seminari dengan nama “Seminari Santo Fransiskus,” seminari lanjutan setelah SMA, dengan menggunakan bangunan lama Rumah Sakit Bunda Pengharapan yang akan direnovasi. Selama ini sudah ada seminari menengah dengan nama Pastor Bonus.

“Seminari perlu didirikan agar banyak putra Papua dibina dan dididik menjadi imam untuk melayani KAME. Jadi, kalau dari SMA atau yang kuliah mau masuk, kita bisa tampung. Kita akan mulai supaya dari Papua banyak calon imam. Semoga uskup yang ganti saya di sini senang melihat banyak putra Papua melayani KAME,” kata Mgr Mandagi.(PEN@ Katolik/Yakobus Maturbongs)

Tinggalkan Pesan