Patung Yesus Tak Punya Rumah. Foto diambil dari Facebook Irene Kusumowidati
Patung Yesus yang Tidak Punya Rumah. Foto diambil dari Facebook Irene Kusumowidati

“Saya ingat, satu minggu lalu saya melayani Ekaristi di satu desa yang sangat terkenal, Desa Sedayu. Saya melihat sesuatu yang belum saya lihat di tempat lain di seluruh Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) ini. Anak-anak sesudah komuni maju dan diberikan berkat oleh imam itu banyak. Yang belum saya lihat adalah ketika anak-anak, yang masih belajar berjalan sampai anak-anak kelas VI, sesudah diberkati mendekati kotak sumbangan, memasukkan uang, yang semuanya berbunyi, jadi uangnya kecil-kecil.”

Cerita itu disampaikan oleh Uskup Agung Jakarta Ignatius Kardinal Suharyo dalam homili Misa Pembukaan Tahun Keadilan Sosial 2020 dengan semboyan “Amalkan Pancasila. Kita Adil, Bangsa Sejahtera” di Katedral Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga, Jakarta, 4 Januari 2020. Misa itu dihadiri oleh para pastor paroki dan wakil-wakil paroki se-KAJ bersama umat dan para religius serta frater.

Kardinal Suharyo mengira, sumbangan yang diberikan anak itu adalah keterlibatan mereka dalam rangka membangun gereja paroki. “Ternyata tidak. Waktu saya tanya kepada romo paroki, ‘Dana yang terkumpulkan untuk apa?’ Romonya menjawab, ‘Nanti kalau sudah terkumpul, itu untuk pelayanan sosial.’

Mengamati anak-anak, di desa kelahirannya Sedayu, Yogyakarta, dari usia sebelum bisa berjalan dengan baik sampai usia tertentu yang sejak awal sudah diajari mengasah kepekaan sosial, Kardinal Suharyo menegaskan itu, “istimewa dan bisa dicontoh di KAJ. Tidak apa-apa mencontoh yang baik dari Sedayu.”

Tahun Keadilan Sosial KAJ 2020 dibuka saat Gereja Katolik merayakan Hari Raya Penampakan Tuhan. Menurut Kardinal Suharyo, waktu itu sengaja dibuat karena kedua peristiwa itu berhubungan, “ketika kita semakin adil, ketika bangsa kita semakin sejahtera, pastilah wajah Allah yang mahabaik dan mahamurah juga akan semakin tampak.”

Sebagai Uskup Agung Jakarta, Kardinal Suharyo juga mengeluarkan surat gembala khusus untuk tahun itu. Hari itu umat bisa mengambil surat itu saat keluar dari katedral. Namun dalam homili itu kardinal menyampaikan apa yang tidak ada dalam surat gembalanya.

Menurut kardinal, ketika seseorang berjumpa dengan Tuhan, orang itu tidak mungkin hidup dengan cara seperti sedia kala. “Perjumpaan dengan Tuhan membuahkan pembaharuan. Itulah salah satu indikator apakah perjumpaan kita dengan Tuhan sungguh-sungguh atau sekedar fantasi. Kalau sungguh-sungguh hidup kita mesti diperbaharui, sekecil apapun,” tegas kardinal seraya menegaskan bahwa Gereja pun harus membaharui diri dalam Tahun Keadilan Sosial.

Sejak 10 tahun lalu dinamika pembaharuan sudah diikat di KAJ dalam tiga kata yang diulang-ulang menjadi semacam mantra yakni “semakin beriman, semakin bersaudara, semakin berbela rasa,” yang diterjemahkan oleh kardinal sebagai semakin mengungkapkan pembaharuan.

“Ketika seseorang mengaku dirinya beriman, pasti salah satu buahnya yang paling jelas adalah persaudaraan,” kata kardinal yang mengatakan ingin menempatkan Tahun Keadilan Sosial di dalam dinamika semakin beriman, semakin bersaudara, semakin berbela rasa.

“Adil dan bela rasa tidak pernah boleh dipisahkan, keduanya mesti terus diasah supaya tidak menjadi tumpul, dan ada berbagai macam cara yang sangat sederhana untuk mengasah semangat bela rasa itu,” kata Kardinal Suharyo seraya menceritakan cerita anak-anak di desa Sedayu itu.

Ketua Panitia Tahun Keadilan Sosial 2020 Pastor Antonius Suyadi Pr menjelaskan bahwa pembukaan Tahun Keadilan Sosial ditandai dengan pembukaan patung Yesus tunawisma. Sejumlah patung Yesus itu diberikan secara simbolik kepada sembilan dekenat di KAJ.

Selain itu, program penanda keadilan difokuskan dalam 18 bidang perhatian antara lain koperasi, pelatihan kerja, guru fajar, go skill, gerakan hidup organik, sedangkan fokus antara lain pada kegiatan Gereja pada keluarga pra sejahtera, kaum buruh, yang terpinggirkan, kesenjangan sosial, dan ketidakadilan sosial. Seluruh program kegiatan akan dilakukan di tingkat keuskupan, dekenat, paroki, wilayah, maupun lingkungan, keluarga, komunitas dalam bentuk Misa Syukur dan edukasi Ajaran Sosial Gereja (ASG).

Tahun Keadilan Sosial itu juga diawali dengan seminar di Aula Katedral dengan tema “Agama dan Keadilan Sosial, Dua Jalan Menuju Surga” yang menghadirkan pembicara Menteri Sosial Juliar P Batubara, Sekretaris Umum PP Muhammadyah Abdul Mu’ti, dan Direktur PT Indofood Makmur Fransikus Welierang.

Untuk penanda Tahun Keadilan Sosial 2010, di dekat Plaza Pancasila di sebelah Katedral Jakarta diletakkan patung “Yesus yang tidak punya rumah,” seperti halnya gelandangan-gelandangan yang tidur di lapangan-lapangan, di alun-alun kota. “Yesus menyamakan diri dengan orang lapar, orang miskin, orang dipenjara akan diwujudkan di dalam patung Yesus yang tidak punya rumah itu,” jelas kardinal dalam homili Misa.

Selain itu kardinal mengusulkan agar dalam Doa Malaikat Tuhan, yang biasa dipanjatkan oleh umat KAJ, ditambahkan “30 detik hening, dan dalam hening itu berdoa untuk saudara-saudari kita yang sakit, yang berkebutuhan, yang kurang beruntung, sehingga dengan cara itu kita mengasah kepekaan sosial kita.”

Kardinal juga mengajak umat Katolik KAJ untuk bertumbuh dalam kepekaan sosial dan moral yang berbuah pada keadilan dan bela rasa. Sebagai Uskup Agung Jakarta, kardinal itu berterima kasih kepada seluruh umat KAJ beserta biarawan-biarawati serta frater yang menanggapi ajakan untuk berbela rasa dengan umat Keuskupan Agats, yang “sungguh-sungguh berarti bukan hanya bagi umat Keuskupan Agats tapi kita semua karena dengan cara itu sadar atau tidak sadar kita pun bertumbuh di dalam kepekaan bela rasa itu.

Dalam homili Misa itu, Kardinal Suharyo juga menyanyikan sebuah lagu dalam bahasa Jawa yang diajarkan oleh guru Sekolah Rakyat tempat dia belajar di Desa Sedayu. Setelah bernyanyi, kardinal lalu menerjemahkan lagu yang berisi dialog antara seorang anak dan ibunya: “Ibu, di luar ada pengemis, pengemisnya sudah tua, mengeluh, merasa lapar dan haus.” Lalu ibunya menjawab, “Nak ini tolong diberikan. Nasi, ikan, dan air. Tolong pengemisnya diberi tahu, suruh ke sini setiap hari Minggu.” (PEN@ Katolik/paul c pati dan konradus r mangu)

Screenshot dari HIDUP TV
Kardinal Suharyo bersama para imam konselebran dalam Misa Pembukaan Tahun Keadilan Sosial KAJ 2010 (Screenshot dari HIDUP TV)
Patung "Yesus yang Tidak Punya Rumah" untuk semua paroki  diberikan secara simbolik kepada sembilan dekenat di KAJ (Foto diambil dari akun Facebook milik Rizkijant)
Patung “Yesus yang Tidak Punya Rumah” untuk semua paroki diberikan secara simbolik kepada sembilan dekenat di KAJ (Foto diambil dari akun Facebook milik Rizkijant)

1 komentar

  1. Maaf dalam artikel “Tahun Keadilan Sosial KAJ : Kardinal Suharyo ajak terus mengasah kepedulian sosial”, alinea 4, …. Sedayu, Grobogan, Jawa Tengah. Setahu saya …Sedayu adanya di Sleman, Yogyakarta. Maaf kalau saya yang salah. Terima kasih

Tinggalkan Pesan