Paroki Modio

Oleh Frater Sebastianus Ture Liwu

Gema lagu Natal terdengar di daerah terpencil, di penghujung pegunungan Tiho (Charles Louis), bagian barat Mapia, dan di gunung (Weillen), sebelah utara Mapia. Kedua nama asing itu diberikan oleh masyarakat setempat kala Charles Louis dan Weillen melewati titik tertinggi pegunungan di pedalaman itu. Awan putih yang nampak di pegunungan itu seakan turut mengekspresikan kabar sukacita bahwa Sang Sabda telah lahir dari rahim seorang perempuan muda bernama Maria.

Pagi itu, langit serta bumi dan segala isinya bermandikan cahaya gemilang, seakan sinar cahaya Bayi Yesus menembusi hati segala makhluk yang terjaga. Mereka semua seakan disapa oleh Sabda Damai Natal tahun, “Hiduplah sebagai sahabat bagi semua orang,” karena sesungguhnya tema itu memikat hati umat di lima stasi dari Paroki Santa Maria Bunda Rosario Modio, Dogiyai, Papua. Kelima stasi itu adalah Putapa, Modio, Atou, Yegoukotu, dan Abouyaga.

Dengan Tema Natal 2019 yang sungguh menanggapi konteks kehidupan saat ini, Rektor Kolese Serikat Yesus (Wisma dan SMA Adhi Luhur, Nabire, Papua) yang juga Superior SJ di Papua Pastor Yohanes Sudriyanto SJ merayakan Misa Natal di Paroki Modio, 25 Desember 2019. Frater Agung SJ dan saya mendampingi imam itu dalam Misa.

Di pagi cerah itu, Pastor Sudriyanto juga menerimakan Sakramen Pembaptisan dan Komuni Pertama bagi umat dari empat stasi di Paroki Modio, sedangkan Pastor A Biru Kira Pr bersama Frater Budi Nahiba Pr pergi merayakan Natal di Abouyaga, salah satu kuasi paroki yang letaknya jauh dari pusat Paroki Modio. Tempat penghasil noken anggrek terbesar itu sementara dipersiapkan untuk menjadi paroki.

Dalam homilinya, Pastor Sudriyanto SJ mengatakan “Yesus adalah jembatan bagi umat manusia untuk berjumpa dengan Allah. Ia adalah gambaran Allah yang nyata, panutan bagi kita umat manusia.” Melalui Yesus, lanjut imam itu, kita semua dipersatukan sebagai sahabat. “Persahabatan yang erat hanya dibangun di dalam Yesus dengan menjalankan perintah-perintah-Nya,” tegas imam itu.

Menurut imam itu, manusia dan segala makhluk ciptaan hanyalah Roh atau bayangan. “Kita adalah makhluk spiritual. Pengalaman kehidupan kita sekarang sebatas pertemuan belum sampai tahap perjumpaan. Kadang kita bertemu di jalan, di sekolah, di rumah, di gereja, tetapi kita belum merasakan simpati mendalam, belum menyapa hati ke hati, belum bersahabat hingga mengalami perjumpaan dengan Allah itu sendiri.”

Umat Paroki Modio pun memaknai pesan Natal itu dengan menjalin persahabatan dengan diri sendiri, keluarga dan semua orang dengan berbagai acara sesudah Misa. Sukacita Natal umat dari lima stasi itu terungkap lewat acara masak daging babi ala tradisional Meewoudidee.

Dalam acara Bakar Batu di Stasi Putapa, umat Srasi Modio menyembelih tujuh ekor babi dan Stasi Modio lima ekor babi. Hasil ternak babi ini menjadi persembahan Natal, ekspresi iman yang tumbuh berkat kehadiran dan dorongan para misionaris.

Pastor Herman Tillemans MSC pertama memasuki daerah pegunungan itu tahun 1930-an. Bersama Wagakei dan Kotouki Nokuwo, dua pemuda berkoteka di Yegoukotu, salah satu pos terdekat di Paroki Modio, Pastor Tillemans MSC berjalan sampai di Atopugi dan merayakan Misa Natal,  25 Desember 1935. Itulah Misa pertama di daerah Mee atau Pegunungan Tengah.

Tanggal 26 Desember 1935, mereka tiba di Modio. Di sana Pastor Tillemans berpesan agar “umat setempat terus berusaha menghidupkan pola hidup beternak dan menanam pohon kopi,” kenang Yopi Degei, umat Stasi Putapa yang memiliki lima istri dan 18 anak.

Paroki Modio diresmikan tahun 1952. Paroki ini pernah dilayani oleh Pastor Engelbertus Smits OFM sebagai pastor pertama yang tinggal di Modio, kemudian Pastor A Andringa OFM, Pastor Y Peetres OFM, Pastor Franken Molen OFM, Pastor Andreas Trismadi Pr, Pastor Yustinus Rahangiar, Pastor Michael Tekege Pr, Pastor Yoseph Orokai Pr, Pastor Ronal Sitanggang Pr, dan kini Pastor A Biru Kira Pr.

Umat separoki juga mengadakan beberapa perlombaan untuk semua umat guna menjalin persahabatan antarumat stasi di Paroki Modio. Umat masing-masing stasi saling bertemu, berbagi sukacita Natal dan berlomba. Ada lomba bola voli, takraw, panah, lempar kaleng, cerdas cermat Alkitab, baca Kitab Suci dalam bahasa Indonesia dan bahasa daerah (Mee), susun ayat, paduan suara dan mazmur.

Paroki Modio semakin berkembang, Paroki Modio pun semakin kuat karena lewat berbagai kegiatan sehari-hari serta pertemuan doa, Misa, dan kegiatan kebersamaan di hari raya seperti ini mereka berupaya menjadi sahabat sejati bagi semua orang “karena Yesus, wujud kasih, telah hadir menyapa orang percaya untuk menjalin persahabatan demi membangun Kerajaan Allah.” ***

Romo Sudri SJ menerimakan Sakramen Baptis kepada umat dari berbagai stasi (PEN@ Katolik/fr stl)
Romo Sudri SJ menerimakan Sakramen Baptis kepada umat dari berbagai stasi (PEN@ Katolik/fr stl)
Umat Paroki Modio mengadakan acara Bakar Batu ala tradisional pedalaman Meeuwodidee, Papua, di halaman pastoran (PEN@ Katolik/fr stw)
Umat Paroki Modio mengadakan acara Bakar Batu ala tradisional pedalaman Meeuwodidee, Papua, di halaman pastoran (PEN@ Katolik/fr stw)

Paroki Modio 4Paroki Modio 6

Salah satu lomba yang diikuti anak-anak sampai orangtua adalah memanah (PEN@ Katolik/fr stw)
Salah satu lomba yang diikuti anak-anak sampai orangtua adalah memanah (PEN@ Katolik/fr stw)

Paroki Modio 7

Tinggalkan Pesan