Foto Humas KAJ
Foto Humas KAJ

Perayaan Natal di Katedral Jakarta dimaknai sebagai Penyelenggaraan Ilahi karena kedatangan pimpinan daerah beserta jajaran sungguh meneguhkan. Kedatangan mereka pas waktunya dan memberi “sambutan” sesuai tata cara peribadatan Katolik sehingga tidak ada jemaat yang merasa terganggu.

Demikian pernyataan dalam Press Release Humas Keuskupan Agung Jakarta (KAJ), 27 Desember 2019 yang dikeluarkan menanggapi kehadiran Gubernur DKI Jakarta Anies Bawesdan dalam Misa Natal di Katedral Jakarta dan beberapa teman Muslim yang ikuti Misa Natal.

Dijelaskan, dalam Misa Malam Natal, “Bapak Anies Bawesdan datang dan memberi ‘sambutan’ bertepatan dengan waktu khotbah. Khotbah adalah saat Imam berbicara memberikan pesan bacaan-bacaan dalam peribadatan yang berkaitan dengan tema Natal. Saat itulah, Imam yang berkhotbah mempersilakan Bapak Anies berbicara dan memberikan semacam ‘kata sambutan’. Hal ini tentu tidak mengganggu jalannya peribadatan karena berjalan sesuai pengaturan dari pihak gereja Katedral.”

Uskup Keuskupan Agung Jakarta sekaligus Ketua Konferensi Waligereja Indonesia, Ignatius Kardinal Suharyo bersyukur atas Penyelenggaraan Ilahi karena peribadatan hari raya Natal di semua gereja berjalan dengan baik dan lancar, demikian pernyataan siaran pers itu.

“Bapa Kardinal Ignatius Suharyo juga mengucapkan terimakasih kepada pihak kepolisian, aparat keamanan dan TNI, dan seluruh komunitas atau pribadi yang ikut terlibat di dalam pengamanan perayaan Natal di Katedral, Jakarta maupun di berbagai tempat di seluruh Indonesia,” lanjutnya.

Penyelenggaraan Ilahi juga dirasakan oleh Kardinal Suharyo dengan hadirnya Gubernur DKI Jakarta dan rombongan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), Wakapolda, Kasdam dan jajarannya, FKUB termasuk para pemuka agama, serta Yudi Latif bersama pelbagai komunitas lintas agama di Gereja Katedral, Jakarta. “Hadir juga sepanjang Misa Pontifikal, para sahabat dari bidang Studi Agama-Agama, UIN,” tulis siaran pers itu.

Kardinal juga menyambut baik penyelenggaraan Christmas Carol di Jakarta dan Pohon Natal besar di Taman Thamrin 10. “Kebersamaan, persatuan, dan kesetaraan yang dibangun Pemprov DKI bagi warganya,” tegas kardinal, “sungguh meneguhkan dan sesuai tema Natal 2019: ”Hiduplah Sebagai Sahabat Bagi Semua Orang” (Yoh 15: 15-16).

Seraya berterimakasih kepada para pejabat negara dan kepala daerah, tokoh nasional, serta seluruh komponen bangsa yang dengan berbagai cara meneguhkan umat Katolik, kardinal berharap, “kita semua damai sejahtera dan bahagia, seperti yang dikatakan Bapak Yudi Latif dalam sambutannya pada Misa Pontifikal sebelum berkat penutup: ‘Kalau umat Katolik bahagia di hari Natal, kita semua, apa pun agamanya, ikut bahagia di dalamnya’.”

Sebelumnya, tepat Hari Natal, Kardinal Suharyo mengatakan dalam Konferensi Pers di Gedung Karya Pastoral Katedral Jakarta bahwa “Hiduplah sebagai sahabat bagi semua orang” adalah tema Pesan Natal Bersama Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) dan Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia (PGI) yang dikeluarkan bukan hanya untuk mengingat peristiwa Natal tapi juga mengenang Natal.

“Mengingat dan mengenang sangat berbeda. Mengingat hanya sekedar ingat tapi mengenang berarti terus mencermati kembali Natal masa lampau dengan mengenang serta mengaktualiasikan peristiwa Natal dengan lebih kontekstual,” tegas kardinal di depan puluhan media cetak dan elektronik.

Persahabatan, menurut Kardinal, adalah nilai yang hidup di tengah masyarakat, namun karena di saat yang sama ada gangguan dengan persahabatan “maka tema yang diusung ini semakin berarti.”

Alinea kedua pesan itu menulis, di zaman kolonial bangsa dipecah-pecah supaya pemerintah kolonial tetap berkuasa dan ketika bangsa kita dipecah-pecah mereka akan berkuasa dan menghancurkan negara kita. “Namun setelah adanya sumpah satu tanah air, satu bangsa dan satu bahasa, semangat persatuan itu menangkal mengantisipasi terpecah belahnya bangsa ini,” kata kardinal.

Kardinal Suharyo mengakui, sejak awal perbedaan itu ada. “Kendati demikian atas bimbingan dan pertolongan Roh Allah, Tuhan Yang Maha Baik, semua perbedaan itu dapat diatasi dengan baik,” kata uskup agung itu seraya menegaskan bahwa keajaiban terjadi buat bangsa Indonesia ketika para pemimpin membicarakan tentang rumusan Pancasila.

Hal-hal seperti itu, tegas Kardinal Suharyo, harus dirawat dengan baik. “Kendati ada perbedaan bisa dicari jalan penyelesaian yang baik tanpa melukai pihak lain,” kata kardinal seraya mengajak seluruh umat Katolik agar selalu membaca tanda-tanda zaman.

April mendatang, kardinal memberi contoh tanda zaman yang positif, para ekonom muda akan berkumpul di Asisi (Italia) untuk membicarakan perkembangan ekonomi saat ini yang disinyalir semakin tidak manusiawi, dan Dokumen Abu Dhabi yang ditandatangani Imam Besar Al Azhar bersama Paus Fransiskus “yang menjadi bahan kajian dan pedoman hidup berdampingan bagi seluruh komunitas yang berkehendak baik untuk menciptakan persaudaraan universal.”

Sayangnya, menurut kardinal, di Indonesia ada tanda-tanda zaman yang membuat semua pihak merasa prihatin, yakni lunturnya kebersamaan, meluasnya ujaran kebencian, intoleransi, politik identitas. “Untuk itu, tema yang diusung di Hari Natal sedikitnya bisa menjawab persoalan yang sedang dihadapi bangsa ini,” kata Kardinal Suharyo yang mengajak semua orang untuk tidak berkecil hati namun mencari jalan keluar.(PEN@ Katolik/paul c pati/konradus r mangu)

Foto Humas KAJ
Foto Humas KAJ
Foto Humas KAJ
Foto Humas KAJ

konferensi pers

Tinggalkan Pesan