Deklarasi Natal Tanpa Miras di Taman Mandala Merauke, Minggu juga dihadiri Pastor Johannes Kandam Pr (kletiga dari kiri) (PEN@ Katolik/ym)
Deklarasi Natal Tanpa Miras di Taman Mandala Merauke, Minggu juga dihadiri Pastor Johannes Kandam Pr (kletiga dari kiri) (PEN@ Katolik/ym)

“Celakalah mereka yang jago minum dan juara dalam mencampurkan minuman keras” (Yesaya 5:22) dan “Anggur adalah pencemoh minuman keras adalah peribut, tidaklah bijak orang yang terhuyung karenanya” (Amsal 20:1).

Sesuai kedua kutipan itu, para pemuda-pemudi Kristen dari berbagai denominasi Gereja serta Orang Muda Katolik (OMK) di Kota Merauke menggelar Deklarasi Natal Tanpa Minuman Keras (miras) di Taman Mandala Merauke, 22 Desember 2019.

Pertama, selama masa adven, Natal 25 Desember, dan Tahun Baru 1 Januari 2020, Pemuda Kristen bebas dari pengaruh minuman keras. Kedua, mengimbau seluruh keluarga Kristen tidak menyiapkan minuman keras selama perayaan Natal dan Tahun Baru. Ketiga, berjanji menjadi suratan hidup bagi sesama dan karena itu mewartakan kepada seluruh lapisan masyarakat untuk menjaga keamanan dan kenyamanan hidup bersama serta menjadikan Merauke sebagai istana damai dan rumah bersama. Keempat, mendukung pemerintah dan kepolisian menindak tegas siapa pun yang memproduksi minuman keras ilegal dan atau akan melaporkan siapa pun yang kedapatan memproduksi minuman keras. Kelima, siap menjadi “agent of change.”

Deklarasi itu dihadiri beberapa tokoh agama, yakni Vikaris Kevikepan Merauke Keuskupan Agung Merauke Pastor Johannes Kandam Pr dan Pendeta Sherly Anakotta serta Pendeta Rensi Manuputty.

Menurut Ketua Panitia Gerakan Moral Deklarasi Natal Tanpa Minuman Keras Sekar Krisna Sosang, deklarasi itu disampaikan karena selama ini perayaan Natal di Kabupaten Merauke, khususnya, selalu identik dengan minuman keras.

“Kami para pemuda menolak miras, karena Natal tidak boleh dirayakan dengan minuman keras. Kita mau menyambut Sang Juruselamat, harusnya kita menyiapkan hati untuk kedatangan Tuhan. Jadi kami mengajak seluruh umat Kristiani baik Katolik maupun Protestan serta denominasi Gereja lainnya untuk merayakan Natal tanpa miras,” kata Sekar kepada PEN@ Katolik.

Pastor Johannes Kandam menyampaikan rasa bangga dan dukungan kepada para pemuda Kristen yang berinisiatif melaksanakan gerakan moral seperti itu. “Para pemuda yang terkasih, kalian adalah generasi milenial yang dipakai Tuhan untuk proyek besar Allah di bumi ini, yaitu proyek keselamatan manusia. Jiwa-jiwa manusia harus diselamatkan dan untuk itu Yesus diutus dan sekarang anak-anak muda bergabung bersama Yesus untuk proyek besar itu,” demikian sambutan Pastor Kandam.

Imam itu juga berpesan agar pemuda jangan pernah merasa minder atau takut karena jumlah sedikit. “Suara Anda diberkati oleh Allah sendiri. Natal menjadi perayaan damai dan kita jauhkan dari minuman keras serta mabuk-mabukan. Ini menjadi pesan istimewa saat ini,” tegas Pastor Kandam.

Menurut Pendeta Sherly Anakotta, Natal merupakan peristiwa persahabatan yang diawali dengan kasih Yesus Kristus kepada manusia sehingga perlu dirayakan dengan sukacita dan tetap menjaga moralitas sebagai orang Kristiani.

“Sukacita tidak identik dengan mabuk dan pesta pora. Semangat ini menjadi semangat bersama. Dengan demikian persatuan dan kesatuan menjadi warna indah dan membingkai seluruh orang muda Kristen. Ini langkah besar untuk kelangsungan kehidupan kita sekalian, tetapi juga dalam rangka memberikan sumbangsih penting bagi daerah ini, agar kehadiran berkat di mana saja,” kata Pendeta Sherly dalam sambutannya.

Sesudah deklarasi, para pemuda turun ke beberapa titik untuk berbagi kasih dengan masyarakat sekaligus penyampaian imbauan untuk menolak minuman keras. (PEN@ Katolik/Yakobus Maturbongs)

Deklarasi Natal Tanpa Miras di Taman Mandala Merauke, Minggu (22-12) (1)

Tinggalkan Pesan