Tim Ekonomi Hijau Mr  Zhane (kiri) bersama Domi (topi biru) dan  warga Modio dalam  pelatihan memangkas ranting kopi (PEN@ Katolik/Frater Bastian)
Tim Ekonomi Hijau dari Inggris, Zhane, (kiri) bersama Domi (topi biru) dan warga Modio dalam pelatihan memangkas ranting kopi (PEN@ Katolik/Frater Bastian)

Oleh Frater Sebastianus Ture Liwu

Tanah Papua bagaikan gadis cantik yang selalu menggoda lelaki untuk dinikahi. Gadis cantik yang tak pernah disentuh manusia itu mengandung seribu satu macam citra kehidupan bagi anak-anak negeri Papua. Panorama keindahan alam sungguh membuat manusia kian berdatangan untuk menikmatinya. Sekian mata lelaki dari luar Papua melirik dan ingin meraih sang gadis dalam cara berbeda.

Di antara mereka adalah para lelaki Inggris, yang menamakan dirinya Ekonomi Hijau. Dengan berani mereka mendekati wanita Papua untuk menawarkan cinta tulus apa adanya. Mereka menjaga dan melindungi sang gadis yang tengah mengandung dengan menjalin relasi bersama orang muda Papua.

Menurut Zhane dari Tim Ekonomi Hijau Inggris, “Orang muda Papua memiliki tenaga cukup banyak dan kuat. Merekalah tulang punggung kehidupan generasi penerusnya. Merekalah lelaki yang diharapkan bisa menjaga dan merawat ibu pertiwi agar melahirkan banyak hasil bagi anak-anaknya sendiri.”

Orang muda, lanjutnya, harus menyadari bahwa mencari uang di kota akan lebih sedikit dibandingkan membersihkan lahan, menanam kopi, lalu panen untuk dijual. “Usaha menghasilkan kopi murni Modio lebih mulia dan menghasilkan uang lebih banyak demi ekonomi rumah tangga yang sejahtera secara berkelanjutan,” lanjutnya. Modio adalah sebuah kampung di Distrik Mapia Tengah, Kabupaten Dogiyai, Papua.

Sejak 2018, Tim Ekonomi Hijau menerobos batas alam Papua, berjalan dan mendaki gunung tinggi guna mencari tempat harapan bagi anak-anak Papua, dan mencapai tempat itu. Setiap upaya tulus tidak pernah mengingkari hasilnya. Hasilnya, Ekonomi Hijau bersama warga Modio bisa memetik kopi murni yang menduduki peringkat kedua dunia dalam ajang perlombaan di Jakarta.

Namun, menurut Zhane, bukan hanya sampai di situ . “Momen kejuaraan itu membawa nama baik bagi orang Modio. Jadi kita perlu meningkatkan pola menjaga, merawat, dan mengolah kopi dengan benar agar kualitas kopi arabika ini tetap terjaga,” lanjutnya.

Tim Ekonomi Hijau, tegasnya, akan mendukung masyarakat  Modio dalam melaksanakan pekerjaan utama mereka dalam menjaga, melindungi dan mengolah kebun kopi, karena tim itu “memiliki semangat mendorong kesejahteraan masyarakat.”

Dalam kunjungan itu mereka menegaskan, OMK Santa Maria Bunda Rosario Modio adalah “tulang punggung budaya setempat” yang harus dilibatkan secara aktif baik “dalam kehidupan menggereja maupun aplikasi imannya dalam proses pengolahan kebun kopi.”

“Keterlibatan OMK bersama ibu-ibu janda merupakan kebanggaan Tim Ekonomi Hijau. Kami akan datang ke Modio dua bulan sekali untuk merangkul, memotivasi dan menuntun OMK agar menjadikan pekerjaan kopi sebagai pekerjaan tetap mereka. Program Ekonomi Hijau mengajak OMK agar bisa menghasilkan uang dari tanahnya sendiri, tidak harus mengharapkan uang dari pemerintah,” demikian Zhane.

Tanggal 4 Desember 2019, Tim Ekonomi Hijau mengadakan pelatihan pembersihan lahan, persemaian bibit, penanaman, pemangkasan, pemanenan, serta menyumbangkan perlengkapan petani kopi seperti gergaji, gunting, mesin babat dan alat pengupas kulit kopi. Bahkan, masyarakat diajak menonton bersama film pengolahan kopi secara baik dan benar hingga menghasilkan biji kopi arabika berkualitas.

Sebanyak 80 orang menghadiri pelatihan itu. Domi, seorang mantri dan juga petani kopi mengatakan, “kehadiran Ekonomi Hijau membawa terang bagi masyarakat koteka di Paroki Santa Maria Bunda Rosario Modio.”

Paroki yang merupakan bagian dari Keuskupan Timika itu merupakan tempat bersejarah bagi masyarakat koteka. Di sana masyarakat setempat mengalami perjumpaan dengan budaya luar berkat datangnya misionaris Katolik dari Belanda, Pastor Herman Tillemans MSC dan Pastor Smith MSC. Tahun 1950, Pastor Tillemans MSC, orang pertama yang mencapai Dogiyai itu, menjadi Uskup Agung Merauke pertama.

Para misionaris itu dikenal sebagai pembawa terang awal bagi warga koteka lewat orang muda bernama Auki Tekege di Kampung Modio. Sedangkan Bruder Yan Sherp OFM adalah misionaris awal yang mewartakan sekaligus mewujudkan Sabda dalam rupa pengolahan kebun kopi sekitar tahun 1970-an, saat kopi berharga 5000 rupiah per kilogram.

Kini Pastor Biru Kira Pr dari Keuskupan Timika berupaya memberdayakan ekonomi masyarakat Kampung Modio dengan membeli biji kopi dari umatnya seharga 100.000 rupiah per kilogram. Pastor itu lalu mengolahnya menjadi kopi bubuk dan menjualnya dalam bentuk kemasan.

*Frater yang sedang menjalani Tahun Orientasi Pastoral di Paroki Modio

 

2 KOMENTAR

  1. Hormat buat semangatnya,, kesadaran akan pembebasan jiwa orang papua ada di hati dan jiwa generasi pemuda-pemudi Papua… selamat dan sukses dalam memperjuangkan kemanusiaan.. Tuhan memberkati

Tinggalkan Pesan