Paus memberi homili dalam Misa pagi di Casa Santa Marta  (Vatican Media)
Paus memberi homili dalam Misa pagi di Casa Santa Marta (Vatican Media)

Dalam homili Misa harian di Casa Santa Marta, 3 Desember 2019, Paus Fransiskus mengatakan liturgi hari itu “berbicara tentang hal-hal kecil; kita dapat mengatakan hari ini adalah hari untuk yang kecil.” Bacaan pertama, diambil dari buku Nabi Yesaya yang dimulai dengan pengumuman, “Hari itu, tunas akan tumbuh dari tunggul Isai, dan taruk yang akan tumbuh dari pangkalnya akan berbuah. Roh Tuhan akan ada padanya…” (Bacaan liturgi di Roma diambil dari Yes 11:1-10 untuk Bacaan Pertama dan Luk 10:21-24 untuk Injil. Red.)

“Firman Tuhan menyanyikan pujian untuk apa yang kecil,” kata Paus, “dan membuat janji: janji tunas yang akan tumbuh. Dan apakah yang lebih kecil dari tunas?” Namun “Roh Tuhan akan tinggal di atas-Nya.” Paus menjelaskan:

Penebusan, wahyu, kehadiran Allah di dunia dimulai seperti ini, dan selalu seperti ini. Wahyu Allah dibuat dalam yang kecil. Kecil, rendah hati, dan banyak hal lain, tetapi kecil. Yang besar kelihatannya penuh kekuatan - mari memikirkan tentang Yesus di padang pasir, [dan] bagaimana Setan tampak kuat, penguasa seluruh dunia: ”Aku akan memberimu segalanya, jika kamu …” Di sisi lain, hal-hal dari Allah mulai dengan bertumbuh, dari biji, hal-hal kecil. Dan Yesus berbicara tentang yang kecil ini dalam Injil.

Yesus bersukacita dan bersyukur kepada Bapa karena Dia telah memberitahukan wahyu-Nya kepada orang-orang kecil, bukan kepada yang berkuasa. Paus mencatat bahwa di Hari Natal, “Kita semua akan pergi ke Kandang Natal, tempat yang kecil dari Allah” hadir. Dan Paus berkata dengan tegas:

Dalam komunitas Kristen di mana umat beriman, para imam, para uskup tidak mengambil jalan yang kecil ini, tidak ada masa depan, akan runtuh. Kita telah melihatnya dalam proyek-proyek besar sejarah: Orang-orang Kristen yang berusaha memaksakan diri mereka sendiri, dengan kekuatan, dengan kebesaran, penaklukan … Tetapi Kerajaan Allah tumbuh dalam hal yang kecil, selalu dalam hal yang kecil, benih kecil, benih kehidupan. Tetapi benih itu sendiri tidak dapat berbuat apa-apa. Dan ada kenyataan lain yang membantu dan memberi kekuatan: “Pada hari itu, tunas akan tumbuh dari tunggul Isai, dan taruk yang akan tumbuh dari pangkalnya akan berbuah. Roh Tuhan akan ada padanya.”

Roh memilih yang kecil, selalu,” kata Paus, “karena Dia tidak bisa masuk ke dalam yang besar, yang sombong, yang mandiri.” Tuhan menyatakan diri-Nya ke hati yang kecil. Paus memberi contoh orang belajar agama dengan mengatakan, teologi sejati tidak berarti sekadar mengetahui banyak fakta; orang-orang seperti itu, kata Paus, bisa disebut “ensiklopedis” teologi: “Mereka tahu segalanya, tetapi mereka tidak mampu berteologi karena teologi dilakukan ‘dalam posisi berlutut’ dengan membuat diri kita kecil.”

Demikian pula dengan pastor, kata Paus, “apakah dia imam, uskup, paus, kardinal, siapa pun dia, jika dia tidak menjadikan dirinya kecil, bukanlah pastor [sejati],” melainkan manajer kantor. Ini berlaku bagi semua orang, kata Paus, “dari yang memiliki fungsi yang tampaknya lebih penting dalam Gereja, hingga wanita tua dan miskin yang melakukan pekerjaan amal kasih secara diam-diam.”

Paus kemudian mengantisipasi keberatan yang mungkin diajukan bahwa “yang kecil” bisa menyebabkan kepicikan – yaitu menutup diri sendiri – atau ketakutan. Sebaliknya, kata Paus, “yang kecil itu hebat,” justru karena dia tidak takut mengambil risiko, karena dia merasa “tidak ada ruginya.” “Yang kecil”, jelas Paus mengarah pada kebesaran hati, karena “yang kecil” itu membuat kita bisa melampaui diri sendiri, karena tahu bahwa Allah adalah alasan untuk yang besar.

Paus lalu berpaling kepada Santo Thomas Aquinas, yang, dalam Summa, menjelaskan bagaimana orang Kristen, meskipun mengakui kekecilannya, harus berperilaku menghadapi tantangan dunia, agar tidak hidup sebagai pengecut. Paus merangkum yang dikatakan Santo Thomas dengan mengatakan, “Jangan takut akan hal-hal besar” – dan mencatat bahwa Santo Hari itu, Santo Fransiskus Xaverius, menunjukkan hal yang sama.

“Jangan takut, maju terus; tetapi pada saat yang sama, pertimbangkan hal-hal terkecil, hal itu ilahi.” Seorang Kristen selalu mulai dari yang kecil. Jika dalam doa, saya merasa kecil, karena keterbatasan saya, dosa-dosa saya, seperti pemungut cukai yang berdoa di belakang Gereja, merasa malu, [dengan mengatakan] “Kasihanilah aku, orang berdosa,” engkau akan maju. Tetapi jika engkau yakin sebagai Kristen yang baik, engkau akan berdoa seperti orang Farisi yang mengatakan: Aku berterima kasih kepada-Mu, Ya Tuhan, karena aku hebat.” Tidak, kita bersyukur kepada Tuhan karena kita kecil.

Paus mengakhiri homili dengan mengatakan betapa dia suka mendengar pengakuan dosa, terutama pengakuan dosa anak-anak. Pengakuan mereka, kata Paus, sangat indah, karena mereka berbicara tentang fakta yang nyata. Jadi, misalnya, seorang anak mungkin mengaku, “Saya mengatakan kata ini.” Paus menggambarkan hal itu sebagai “yang konkret dari yang kecil.” Ini bisa menjadi contoh cara kita harus mendekati Allah: “Tuhan aku orang berdosa karena aku telah melakukan ini, ini, ini, ini … Inilah kesengsaraanku, kekecilanku. Tetapi kirimkanlah Roh-Mu supaya aku tidak takut akan hal-hal besar, tidak takut akan Engkau yang melakukan hal-hal besar dalam hidupku.” (PEN@ Katolik/paul c pati berdasarkan Vatican News)

Tinggalkan Pesan