Paus Fransiskus bersama para anggota Komisi Teologi Internasional  (Vatican Media)
Paus Fransiskus bersama para anggota Komisi Teologi Internasional (Vatican Media)

Setelah para anggota Komisi Teologi Internasional bekerja keras selama lima puluh tahun, “masih banyak yang harus dilakukan.” Yang menarik hanyalah “teologi yang indah,” yang memiliki rasa hormat terhadap Injil, dan tidak puas dengan berfungsi semata. “Dan untuk membuat teologi yang indah, kita tidak boleh lupa dua dimensi yang membentuknya. Yang pertama adalah kehidupan spiritual, dan yang kedua adalah kehidupan gerejawi.”

Paus Fransiskus berbicara dengan para anggota Komisi yang merayakan HUT ke-50, 29 November 2019. Sambutan Paus itu merujuk pesan Paus Emeritus Benediktus XVI yang dikirim bulan Oktober untuk acara itu. Pesan itu mengatakan, “hanya kerendahan hati yang bisa menemukan Kebenaran dan Kebenaran pada gilirannya adalah dasar Cinta, yang padanya semua akhirnya bergantung.” Paus juga mengingatkan, Komisi itu didirikan “untuk menciptakan jembatan baru antara teologi dan Magisterium.”

Menurut Paus , teolog harus “maju” dan mengambil risiko dalam diskusi. Para teolog, kata Paus, harus membahas topik-topik kontroversial dan sulit, tetapi harus ditangani secara pribadi di antara para teolog itu sendiri agar orang tidak kehilangan iman mereka. Orang-orang, kata Paus, harus selalu diberi “makanan berbobot untuk iman.”

Paus mengakui, dalam sesi lima tahun terakhir, Komisi itu telah “mengelaborasi dua teks penting.” Yang pertama, memberikan klarifikasi teologis tentang sinodalitas, baik dalam kehidupan maupun dalam misi Gereja. “Seperti kalian tahu, tema ini sangat dekat dengan hati saya: sinodalitas adalah gaya, inilah cara berjalan bersama, dan itulah yang Tuhan harapkan dari Gereja di milenium ketiga,” kata Paus.

Dokumen kedua, lanjut Paus, mengusulkan pencermatan pada perbedaan interpretasi kebebasan beragama saat ini. Paus menjelaskan, “penghormatan tulus” pada kebebasan beragama adalah “kontribusi besar bagi kebaikan bersama dan perdamaian.”

Paus lalu mengatakan, “sebagai teolog dari berbagai latar belakang dan ruang gerak,” mereka adalah “perantara antara iman dan budaya.” Dengan cara ini, lanjut Paus, mereka “mengambil bagian dalam misi penting Gereja: evangelisasi.” (PEN@ Katolik/paul c pati berdasarkan Francesca Merlo/Vatican News)

Tinggalkan Pesan