Mgr Martinus Dogma Situmorang OFMCap (Foto kawali.org)
Mgr Martinus Dogma Situmorang OFMCap (Foto kawali.org)

Uskup yang baik hati dan penuh senyum. Itu kesan begitu banyak orang lewat WhatsApp saat mengomentari kematian Uskup Padang Mgr Martinus Dogma Situmorang OFMCap di Rumah Sakit Santo Borromeus, Bandung. Uskup itu dibawa ke rumah sakit itu karena, menurut Uskup Agung Medan Mgr Kornelius Sipayung OFMCap, sejak hari-hari pertama Sidang Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) di gedung Pastoral Keuskupan Bandung kondisinya terlihat lemah, badannya bengkak, dan nafasnya sesak.

Tanggal 8 November 2019, Mgr Situmorang menerima Sakramen Pengurapan Orang Sakit dari Mgr Sipayung yang ditemani Uskup Tanjungkarang Mgr Yohanes Harun Yuwono dan Uskup Agung Palembang Mgr Aloysius Sudarso SCJ serta beberapa keluarga dari Mgr Situmorang.

Sidang KWI 2019 sudah berakhir 14 November 2019, para uskup sudah meninggalkan Bandung. Tapi, hari Selasa 19 November 2019 pukul 21.38, Mgr Situmorang meninggal dunia di RS Borromeus pada usia 73 tahun. Hari ini, 20 November 2019, pukul 8.30, menurut Sekretaris Eksekutif KWI yang terpilih sebagai Uskup Ruteng Mgr Siprianus Hormat, diadakan Misa Requeim di Katedral Santo Petrus Bandung dipimpin oleh Mgr Yuwono dan akan diterbangkan ke Padang dari Bandara Cengkareng pukul 17.00.

Mantan ketua KWI periode 2006-2009 dan 2009-2012 dan Uskup Padang sejak 17 Maret 1983 itu lahir 28 Maret 1946 di Palipi, Pulau Samosir, Sumatera Utara, dari pasangan Joseph Iskandar Arminius Situmorang, seorang katekis, dan Maria Dina Sinaga. Mgr Situmorang yang lahir dengan nama Tondo Tunggul Tahan Dogma Yohanes Situmorang itu menggunakan nama Martinus sejak masuk Novisiat Ordo Saudara Dina Kapusin (OFMCap).

Martinus ditahbiskan menjadi Uskup Padang tanggal 11 Juni 1983 dengan moto “Fides per Caritatem Operatur” (iman bekerja lewat kasih). Menurut Wikipedia, Mgr Situmorang adalah anak ketiga. “Ketika Dogma berumur 11 tahun, ibunya meninggal 26 Desember 1958. Kemudian, ayahnya menikah lagi dengan Maria Else Sinaga. Keluarga ini pun menjadi keluarga besar, dengan 15 anak (9 laki-laki, 6 perempuan). Dengan latar belakang keluarga saleh, sejak kecil Martinus bergaul akrab dengan para pastor dan suster. Dari sinilah, mulai tumbuh greget di hatinya ingin menjadi imam. Ia melihat para pastor yang hidupnya baik, dicintai, dan dihormati semua orang.”

Mgr Situmorang mengawali keinginan menjadi imam dengan belajar di Seminari Menengah Pematangsiantar (1959–1966), kemudian masuk Novisiat Kapusin di Parapat (1966–1968), mengucapkan Kaul Pertama sebagai calon biarawan OFMCap, 13 Januari 1967, kemudian studi di Seminari Tinggi Teologi Pematangsiantar, mengikrarkan Kaul Kekal 29 Juli 1972, dan ditahbiskan imam 5 Januari 1974.

Juli 1974, Mgr Situmorang pergi ke Roma dan belajar teologi di Universitas Kepausan Gregoriana dengan spesialisasi Spiritualitas, kemudian tahun 1976 belajar di Institute for Religious Formation Sint Louis University, di Sint Louis, Missouri, AS. Kembali ke Indonesia di tahun 1977, Mgr Situmorang mengajar di Seminari Tinggi Parapat.

Asisten Pemimpin Novis Kapusin itu lalu menjadi Rektor Seminari Tinggi Pematangsiantar (1979-1983) sekaligus Kepala Paroki Pastor Bonus di Pematangsiantar, Wakil Superior Kapusin Regio Medan dan Anggota Komisi Religius Keuskupan Agung Medan.(PEN@ Katolik/paul c pati)

Tinggalkan Pesan