Paus Fransiskus bertemu peserta kongres internasional tentang Peningkatan Martabat Anak Digital (Vatican Media)
Paus Fransiskus bertemu peserta kongres internasional tentang Peningkatan Martabat Anak Digital (Vatican Media)

“Kita harus melarang dari muka bumi kekerasan dan segala bentuk pelecehan terhadap anak-anak. Lihatlah mata mereka. Mereka adalah putra dan putri Anda. Kita harus mencintai mereka sebagai maha karya dan anak-anak Allah. Mereka memiliki hak untuk hidup yang baik. Kita wajib melakukan segala yang mungkin untuk memastikan hal itu.”

Paus Fransiskus berbicara dengan 80 peserta kongres bertema, “Meningkatkan Martabat Anak Digital, dari Konsep ke Aksi, dari 2017 hingga 2019.” Kongres internasional itu diselenggarakan bersama oleh Akademi Kepausan Ilmu Pengetahuan Sosial Vatikan, Aliansi Martabat Anak dan Pemerintah Uni Emirat Arab, di Vatikan, 14-15 November 2019.

Paus menghargai para peserta, antara lain pemimpin agama dari berbagai komunitas, para ahli, akademisi, pembuat kebijakan, dan pemimpin industri teknologi, atas peluang besar yang diberikan oleh perkembangan teknologi dalam media informasi dan komunikasi bagi anak-anak, terutama yang miskin dan jauh dari pusat-pusat kota.

Namun, tantangannya adalah memastikan bahwa anak-anak di bawah umur memiliki akses aman ke teknologi ini sehingga “perkembangan mereka yang sehat dan tenang” terjamin dan mereka terlindung dari “kekerasan kriminal yang tidak bisa diterima atau bahaya besar terhadap integritas tubuh dan jiwa mereka.”

Tragisnya, kata Paus , penggunaan teknologi digital untuk mengorganisir, memerintahkan dan terlibat dalam pelecehan anak dari kejauhan, melampaui upaya dan sumber daya untuk memerangi pelecehan itu.

“Penyebaran gambar-gambar pelecehan atau eksploitasi anak di bawah umur meningkat secara eksponensial dan melibatkan bentuk-bentuk pelecehan yang lebih serius dan keras dan anak-anak yang lebih muda.” Paus menyalahkan pertumbuhan dramatis pornografi di dunia digital pada hilangnya rasa martabat manusia, yang, kata Paus, sering dikaitkan dengan perdagangan manusia.

Yang bahkan lebih mengganggu, kata Paus, adalah kenyataan bahwa pornografi bisa diakses luas oleh anak di bawah umur di media digital, yang membuat mereka kecanduan, berperilaku keras dan bermasalah dalam hubungan emosional dan seksual.

Saat memperhatikan tema kongres, “Dari Konsep ke Aksi,” Paus mengatakan, “tidak cukup memahami; kita harus bertindak.” Kecaman moral atas kerugian yang diderita anak-anak di bawah umur perlu segera diterjemahkan ke dalam inisiatif nyata. “Semakin lama kita menunggu,” Paus memperingatkan, “kejahatan ini semakin mengakar dan tak bisa diatasi.”

Dalam hal ini, Paus menyerukan keseimbangan yang pas antara pelaksanaan kebebasan berekspresi yang sah dan kepentingan masyarakat, guna memastikan bahwa media digital tidak digunakan untuk melakukan kegiatan kriminal terhadap anak di bawah umur.

Paus menyesalkan, demi pengembangan internet dan banyak manfaatnya, perusahaan penyedia layanan sudah lama menganggap dirinya hanya sebagai pemasok platform teknologi dan tidak bertanggung jawab secara hukum maupun moral atas cara penggunaannya.

Terlepas dari potensi besar teknologi digital, dampak negatif penyalahgunaannya di bidang perdagangan manusia, perencanaan kegiatan teroris, penyebaran kebencian dan ekstrimisme, manipulasi informasi dan bidang pelecehan anak, sama signifikan, kata Paus.

Paus menyerukan langkah-langkah legislatif dan eksekutif yang tepat untuk melawan kegiatan kriminal yang membahayakan kehidupan dan martabat anak di bawah umur. Paus juga mengimbau agar perusahaan teknologi digital besar “memikul tanggung jawab terhadap anak di bawah umur, integritas dan masa depan mereka.”

Salah satu cara guna memastikan bahwa penyedia layanan internet mencegah anak di bawah umur mengakses situs porno adalah dengan verifikasi usia mereka. Dalam hal ini, Paus menyatakan khawatir pada penelitian yang menunjukkan usia rata-rata akses pertama ke pornografi saat ini adalah 11 tahun dan cenderung terus menurun. “Sama sekali tidak dapat diterima,” kata Paus.

Seraya mendorong industri untuk bekerja sama dengan orang tua dalam tanggung jawab pendidikan, Paus mendesak insinyur komputer untuk menggunakan teknologi kecerdasan artifisial guna mengidentifikasi dan menghilangkan gambar ilegal dan berbahaya dari sirkulasi online dan membantu mengembangkan serta menciptakan etika baru untuk zaman kita. (PEN@ Katolik/pcp berdasarkan laporan Robin Gomes/Vatican News)

Tinggalkan Pesan