Paus Misa Requiem di Basilika Santo Petrus1

Dalam homili Misa Requiem di Basilika Santo Petrus, 4 November 2019, untuk para Kardinal dan Uskup yang wafat di tahun silam, Paus Fransiskus memberikan tiga rangsangan untuk merenungkan tentang Kebangkitan. Bacaan-Bacaan Misa hari itu sesuai Hari Pengenangan Semua Orang Beriman yang dirayakan di Indonesia Sabtu, 2 November.

Homili Paus itu terfokus pada bacaan-bacaan itu, yang semuanya mengingatkan bahwa “kita tidak dilahirkan untuk mati, tetapi untuk kebangkitan.” Paus mulai dengan bertanya cara kita menanggapi panggilan “untuk bangkit kembali,” dan kemudian memberikan tiga poin renungan, dimulai dengan Injil Santo Yohanes Yoh. 6:37-40, dan janji Yesus bahwa “Siapa pun yang datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang.”

Ajakan untuk “datang kepada Yesus” mungkin nampak bisa diprediksi dan generik, kata Paus. Tetapi kita perlu membuatnya konkret, dengan bertanya kepada diri sendiri seperti: “Apakah saya melibatkan Yesus dalam orang-orang yang saya temui hari ini, apakah saya membawa mereka kepada-Nya dalam doa? Apa tujuan perjalanan saya? Apakah saya sekedar berupaya membuat kesan bagus untuk melindungi peran saya, waktu saya, dan ruang saya?” Tidak ada jalan tengah bagi mereka yang percaya, kata Paus. “Siapa pun yang menjadi milik Yesus hidup dengan maju ke hadapan-Nya.”

Semua kehidupan adalah “maju,” lanjut Paus, dari rahim hingga saat meninggalkan dunia ini. “Sewaktu berdoa untuk saudara kita, para Kardinal dan Uskup, yang maju dari kehidupan ini untuk bertemu dengan Yang Bangkit,” kata Paus, “kita tidak bisa melupakan perbuatan maju yang paling penting dan sulit, yang memberikan makna bagi semua yang lain yakni ‘keluar’ dari diri sendiri.” Hanya dengan keluar dari diri sendiri kita membuka pintu yang mengarah kepada Tuhan, kata Paus.

Rangsangan kedua dari Paus terinspirasi dari Bacaan Pertama 2Mak. 12:43-46. Saat itu Yudas Maccabeus melakukan perbuatan belas kasih bagi orang-orang yang gugur. “Kasih sayang terhadap orang lain membuka lebar pintu menuju keabadian. Merendahkan diri di hadapan orang yang membutuhkan guna melayani mereka adalah ruang depan menuju surga,” kata Paus.

Menurut Paus, jika amal kasih merupakan jembatan yang menghubungkan bumi ke Surga, kita harus bertanya kepada diri sendiri apakah kita sedang menuju jembatan ini. “Apakah saya tersentuh oleh situasi orang yang membutuhkan? Bisakah saya menangisi mereka yang menderita? Apakah saya berdoa bagi orang yang tak dipikirkan orang lain? Ini pertanyaan-pertanyaan tentang kehidupan, pertanyaan tentang kebangkitan,” kata Paus.

Rangsangan ketiga tentang Kebangkitan berasal dari Latihan Rohani. Santo Ignatius menyarankan agar, “sebelum membuat keputusan penting, hendaknya seseorang membayangkan diri sendiri di hadapan Allah di hari terakhir.” Ini panggilan yang tidak bisa ditunda, kata Paus, titik kedatangan kita semua. “Persis seperti menabur dinilai dari panen, demikian juga hidup dinilai baik dari akhirnya.” Latihan yang bermanfaat adalah melihat kenyataan dengan mata Tuhan, tidak hanya dengan mata kita sendiri, lanjut Paus: melihat ke masa depan, Kebangkitan, membuat pilihan “yang rasa keabadian, yang rasa cinta.”

“Apakah saya keluar dari diri sendiri untuk datang kepada Tuhan setiap hari? Apakah saya melakukan tindakan belas kasih terhadap mereka yang membutuhkan? Apakah saya membuat keputusan penting di hadapan Allah?” Paus mengakhiri homili dengan mengajak kita untuk “digerakkan oleh setidaknya satu dari tiga rangsangan ini.”

“Di antara banyak suara di dunia yang membuat kita kehilangan rasa keberadaan kita, marilah kita mendengarkan kehendak Yesus, yang bangkit dan hidup,” kata Paus. Jika kita melakukannya, “kita akan menjadikan hidup kita hari ini sebagai awal kebangkitan.”(PEN@ Katolik/paul c pati berdasarkan Vatican News)

Paus Misa Requiem di Basilika Santo PetrusPaus Misa Requiem di Basilika Santo Petrus2

Tinggalkan Pesan