Perarakan Pembukaan Bulan Misi Luar Biasa di KAJ memasuki katedral untuk Misa. Foto Hartanto Tan
Perarakan Pembukaan Bulan Misi Luar Biasa di KAJ memasuki katedral untuk Misa. Foto Hartanto Tan

Bulan Misi Luar Biasa 2019 Keuskupan Agung Jakarta (KAJ), 1 Oktober 2019, dimulai dengan peluncuran dan pendarasan Rosario Misi di Plasa Sumpah Pemuda di kompleks Katedral Santa Maria Diangkat ke Surga Jakarta, dilanjutkan dengan perarakan, Misa konselebrasi di katedral, dan kunjungan ke Museum Katedral.

Paus Fransiskus menetapkan Oktober 2019 sebagai Bulan Misi Luar Biasa dengan tema “Dibaptis  dan Diutus: Gereja Kristus dalam Misi di Dunia,” yang sekaligus memperingati 100 tahun Surat Apostolik Paus Benediktus XV, Maximum Illud, dokumen tentang misi Gereja untuk membawa kepada dunia keselamatan dari Yesus Kristus.

Misa di Katedral Jakarta yang dihadiri 1500 umat dipimpin oleh Uskup Agung Jakarta Mgr Ignatius Suharyo yang didampingi Direktur Karya Kepausan Indonesia (KKI KWI) Pastor Markus Widi Pranoto Pr, Direktur KKI KAJ Pastor Yohanes Radityo Wisnu Wicaksono Pr, dan lima imam lain.

Sebelum pendarasan Rosario Misi, Pastor Wisnu mengatakan, Rosario Misi sudah ada di Gereja secara universal dengan lima warna, yang menggambarkan doa untuk lima benua. “Warna kuning untuk karya misi di Asia, warna merah untuk karya misi di Amerika Latin dan Utara, warna putih untuk karya misi di Eropa, warna biru untuk karya misi di Australia dan warna hijau untuk karya misi di Afrika,” jelas imam itu.

Selesai berdoa Rosario, umat serta para imam, petugas liturgi dan Mgr Suharyo berarak dari Plasa Sumpah Pemuda sambil mengusung Patung Santo Fransiskus Xaverius, Patung Santa Theresia dari Kanak-Kanak Yesus (Santa Theresia Lisieux), dan Patung Bunda Maria, serta menyanyi Ave .. Ave.

Dalam homili, Pastor Pranoto menjelaskan, Maximum Illud yang dikeluarkan 30 November 1919 mengajak semua umat Katolik yang telah dibaptis untuk memberikan perhatian nyata bagi karya misi dan pewartaan Injil ke seluruh dunia. “Surat Apostolik tentang pewartaan Injil itu mempunyai tiga tujuan, pertama, memberikan dorongan agar karya misi berjalan dengan baik, kedua memberikan makna bahwa karya misi adalah pewartaan Injil, dan ketiga, menolak segala bentuk maksud terselubung di balik pelaksanaan karya misi.”

Imam itu menambahkan, meskipun Santa Theresia dari Kanak-Kanak Yesus tidak diutus untuk melakukan karya misi perutusan tapi ia sungguh-sungguh mendoakan karya misi di berbagai tempat di dunia. “Ia memiliki sikap hidup yang sederhana, penuh dengan kerendahan hati, dan menyediakan dirinya untuk Kanak-Kanak Yesus.”

Selesai Misa, umat diajak berkunjung ke Museum Katedral untuk melihat  dan mencermati karya-karya misi di Indonesia yang diawali sekitar tahun 1800-an.

Sebagai ungkapan syukur atas karya misi, kolekte Misa Pembukaan Bulan Misi Luar Biasa itu diperuntukkan bagi karya misi Keuskupan Agats, Papua, sebagai salah satu keuskupan yang masih memerlukan bantuan umat Katolik.(PEN@ Katolik/Konradus R. Mangu)

Artikel Terkait:

Bulan Misi Luar Biasa 2019 dimulai Paus Fransiskus dengan doa vesper 1 Oktober malam

Paus buka Bulan Misi Luar Biasa: Kita berdosa terhadap misi kalau jadi budak ketakutan

Foto Hartanto Tan
Foto Hartanto Tan

Tinggalkan Pesan