Eco Camp 1
Memaknai alam semesta dengan merangkai benda di sekitar Eco Camp

Oleh Suster Charlie OP

“Apa yang terjadi dengan rumah kita? Ibu kita yang jelita ini sekarang menjerit karena segala kerusakan yang kita timpakan padanya dan karena kita telah menyalahgunakan kekayaan yang telah diletakkan Allah di dalamnya. Kita bahkan berpikir bahwa kitalah pemilik dan penguasa yang berhak menjarahnya. Kekerasan dalam hati kita yang terluka oleh dosa, tercermin dalam gejala-gejala penyakit yang kita lihat pada tanah, air, udara dan semua bentuk kehidupan.

Pertanyaan dan pernyataan itu disampaikan Pastor Agustinus Sarwanto SJ kepada peserta Green Leader, kegiatan tahunan 10 hari, 3-13 September 2019, yang dilaksanakan oleh Eco Camp di Dago, Bandung. Kegiatan kali ini diikuti 32 orang, terdiri dari 30 peserta dari Yayasan Pendidikan Tarakanita, serta Maria Michailla Karina, mahasiswi Universitas Atma Jaya Yogyakarta, yang sedang magang di Eco Camp dan penulis sendiri dari Kongregasi Suster-Suster Santo Dominikus di Indonesia.

Karena itu, kata Pastor Sarwanto yang merupakan salah satu pendiri dan supervisor Eco Camp, bumi terbebani dan hancur, termasuk kaum miskin yang paling kita tinggalkan dan lecehkan. Imam itu lalu mengutip “The Dream of the Earth” (1988) tulisan Thomas Berry, yang mengatakan, “Kalau bumi menjadi tidak ramah terhadap kehadiran manusia, ini terutama karena manusia telah kehilangan rasa santun terhadap bumi dan penghuninya, rasa terimakasih, kehilangan kesediaan untuk mengakui sifat kekudusan habitat ciptaan, dan kemampuannya untuk mengagumi serta mengenali kualitas keilahian dalam setiap realitas di bumi.”

Sejak awal memasuki Eco Camp, peserta sudah diajak mencintai alam. Peserta disambut dengan acara seremonial oleh dua pendiri dan ketua atau sesepuh Eco Camp Pastor Stanislaus Ferry Sutrisna Widjaja Pr dan pendiri serta ketua manajemen Eco Camp Sherly Megawati Purnomo dengan pemberian segelas teh yang diterima dengan sikap berlutut sebagai rasa hormat kepada alam semesta.

Sesuai misinya, Eco Camp atau Sahabat Lingkungan Hidup berusaha menyebarkan kesadaran baru tentang lingkungan, sehingga semua orang yang pernah mengikuti pelatihan di sana mampu meneruskannya lewat perbuatan nyata di lingkungan masing-masing seperti di keluarga, sekolah dan masyarakat.

Misi Eco Camp adalah bersama masyarakat dunia, mengupayakan habitus baru yang berpihak pada keutuhan ciptaan, membangun generasi muda yang memiliki kesadaran akan lingkungan hidup yang lebih baik, mengembangkan pendidikan nilai berbasis lingkungan hidup, dan meningkatkan kualitas lingkungan hidup melalui edukasi, konservasi, penelitian, dan pemberdayaan masyarakat.

Maka, saya senang mendapat kesempatan dari kongregasi saya untuk menerima pengalaman sungguh berharga dalam Green Leader di Eco Camp yang berjalan dengan visi “Manusia Berkualitas. Merawat Bumi dan Berguru pada Bumi.” Apalagi, saya mendapat informasi bahwa Yayasan Sahabat Lingkungan Hidup yang menjalankan Eco Camp itu berdiri karena terinspirasi oleh Ensiklik Laudato Si’ dari Paus Fransiskus, yang menyadarkan kita untuk memahami bahwa bumi adalah rumah kita bersama yang harus dirawat, dilestarikan dan digunakan secara berkeadilan agar anak cucu kita dapat merasakan juga kesejukan dan kelimpahan ciptaan-Nya.

Pastor Sarwanto juga mengajak peserta agar memiliki harapan yang hidup, yaitu berjuang tanpa henti  mewujudkan kelestarian lingkungan dalam perjalanan hidup. “Keterpesonaan kembali terhadap bumi sebagai suatu kenyataan yang hidup adalah syarat mutlak bagi penyelamatan bumi dari kerusakan menyedihkan yang sedang kita lakukan terhadapnya. Antroposesntrisme (paham bahwa manusia itu spesies paling pusat dan penting daripada hewan) merupakan wujud kegagalan kita dalam kesadaran diri kita sebagai spesies.”

Selama di Eco Camp, peserta diajak menyapa alam dalam perjalanan semesta (Cosmic Walk) yang dikemas dalam hening dan membumi dengan penuh kesadaran. Di sini kami berhenti sejenak dari rutinitas dan merasakan betapa Allah mengasihi dengan memberi alam semesta untuk kebahagiaan manusia.

Kami pun diajak merasakan dan menghargai setiap tarikan nafas untuk mensyukuri dengan senyuman dan berterima kasih lewat salam bunga lotus. Kami bangun pukul 5.30 lalu bermeditasi dalam keheningan untuk menyapa alam dengan tarikan nafas yang dihembuskan sebagai kesadaran untuk bersyukur kepada Allah lewat alam semesta.

Kami pun “membumi” untuk mengembalikan dan menyadari hubungan kami dengan alam semesta. Tangan kami menyentuh tanah, berjalan lambat, dan memaknai alam semesta dengan merangkai benda di sekitar. Semua peserta pun memahami bahwa tanah, air, dan udara bahkan setiap tarikan nafas dan makan adalah sarana “untuk mengubah panah-panah kebencian, pengalaman luka, dan segala kepahitan menjadi bunga,” kata Shierly Megawati. Syaratnya, lanjut Ketua Yayasan Sahabat Lingkungan Hidup itu, “harus selalu dan mudah tersenyum supaya bahagia.”

Di Eco Camp, kami belajar membuka hati dan dengan penuh kesadaran menghadirkan cinta guna menemukan kebahagiaan lewat senyuman tulus. Di sana, kita diajak menyadari bahwa Allah menciptakan alam untuk kita jaga dengan merawat dan melestarikannya.

Alam telah rusak oleh kerakusan manusia secara tidak bertanggung jawab. Alam kita sakit karena alam dirusak secara liar oleh perilaku manusia dengan pembakaran hutan, penambangan secara besar-besaran, kepulan asap pabrik, sampah plastik yang menumpuk dan perilaku kita sehari-hari yang tidak mau peduli dengan alam.

Melalui pelatihan di Eco Camp kami pun semakin diteguhkan, dikobarkan, dan disemangati agar dalam perjalanan hidup kita bertekad menjadi bola lampu yang menerangi dunia, bola lampu yang tidak bisa dipadamkan karena disentuh dan dipanggil oleh Sang Empunya jagad raya untuk terlibat dan menjadi bagian “Great Turning” yaitu menyadari adanya kemungkinan dan harapan baru di masa mendatang dan selalu berusaha menemukan solusi-solusi kreatif yang dijiwai oleh harapan yang hidup dan menyala senantiasa.

Suster Theresiana CB juga memperkenalkan Ecobrick yaitu botol plastik yang diisi padat dengan berbagai sampah plastik kemudian dipadatkan untuk digunakan untuk membuat balok bangunan. Kami belajar mengurangi sampah (reduce) di TPA dengan menggunakan kembali barang yang masih layak pakai (reuse), mendaur ulang sampah (recycle), dan mengubah sampah menjadi sumber energy (waste to energy) yang dimulai dengan memilah sampah plastik dan sampah organik di rumah masing-masing.

Sebagai bentuk kepedulian merawat alam, Eco Camp juga merintis pendirian bank sampah plastik yang melibatkan warga sekitar bekerja sama dengan kepala RT/RW, membuat kebun sayur, mendirikan kandang hewan, menghasilkan sampah organik dari kotoran hewan dan sampah dedaunan dari lingkungan Eco Camp dan dari masyarakat sekitar untuk dijadikan pupuk kompos dan biokompon.

Saya masih terkenang indahnya menanam dan memakan sayuran organik di Eco Camp. Saya tak bisa melupakan malam api unggun setelah mengadakan Cosmic Walk, khususnya saat permenungan tentang penciptaan alam semesta dan manusia. “Maka, jadilah terang dan pagi hari ini,” dan semua ciptaan sungguh baik adanya. “Saya tak bisa melupakan.”*

Artikel Terkait:

Superior jenderal di Indonesia bentuk persatuan di Eco Camp

Eco CampEco Camp 2

Tinggalkan Pesan