Heraklius memikul salib (Pierre Subleyras/Public Domain)
Heraklius memikul salib (Pierre Subleyras/Public Domain)

Hari ini, 14 September, Gereja merayakan pesta Salib Suci. Pemuliaan Salib Tuhan ini dikaitkan dengan penemuannya oleh Santa Helena. Lebih dari itu pesta ini lebih merupakan ungkapan iman Gereja terhadap Salib Yesus sebagai jalan keselamatan.

Untuk merayakan pesta ini, Paul C Pati dari PEN@ Katolik menerjemahkan satu tulisan dari Philip Kosloski/Aleteia tentang Kaisar Romawi Heraklius yang harus memikul sendiri Salib Tuhan itu hingga ke puncak Golgotha:

Sekitar tahun 615 seorang raja Persia merebut Yerusalem dan merampas relikui salib Yesus Kristus yang ditemukan oleh Santa Helena. Salib itu tinggal bersama orang Persia selama sekitar 14 tahun, sampai Kaisar Heraklius dari Bizantium datang dan mengalahkan pasukan mereka.

Heraklius menemukan relikui salib Yesus itu masih disimpan dengan baik dan memutuskan untuk mengembalikannya ke Yerusalem. Saat mendekati gerbang Yerusalem, ia bermaksud membawa salib itu melalui gerbang yang sama yang digunakan Yesus dalam perjalanannya menuju penyaliban. Namun, Heraklius ingin melakukannya dengan arak-arakan kerajaan sambil menunggang kudanya.

Kemudian sesuatu yang ajaib menghalangi Heraklius melewati gerbang itu. Legenda Emas mencatat apa yang terjadi selanjutnya.

Tapi tiba-tiba batu-batu gerbang itu berjatuhan dan saling terkancing, membentuk dinding yang tak terputus. Yang mengherankan semua orang, seorang malaikat Tuhan, dengan membawa salib di tangannya, muncul di atas tembok itu dan berkata: “Ketika Raja Surga melewati gerbang ini untuk menderita kematian, tidak ada kemegahan kerajaan. Dia mengendarai keledai yang lemah, untuk memberikan contoh kerendahan hati kepada para penyembahnya.” Setelah mengucapkan kata-kata itu, malaikat itu lenyap.

Heraklius tertegun dan mulai menangis. Dia turun dari kudanya dan melepaskan semua pakaian kerajaannya, kecuali pakaian dalamnya yang sederhana. Kemudian dia mengambil relikui salib yang benar itu dan berjalan perlahan menuju gerbang. Seketika itu juga gerbang itu kembali ke posisi semula dan memungkinkan Heraclius memasuki Yerusalem.

Heraklius pun langsung berdoa dan berseru kepada Tuhan, “Oh salib, lebih indah dari semua benda-benda langit, terkenal di seluruh dunia, layak dicintai semua orang, lebih suci dari segalanya! Oh salib, engkau pantas menebus dosa dunia! O kayu yang manis, paku-paku yang manis, pedang yang manis, tombak yang manis, kalian adalah pemikul beban-beban manis! Selamatkan orang banyak yang berkumpul hari ini untuk memuji Engkau!”

Ketika relikui itu dikembalikan ke basilika, mukjizat-mukjizat berlanjut, dan menurut tradisi, “orang mati hidup kembali, empat orang lumpuh disembuhkan, sepuluh penderita kusta ditahirkan, lima belas orang buta bisa melihat, setan diusir, dan sejumlah besar orang disembuhkan dari berbagai kelemahan.”

Meskipun sifatnya legendaris, kisah-kisah itu menyoroti kekuatan salib dan hubungannya dengan kerendahan hati, bukan kemegahan kerajaan atau penampilan luar. Penyangkalan dan pengorbanan diri dituntut untuk memikul salib Yesus Kristus. Jika kita ingin memasuki Yerusalem surgawi, inilah satu-satunya gerbang yang terbuka untuk kita.***

1 komentar

Leave a Reply to RM Hardoko Mardiko Batal