82d1ea_cba52d9ebc714d80b3ee85a0a997fa4a_mv2

(Renungan Minggu ke-24 dalam Waktu Biasa [C], 15 September 2019: Lukas 15: 1-32)

Bab 15 dari Injil Lukas berisi tiga perumpamaan paling mengharukan dan indah di seluruh Alkitab. Tiga perumpamaan ini dikenal sebagai perumpamaan tentang domba yang hilang, perumpamaan tentang koin yang hilang, dan perumpamaan tentang anak yang hilang. Jika kita melihat lebih dekat ke dalam ketiga perumpamaan ini, apa yang begitu menakjubkan dan mencengangkan adalah bagaimana Yesus membengkokkan, memutar dan merentangkan logika manusia dan budaya Israel untuk menyampaikan poin terdalam-Nya.

Di Israel kuno, para gembala tahu bahwa untuk menggembalakan kawanan domba bukanlah pekerjaan yang mudah karena mereka harus memimpin kawanan mereka untuk mencari makanan dan air di tanah Palestina yang gersang. Domba secara alami adalah hewan bodoh dan tidak memiliki mekanisme pertahanan alami. Ketika seekor domba mencari makanan, ia dengan mudah tersesat dan ia bisa saja menjadi mangsa serigala, atau diambil oleh perampok. Gembala harus mengerahkan upaya ekstra untuk menjaga domba mereka. Namun, kadang-kadang, satu atau dua domba tersesat, dan gembala harus pergi untuk menyelamatkannya.

Namun, Yesus memberi tahu para pendengarnya tentang seorang gembala yang berani meninggalkan domba-domba lain untuk mencari satu domba yang hilang. Sepanjang jalan, ia mungkin menemukan bahaya yang mengancam jiwanya sendiri seperti perampok atau serigala. Tidak ada jaminan dia akan menemukan domba-dombanya yang hilang. Dia praktis mempertaruhkan nyawanya sendiri untuk domba bodoh ini. Yang bahkan luar biasa adalah bahwa setelah sang gembala menemukan hewannya yang hilang, ia sangat bersukacita. Misinya adalah sukses besar dan sekarang saatnya untuk berbagi sukacita dengan orang lain. Ini kisah yang mengharukan. Kemudian, ketika para pendengar Yesus masih terpesona, Yesus menerangkan poin utama-Nya. Dia menunjukkan bahwa Tuhan adalah gembala yang baik ini! Tuhan adalah wanita yang bersukacita atas koin kecil yang ia temukan. Tuhan adalah ayah yang menerima dan merayakan putranya yang durhaka yang kini kembali. Melalui perumpamaan-perumpamaan ini, Yesus mengajar kita bahwa Allah kita penuh belas kasihan dan kemurahan-Nya berada di luar imajinasi kita yang paling liar sekalipun. Inilah sebabnya mengapa perumpamaan ini disebut sebagai “Hati dari segala Injil” karena ketiga perumpamaan berbicara inti dari Injil yakni kerahiman Allah.

Kita masing-masing seperti domba yang hilang, koin yang hilang atau putra yang hilang. Ada waktu-waktu di dalam hidup kita, kita merasa sangat rendah dan merasa tidak berarti dan hilang. Tidak ada kebahagiaan duniawi yang dapat mengisi hati kita, sampai Yesus menemukan kita.

Carolyn Kolleger adalah model dan aktris film Amerika yang sukses. Dia dibaptis Katolik sewaktu kecil, tetapi dia tidak pernah tahu dan menghidupi imannya. Sebagai model, dia tidak pernah memikirkan hal lain selain dirinya sendiri. Dia juga menikah dengan Erwin Kolleger, seorang pengusaha, yang menikmati kesenangan duniawi. Mereka menyatakan diri sebagai orang sekuler. Mereka bergelimpangan harta, mengadakan banyak pesta, minum alkohol dan bahkan mengkonsumsi narkoba. Sampai, dia hamil. Dia tidak ingin kehilangan karirnya dan didorong oleh suaminya, dia menggugurkan bayinya. Dia melakukannya bukan hanya sekali tetapi tiga kali. Akhirnya, dia mengalami depresi, dan pernikahannya hampir runtuh. Sampai, seorang pastor datang dan membantu Carolyn dan Edwin. Mereka mulai menemui seorang pembimbing rohani yang membantu pernikahan mereka. Carolyn memutuskan untuk bertobat dan kembali ke Gereja. Dia berdoa rosario dan membaca Alkitab secara lebih teratur, dan menghadiri Ekaristi. Akhirnya, suaminya juga mengikutinya, dan membangun kembali pernikahan dan keluarga mereka bukan atas dasar harta duniawi, tetapi iman, harapan, dan kasih. Mereka diberkati dengan empat anak dan menemukan kebahagiaan sejati.

Ini adalah Tuhan kita, Tuhan yang penuh belas kasih dan penyayang yang tanpa lelah mencari putra dan putri-Nya yang hilang.

Pastor Valentinus Bayuhadi Ruseno OP

 

Tinggalkan Pesan