Paus Fransiskus menyalami Uskup Shevchuk, Primate Gereja Katolik Yunani Ukraina. (Vatican News)
Paus Fransiskus menyalami Uskup Shevchuk, Primate Gereja Katolik Yunani Ukraina. (Vatican News)

Para uskup  sedang berada di Roma untuk sinode bertema “Persekutuan dalam kehidupan dan dalam kesaksian Gereja Katolik Yunani Ukraina.” Ketika menemui mereka di Aula Konsistorium Istana Apostolik Vatikan, 3 September 2019, Paus Fransiskus merujuk artikel yang terbit akhir pekan lalu di “l’Osservatore Romano.” Paus mengatakan dia tidak berusaha “mengiklankan” surat kabar Vatikan itu, tetapi dia menyukai artikel yang membahas “kehadiran Roh Kudus dalam perjalanan sinode.” Paus mengatakan bahwa hari ini kita berada dalam bahaya mempercayai bahwa “untuk melakukan perjalanan sinodal, atau memiliki sikap sinodalitas,” berarti mengambil survei pendapat dan kemudian mencapai semacam kesepakatan. “Sinode bukan parlemen. Kalian memang harus berbicara, membicarakannya seperti biasanya, tetapi itu bukan parlemen.” Tidak seperti politik, lanjut Paus, sinode bukanlah serangkaian kesepakatan: “Saya memberi ini kepadamu, kamu memberi itu kepada saya.” Ini bukan persoalan melakukan “penyelidikan sosiologis” mengenai apa yang perlu diubah, dan bagaimana cara mengubahnya. Sinode baru menjadi sebuah Sinode, kalau Roh Kudus hadir, kata Paus. “Jika Roh Kudus tidak hadir, tidak ada sinodalitas,” lanjut Paus. “Memang, kalau tidak ada Gereja, tidak ada identitas Gereja,” tegas Paus. “Dan apa itu identitas Gereja? Santo Paus Paulus VI mengatakannya dengan jelas: panggilan Gereja adalah melakukan evangelisasi. Identitasnya adalah evangelisasi.” Paus mengajak para uskup dari Gereja Katolik Yunani Ukraina untuk memasuki sinode bersama Roh Kudus, meskipun itu berarti “saling bertengkar!” Namun, pada akhirnya, Rohlah yang memimpin mereka. “Inilah cara untuk maju,” kata Paus. (PEN@ Katolik/paul c pati berdasarkan Sala Stampa/Vatican News)

cq5dam.thumbnail.cropped.750.422 (1)

Tinggalkan Pesan