Agama-agama besar di dunia
Agama-agama besar di dunia

Sidang ke-10 Religions for Peace (Agama-Agama untuk Perdamaian) se-Dunia, yang merupakan pertemuan umat-umat beragama paling representatif di dunia, berakhir 23 Agustus 2019 di kota Lindau Jerman, dengan komitmen untuk melakukan tindakan bersama demi kebaikan bersama umat manusia.

Sekitar 900 pemimpin agama senior, 100 perwakilan pemerintah, organisasi-organisasi antarpemerintah, dan kelompok-kelompok masyarakat sipil, serta kaum muda dan wanita beragama dari 125 lebih negara berkumpul bersama, 20-23 Agustus 2019, guna membahas tema “Peduli pada Masa Depan Bersama – Memajukan Kesejahteraan Bersama.”

Setiap lima hingga tujuh tahun, Religions for Peace mengadakan pertemuan sedunia dengan maksud menempa konsensus moral yang mendalam tentang tantangan kontemporer dan memajukan aksi-aksi multi-agama di dan di luar jaringannya.

Pertemuan berakhir dengan deklarasi komitmen peserta, atas nama umat dan kelompok mereka, untuk memajukan kesejahteraan bersama dengan mencegah dan mengubah konflik kekerasan, meningkatkan masyarakat yang adil dan harmonis, memelihara pengembangan manusia yang berkelanjutan dan integral, serta melindungi bumi.

Secara konkret, mereka berjanji untuk “meningkatkan peran positif perempuan dalam mencegah dan mengubah konflik, serta tentang masalah kekerasan terhadap mereka; berupaya demi kesejahteraan para pengungsi dan kaum migran.”

Mereka memutuskan untuk meningkatkan kesadaran publik tentang deforestasi, bertindak terhadap perubahan iklim dan mengadvokasi kebijakan yang melindungi bumi. Dalam hal ini, Religions for Peace mendesak umat-umat beragama untuk “menginvestasi sumber-sumber daya mereka selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan dan mendukung Kampanye Internasional untuk Menghapuskan Senjata Nuklir.”

Selain itu, mereka berjanji mendorong aksi-aksi publik untuk pengampunan dan rekonsiliasi dan berjanji memproduksi materi perdamaian yang positif dan lokakarya-lokakarya untuk konteks multi-agama. Mereka menyatakan prihatin terhadap beban, seperti perang, kemiskinan, pengungsi, kaum migran, perlombaan senjata dan pemanasan global. Semua itu, kata mereka, sangat membebani keluarga manusia. Dalam upaya hak asasi manusia, para anggota memutuskan menumbuhkan solidaritas dengan memupuk kebajikan seperti belas kasih, kasih sayang dan cinta, yang umum untuk semua agama.

Anggota-anggota Religions for Peace, yang menganggap dirinya “aliansi kepedulian, belas kasih, cinta,” berterima kasih atas 49 tahun “fokus mereka dalam membangun perdamaian dan dalam berbicara untuk orang yang paling membutuhkan.” Pertemuan Religions for Peace ke-10 yang diikuti peserta dari berbagai zona konflik dunia itu menggarisbawahi komitmen kelompok untuk mencegah konflik dan meningkatkan perdamaian di dunia.(PEN@ Katolik/pcp berdasarkan laporan Robin Gomes/Vatican News)

Tinggalkan Pesan