Uskup Manado Mgr Rolly MSC dalam homili Misa Pembukaan Lokakarya Rukun Kemasyarakatan KWI (PEN@ Katolik/ferka)
Uskup Manado Mgr Rolly MSC dalam homili Misa Pembukaan Lokakarya Rukun Kemasyarakatan KWI (PEN@ Katolik/ferka)

Akibat stigma terhadap perempuan sebagai orang lemah, dinomorduakan dan rentan dengan kekerasan, serta budaya bias gender, sejumlah kejadian tak mengenakkan sering dialami perempuan yang bahkan menjadi korban kekerasan. Selain itu, perempuan sering mendapat perlakuan tidak adil karena hanya bekerja di rumah sesuai keinginan dan perkataan suami, dan sebagai pribadi bermartabat perempuan masih sering dipandang sebelah mata.

Namun, tidak sedikit perempuan kurang menyadari dirinya amat bernilai dan bermartabat dan dengan berbagai alasan mereka sengaja menggunakan dirinya untuk mengejar kesenangan dan mendapatkan keuntungan.

Sejumlah persoalan itu menjadi latar belakang diselenggarakannya Workshop Rumpun Kemasyarakatan KWI dengan tema “Memberdayakan dan Menghormati Martabat Perempuan” di Panti Samadi Tomohon, Sulawesi Utara, 9-10 Agustus 2019.

Lebih dari 80 peserta utusan organisasi gereja, yang bernaung di bawah koordinasi Komisi Keluarga dan Gender (Komkel), Komisi Kerasulan Awam (Kerawam), Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan (HAK), Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) dan Komisi Keadilan, Perdamaian dan Pastoral Migran-Perantau (KPPMP), ambil bagian dalam kegiatan itu.

Menurut koordinator workshop itu, Selvi Rumampuk (Ketua Komkel Keuskupan Manado),  narasumber kegiatan itu berasal dari komisi-komisi dalam rumpun kemasyarakatan KWI yakni Sekretaris Sekretariat Gender dan Pemberdayaan Perempuan KWI Suster  Maria Natalia OP, yang membawakan materi tentang Pemahaman Gender dan Pemberdayaan Perempuan, Pastor Antonius Nugroho Bimo Prakoso tentang Gender dan Permasalahannya, Pastor Eko Aldianto OCarm tentang Pemberdayaan Berdimensi Keadilan Menurut Gereja Katolik, Pastor Ewaldus Pr tentang Kontribusi PSE dalam Pemberdayaan Ekonomi Umat atau Keluarga, Pastor Agustinus Heri Wibowo Pr tentang Toleransi dan Sikap Gereja Katolik terhadap Agama Lain dan Pastor Christian Siswantoko Pr tentang Perempuan dan Politik.

Ketua-ketua komisi dari Keuskupan Manado yakni Pastor Dammy Pongoh Pr dari Komisi HAAK, Pastor Kristianus Ludong Pr dari Komisi Kerawam, Pastor Joy Derry Pr Komisi PSE dan Pastor Steven Lalu Pr dari Komisi Komsos bertindak sebagai moderator.

Rumampuk mengatakan kepada PEN@ Katolik, ada lima tujuan dari workshop itu, yakni, “meningkatkan pemahaman akan kesetaraan gender, membangun persepsi dan perilaku yang ramah gender, mengurangi eksploitasi terhadap perempuan, memberdayakan perempuan di bidang ekonomi dan politik, serta membangun sinergi antarkomisi dan lembaga di Keuskupan Manado.

Workshop dua hari itu diawali dengan Misa yang dipimpin Uskup Manado Mgr Benedictus Estephanus Rolly Untu MSC, yang yang mengapresiasi pelaksanaan kegiatan yang, kata uskup, “mencerahkan semua pihak tentang pemberdayaan perempuan dan memiliki keterkaitan erat dengan upaya Keuskupan Manado untuk membangun sinergitas antarkomisi yang ada di Keuskupan Manado.”

Menurut Mgr Rolly, perlu upaya memberdayakan perempuan. “Diberdaya bukan memperdaya,” tegas uskup saat memberikan sambutan seraya berharap workshop itu menambah motivasi kegiatan pemberdayaan perempuan termasuk di Keuskupan Manado.(PEN@ Katolik/A. Ferka)

Peserta workshop dan Suster Maria Natalia OP (PEN@ Katolik/ferka)
Peserta workshop dan Suster Maria Natalia OP (PEN@ Katolik/ferka)

Tinggalkan Pesan