Cosmas Batubara tirto.id
Cosmas Batubara tirto.id

“Bahwa kami diberikan seorang ayah, seorang bapak yang begitu baik kepada kami. Ia mengajarkan kami kasih sayang terhadap kami penuh cinta sehingga kami sekarang dapat bersama-sama merayakan cinta kasih, sebuah celebration of love dalam misa kudus ini.”

Perkataan Arthur Batubara, putra Cosmas Batubara, mantan Menteri Tenaga Kerja era Presiden Soeharto dan Ketua Umum PMKRI Jakarta bahkan Ketua Presidium Pengurus Pusat PMKRI, itu terdengar dalam Misa Requiem di Gereja Santa Theresia, Menteng, Jakarta Pusat, 10 Agustus 2019, seperti dikutip oleh detikNews.

Aktivis PMKRI serta pelopor gerakan mahasiswa angkatan 1966 dan anggota aktif partai Golkar, yang menikah dengan RA Cypriana Pudyati Hadiwidjana dan dikaruniai dua putra dan dua serta sudah memiliki enam cucu itu lahir di Purbasaribu, 19 September 1938, dan meninggal di RSCM Jakarta 8 Agustus 2019, pukul 03.27 WIB, karena kanker limfoma.

“Bapak mengajarkan kami empati, mengajarkan kami bagaimana memahami sesama. Beliau sangat penuh kasih, dan selalu mencoba mencari tahu apa yang terjadi dengan empati … Bapak mengajarkan kami integritas. Terima kasih bapak mengajarkan kami kesetiaan sama seperti beliau setia kepada Allah, beliau selalu setia di mana tempat beliau mengabdi,” lanjut Arthur.

Arthur juga menambahkan bahwa ayahnya sudah mengajarkan anak-anaknya untuk membangun bangsa. ”Kami selalu ditanamkan 100% Indonesia dan 100% Katolik,” tegasnya.

Anak lelaki lainnya, Hendra Batubara, atas nama keluarga, lalu menyerahkan jenazah Cosmas Batubara kepada pemerintah untuk dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Nasional Kalibata dengan upacara militer. Setelah dibawa ke Kementerian Tenaga Kerja untuk pelepasan, jenazah dibawa ke TMP Kalibata.

Setelah menjadi aktivis mahasiswa, Cosmas Batubara menjadi anggota DPR dari Fraksi Karya Pembangunan atau Golkar (1967-1978), Menteri Muda Urusan Perumahan Rakyat (1978-1983), Menteri Negara Perumahan Rakyat (1983-1988), dan Menteri Tenaga Kerja (1988-1993). Dia dikenal dengan konsep kota satelit di Depok, Bekasi, dan Tangerang, dan rumah susun seperti Rusun Klender dan Tanah Abang dan Perumnas.

Cosmas Batubara, yang kemudian menjadi dosen tamu dan mengajar masalah perburuhan di Fisip UI, dan tahun 2002 meraih doktor di UI pada usia 64 tahun dengan disertasinya “Hubungan Industrial di Indonesia.”

Cosmas Batubara pernah menjadi Ketua Yayasan PPM yang menjalankan Sekolah Tinggi Manajemen PPM, Wakil Ketua Yayasan Universitas Pancasila Jakarta, Ketua Dewan Penyantun Yayasan Atmajaya Jogjakarta, Ketua Pembina Yayasan STIE Triguna Bogor, Ketua Pengurus Yayasan Santo Thomas yang menaungi Universitas Katolik Santo Thomas Medan, dan Rektor Podomoro University.

Selain itu, Cosmas Batubara pernah menjabat Komisaris Independen dari Group Ciputra, Agung Podomoro Land, Intiland, Metropolitan Kencana, serta Komisaris Utama PT Multi Bintang Indonesia dan Direktur Utama PT Agung Podomoroland.

Menurut Elias S Dabur, Eks Ketua PMKRI Jogja dan Sekjen PP PMKRI 2005-2006, perjalanan hidup, karir dan karya Cosmas Batubara merupakan contoh hidup kader sejati, kader paripurna, kader yang dalam rumusan Pater Beek SJ adalah orang yang “bisa menggetarkan dunia,” merombak keadaan masyarakat dengan kelompok kecil, menjadi tulang punggung masyarakat, atau menjadi inti dalam kehidupan masyarakat.

Menjadi kader berarti menjadi suatu yang lain dari yang lain, keranjingan dalam menjalankan apa yang dipikirkan dalam batas-batas yang ditentukan moral dan etika, kutip Elias seraya berharap lewat Facebooknya agar anggota PMKRI dan orang muda, mahasiswa dan masyarakat umumnya yang masih punya semangat belajar dan memiliki spirit untuk terus maju “meneladani spirit hidup dan kehidupan bertujuan sebagaimana dilakonkan dengan sangat baik oleh Cosmas Batubara.” (PEN@ Katolik/paul c pati)

Misa Requiem Cosmas Batubara di Gereja Theresia Menteng Jakarta (Foto detikcom)
Misa Requiem Cosmas Batubara di Gereja Theresia Menteng Jakarta (Foto detikcom)

Tinggalkan Pesan