Menurut FAO,  kelaparan meningkat di seluruh dunia dalam tiga tahun terakhir
Menurut FAO, kelaparan meningkat di seluruh dunia dalam tiga tahun terakhir

“Umat manusia belum cukup melakukan tugasnya untuk saudara-saudaranya yang paling miskin.” Mgr Fernando Chica Arellano, Pengamat Tetap Tahta Suci untuk Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO), Dana Internasional untuk Pengembangan Pertanian (IFAD) dan Program Pangan Dunia (WFP), membuat pernyataan itu berkaitan dengan laporan tahunan PBB tentang kelaparan dunia.

Diperkirakan 820 juta orang tidak memiliki cukup makanan tahun 2018, naik dari 811 juta tahun sebelumnya, demikian FAO, IFAD, WFP, Dana Anak PBB (UNICEF) dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam laporan bersama yang mereka dirilis 15 Juli 2019.

Menurut laporan “Keamanan Pangan dan Gizi di Dunia” 2019, setelah hampir satu dekade, jumlah orang yang menderita kelaparan perlahan-lahan meningkat selama tiga tahun terakhir, sekitar satu dari setiap sembilan orang sedunia menderita kelaparan hari ini.

Laporan itu adalah bagian dari pemantauan kemajuan menuju Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals, SDG) Nomor 2 dari “Zero Hunger” (nol kelaparan), yang bertujuan untuk memberantas kelaparan, meningkatkan ketahanan pangan dan mengakhiri semua bentuk kekurangan gizi di tahun 2030.

“Kelaparan terus bertambah … Jumlahnya benar-benar sangat memprihatinkan,” kata Mgr Chica Arellano kepada Vatican News.

Asia memiliki jumlah orang kelaparan tertinggi sebanyak 513,9 juta, diikuti Afrika dengan 256,1 juta dan Amerika Latin dengan 42,5 juta.

Di Afrika Timur, sekitar sepertiga populasi (30,8%) kekurangan gizi. Ini diperburuk oleh faktor-faktor seperti perubahan iklim, konflik dan krisis ekonomi.

Angka-angka itu, kata diplomat Vatikan itu, tidak hanya menyoroti “kekejaman kelaparan” tapi juga fenomena obesitas. Dengan 672 juta orang dewasa gemuk di dunia, atau 1 dari 8, masalahnya bukan hanya “kurang makanan” tapi juga “kurang gizi”. Orang-orang dalam kedua kasus itu, sekarang tidak hidup enak dan masa depannya tidak cerah, katanya.

Dikatakan, masyarakat internasional benar-benar harus berbuat lebih banyak. Tidak ada niat menghilangkan penyebab-penyebab buatan manusia, seperti konflik, krisis ekonomi dan perubahan iklim adalah tiga faktor yang terus menambah momok itu, kata Mgr Chica Arellano.

Mengingat nasihat Paus Fransiskus, diplomat itu menunjukkan bahwa semua orang bisa ikut memberantas momok kelaparan di dunia. “Pertama-tama, jangan buang makanan; lalu, jangan seperti imam atau orang Lewi yang lewat depan orang miskin dengan memejamkan mata atau tidak mendengarkan tangisan orang lapar,” katanya. Demikian juga, inisiatif-inisiatif menginspirasi sedang dibuat di paroki, LSM dan tingkat lain, “tetapi masih banyak yang bisa dilakukan.”

Menurut pejabat Tahta Suci itu, laporan PBB harus menjadi motif untuk berbuat lebih banyak dan masyarakat internasional harus tumbuh dalam solidaritas, karena solidaritas yang merupakan investasi dalam perdamaian adalah cara memberantas kelaparan. “Kalau kita tidak memberantas kelaparan, saya percaya semua SDG lain dari Agenda 2030 tidak akan tercapai,” katanya.

SDG No. 1 “No poverty” (tidak ada kemiskinan) dan SDG No. 2 “Zero Hunger,” kata Mgr Chico Arellano, sangat mendasar dalam mencapai 15 tujuan tersisa bersama tuntutan agar tidak ada yang tertinggal.

Diplomat itu mengingat perkataan Paus kepada para anggota konferensi FAO dalam pertemuan di Vatikan bulan lalu bahwa kelaparan adalah masalah yang harus melibatkan semua orang karena penderitaan seorang manusia adalah penderitaan semua orang.

Bapa Suci juga mengimbau penggunaan air secara baik, produksi makanan serta pembagian secara adil, karena ada negara-negara yang mengalami surplus makanan, ada negara yang seluruh wilayahnya, terutama di Afrika, kekurangan makanan. Ketidaksetaraan ini benar-benar kejam, lanjut Paus. (PEN@ Katolik/pcp berdasarkan laporan Robin Gomes/Vatican News)

Tinggalkan Pesan