Somar 2
Pastor Lambertus Somar MSC mengunjungi pembangunan SMA Entrepeneurship Chevalier Anasai (ECA) yang sudah dimulai 15 Juli 2019

“Impian itu telah menjadi kenyataan.” Dengan bangga pernyataan itu diungkapkan oleh seorang misionaris yang lahir di Desa Senam, Merauke, Papua, dan kini memasuki usia 87 tahun, anak dari keluarga katekis awam, pemimpin jemaat, dan guru agama di pedalaman, yang bercita-cita melanjutkan misi orangtua dalam bidang pendidikan bagi anak-anak Papua.

Nama misionaris dari Tarekat Misionaris Hati Kudus Yesus (MSC) itu adalah Pastor Lambertus Somar MSC. Imam itu sudah memberikan dukungan bagi pendidikan calon imam dan guru serta tokoh-tokoh awam di Papua, namun ia mengalami bahwa perhatian pada pendidikan dasar sesungguhnya menjadi sesuatu yang mendesak untuk Papua saat ini, khususnya dalam mempersiapkan anak-anak yang mampu mandiri dan siap bekerja.

“Saya senang sudah ada bangunan-bangunan ini. Kita akan terus berjuang, dengan banyak orang lain untuk mengembangkan sekolah ini. Saya juga terus berjuang agar pendidikan yang lebih baik dan modern bisa dialami anak-anak Papua. Mereka harus mandiri dan bisa bersaing dengan orang lain di berbagai daerah,” kata Pastor Somar dalam kunjungan perdana ke kompleks SMA Entrepeneurship Chevalier Anasai (ECA), sekitar 46 km dari Merauke, 12 Juli 2019.

Untuk bisa mandiri, anak-anak akan diberikan pembekalan keahlian lewat laboratorium dan balai latihan kerja di bidang pertanian, peternakan, perikanan dan perbengkelan, dan “diajarkan untuk bisa memproduksi hasil asli dari Papua yang bisa dijual dan dipromosikan.”

SMA ECA dengan prioritas anak-anak Papua itu memulai tahun ajaran baru 15 Juli 2019 dengan 62 peserta didik dari berbagai daerah Papua, di antaranya Merauke, Kepi, Mindiptanah, Boven Digoel, dan Asiki.

Menurut penjelasan dari Yayasan Amambekai Chevalier, prioritas pertama untuk bersekolah di sekolah dengan pola pendidikan berasrama itu diberikan kepada anak-anak Papua yang yatim dan piatu. Pembangunan asrama putera dan puteri untuk menampung jumlah siswa yang diterima itu sedang diselesaikan oleh pengelola sekolah yakni Tarekat MSC Daerah Papua.

Pastor Miller Senduk MSC yang mengetuai yayasan itu menegaskan, “Kami sudah mulai Minggu Orientasi Sekolah (MOS) tanggal 15 Juli di Merauke. Kami akan mempersiapkan segala sesuatu, khususnya berbagai fasilitas dan kami akan efektif menggunakan lokasi sekolah bulan Agustus 2019.”

Meskipun akan menyediakan segala sesuatu untuk proses belajar dan kehidupan di asrama, SMA ECA tidak akan memberatkan keluarga dengan biaya studi dan asrama, karena sejak awal, Pastor Somar dan para imam serta bruder MSC berharap sekolah itu menjadi “sekolah gratis untuk memberikan kesempatan bagi anak-anak asli Papua.”

Dalam kunjungan itu, Pastor Somar bertemu dan memberi motivasi kepada 11 guru yang diterima untuk mengajar di sekolah itu. “Kita bersama-sama mau membangun Papua dalam bidang pendidikan dan sumber daya manusia. Saya senang bahwa kamu punya tekad yang sama. Pekerjaan ini milik kita bersama. Kita berjuang untuk sesuatu nilai istimewa yakni mengembangkan kemanusiaan. Saya tidak bisa sendirian. Kita bekerja sama dengan Tarekat MSC yang memiliki sekolah ini, dan para donatur serta pemerintah yang tetap mendukung pembangunan sekolah ini,” kata Pastor Somar.

Maria Lay Wermasubun yang mendapat bantuan studi S2 dari Pastor Somar dan Yayasan Kasih Mulia (YKM) Jakarta mengatakan, “Saya mau mengabdi di sekolah ini, saya sudah dibantu dan akan membantu orang lain juga untuk maju.”

Paskalis Tethool, yang juga kepala sekolah SMPN di Buti, Merauke, mengatakan, “Sudah lama saya bergerak di bidang pendidikan di Papua. Saya juga akan berjuang untuk mengembangkan SMPN Buti dalam pola pendidikan asrama. Saya berharap beberapa anak dari SMP itu akan menjadi pintu masuk untuk melanjutkan ke SMA ECA Merauke.”

Tanggal 13 Juli 2109 di sebuah hotel di Merauke, Pastor Somar sebagai ketua YKM duduk bersama beberapa konfraternya untuk membicarakan SMA yang baru itu. Mereka adalah, Pimpinan MSC Daerah Papua Pastor Joni Astanto MSC, Dewan Daerah MSC Papua Pastor Hengki Kariwop MSC, Pastor Miller Senduk MSC, Kepala Sekolah SMA Santo Joseph Tanah Merah Pastor Joseph Jorolan MSC, dan Bendahara MSC Papua Bruder Marfel Kabuhung MSC serta beberapa pemerhati pendidikan di Merauke yakni Pascalis Tethool, Yanna Somar dan Maria Lay Wermasubun, serta Murti dari YKM Jakarta.

Pembicaraan itu merekomendasikan agar, pertama, Pimpinan MSC Daerah Papua membenahi dan membaharui kepengurusan Yayasan Amambekai Chevalier; kedua, Pimpinan MSC menentukan SDM yang memberikan fokus untuk sekolah ini; ketiga melengkapi seluruh fasilitas dan sarana sekolah dalam waktu dekat; dan keempat, MSC Papua membangun kerja sama berkelanjutan dengan YKM Jakarta. (PEN@ Katolik/Patrisius Jeujanan MSC)

Pembicaraan tentang SMA Entrepeneurship Chevalier Anasae (ECA) di sebuah hotel di Merauke
Pembicaraan tentang SMA Entrepeneurship Chevalier Anasai (ECA) di sebuah hotel di Merauke
Sebuah lokakarya untuk persiapan SMA Entrepeneurship Chevalier Anasae
Sebuah lokakarya untuk persiapan SMA Entrepeneurship Chevalier Anasai

Tinggalkan Pesan