Paus Fransiskus bersama kaum migran dalam Misa di Basilika Santo Petrus. (Vatican Media)
Paus Fransiskus bersama kaum migran dalam Misa di Basilika Santo Petrus. (Vatican Media)

Ketika baru menjadi Paus selama empat bulan, Paus Fransiskus sudah melakukan kunjungan pastoral pertama ke luar Roma yakni ke Lampedusa, pulau kecil di antara Sisilia dan pantai Afrika Utara, yang menjadi salah satu titik masuk utama ke Eropa bagi para migran dan pengungsi yang mencoba menyeberangi Mediterania.

Di sana, tanggal 8 Juli 2013, Paus berbicara tentang “globalisasi ketidakpedulian.” Hasilnya, kata Paus saat itu, adalah masyarakat yang “lupa cara menangis.” Sejak itu, setiap tahun Paus mengenang kunjungan itu dengan Misa khusus untuk para migran. Sekitar 250 orang menghadiri Misa Paus tahun ini yang dirayakan di Altar Kursi di Basilika Santo Petrus.

Sebagian besar yang hadir pada Misa 8 Juli adalah migran, pengungsi, dan “orang-orang yang berdedikasi untuk menyelamatkan hidup migran dan pengungsi.” Mereka semua khusus diundang oleh Bagian Migran dan Pengungsi dalam Dikasteri Peningkatan Pengembangan Manusia Integral, yang bertanggung jawab mengatur acara itu.

Homili Paus terfokus pada Bacaan Pertama dari Kitab Kejadian yang menggambarkan mimpi Yakub tentang tangga tempat dia melihat malaikat naik dan turun. Tangga mewakili “hubungan antara manusia dan Yang Ilahi,” kata Paus. “Inilah alegori tindakan ilahi yang mendahului semua aktivitas manusia … antitesis dari Menara Babel yang dibangun oleh manusia dengan kekuatan mereka sendiri.” Dihadapkan dengan wahyu itu, lanjut Paus, Yakub menaruh kepercayaannya kepada Tuhan dan meminta perlindungan “untuk perjalanan sulit yang mesti dilakukannya.”

Beralih ke kata-kata Mazmur, “Allahku, pada-Mulah aku percaya,” Paus menekankan bagaimana Tuhan melindungi mereka “yang memanggil-Nya di saat mengalami kesusahan besar,” terutama kalau kita tahu bahwa “keamanan dunia hanya memberikan nilai sedikit, dan hanya Tuhan yang tetap ada.” Dalam Injil Matius, lanjut Paus, Yesus memberikan “pembebasan dari penyakit dan kematian.” Paus juga mengungkapkan “perlunya pilihan untuk yang paling kecil,” untuk orang miskin.

“Di ulang tahun keenam kunjungan ke Lampedusa ini, pikiran saya terarah pada ‘yang paling kecil’,” kata Paus, yang “setiap hari berseru kepada Tuhan, meminta dibebaskan dari kejahatan yang menimpa mereka.” Paus lalu memberikan contoh-contoh konkret dari orang yang dia anggap “paling kecil” yakni yang “ditinggalkan dan ditipu hingga sekarat di padang pasir,” yang “disiksa, dilecehkan dan diganggu di kamp-kamp tahanan,” atau “yang menghadapi ombak laut yang tak kenal ampun,” yang “terlalu lama berada dalam penampungan sehingga bukan lagi disebut penampungan sementara.”

Kaum migran, tegas Paus, adalah “simbol dari semua yang ditolak oleh masyarakat global saat ini.” Kembali pada gambaran tangga Yakub, Paus mengatakan, “hubungan antara bumi dan surga dijamin dan dapat diakses oleh semua orang. Namun menaiki tangga ini membutuhkan komitmen, upaya dan rahmat. Yang paling lemah dan paling rentan harus dibantu.” (PEN@ Katolik/paul c pati berdasarkan Vatican News)

https://youtu.be/WynfP3pgFvA

Tinggalkan Pesan