Posko Mudik Bersama yang digagas  Gerakan Agamawan Muda Lintas Iman Kabupaten Semarang menyajikan hidangan buka puasa atau sahur serta tempat istirahat dan terapi otot gratis bagi pemudik. PEN@ Katolik/lat
Posko Mudik Bersama yang digagas Gerakan Agamawan Muda Lintas Iman Kabupaten Semarang menyajikan hidangan buka puasa atau sahur serta tempat istirahat dan terapi otot gratis bagi pemudik. PEN@ Katolik/lat

Seorang pemudik dengan sepeda motor, yang membawa barang cukup banyak, masuk ke area Gereja Katolik Kristus Raja Ungaran hari Senin, 3 Juni 2019 siang, dan memarkirkan kendaraannya dekat Posko Mudik Bersama. Wajahnya tampak lelah. Ia ingin istirahat sesaat untuk menghilangkan penat. Ia pun disambut para relawan Posko Bersama.

Kegiatan Posko Mudik Bersama selama Ramadhan yang digagas oleh Gerakan Agamawan Muda Lintas Iman Kabupaten Semarang menyajikan hidangan buka puasa atau sahur bagi pemudik yang singgah di posko itu. Bagi yang tak puasa disediakan makanan dan minuman. Yang lelah bisa istirahat tidur sesaat, yang pegal-pegal bisa mendapat pelayanan terapi otot dan syaraf secara gratis.

Koordinator Bidang Pelayanan Masyarakat Paroki Ungaran, Fransiskus Xaverius Pardiman, mengatakan kepada PEN@ Katolik, Posko Mudik tahun ini merupakan hasil pembicaraan Gerakan Agamawan Muda Lintas Iman Kabupaten Semarang.

Dia berharap, momentum Idul Fitri menjadi momentum untuk mengakrabkan kembali dan mengikat tali silaturahmi di antara elemen bangsa. “Maka, sepakat diadakan posko mudik bersama lintas iman,” jelasnya.

Di posko itu, petugas dari berbagai agama bersama-sama melayani pemudik secara bergantian dalam tiga shift. Sejumlah umat Katolik, anggota Ansor dan Banser, IPPNU serta pendeta turut menjaga posko yang dibangun di halaman Gereja Ungaran dan di depan Masjid Istiqomah yang terletak berseberangan persis dengan gereja itu.

Kegiatan itu, harap Pardiman, berlangsung terus. “Kita kan jalin komunikasi dengan saudara-saudara lintas iman dengan keakraban yang tulus dari hati dan jadi keseharian, keakraban yang tidak dibuat-buat tetapi berdasarkan realita bahwa kita butuh sehari-hari,” katanya.

Anggota Banser Ranting Ungaran Barat, Ahmad Avin Nurdia, yang siang itu bertugas di posko menyampaikan kegembiraannya. Kegiatan itu positif terutama menyambut momen mudik “sehingga kita bisa menggugah rasa kemanusiaan dan bila ada orang lain melaksanakan kegiatan setidaknya kita membantu,” katanya kepada media ini.

Selain itu, dia melihat kegiatan itu bisa membangun keakraban di antara umat lintas agama, sehingga “ketika melakukan misi kemanusiaan, yang diajarkan agama, tidak ada sekat untuk semua orang.” Dia berharap kegiatan itu meringankan tugas aparat kepolisian dalam memperlancar kegiatan mudik.

Robertus Wiyanto dan Endang serta beberapa relawan siang itu tampak sibuk menyiapkan segala keperluan untuk melayani pemudik yang singgah di posko itu. “Tujuan utama kita adalah membantu pemudik. Semoga ini menjadi sesuatu yang positif bagi pemudik. Pemudik bisa istirahat, bisa minum dan makan, ada pengobatan,” ujar Wiyanto.

Kerja sama antara umat Paroki Ungaran dan Masjid Istiqomah terjalin baik. Di saat Idul Fitri, misalnya, umat Islam yang shalat Ied bisa memarkir kendaraannya di area parkir gereja. Demikian pula ketika Natal, jika parkiran gereja penuh, umat Katolik memarkirkan kendaraannya di area parkir masjid. (PEN@ Katolik/Lukas Awi Tristanto)

Tinggalkan Pesan